728x90 AdSpace

15 August 2014

Contoh Teks Diskusi tentang Bolehkah Anak Memiliki Akun Facebook

Contoh Teks Diskusi tentang Bolehkah Anak Memiliki Akun Facebook-- Teks diskusi adalah teks yang berisi pembahasan suatu masalah dengan mempertimbangkan untung-rugi, positif maupun negatifnya dengan alasan yang masuk akal. Teks diskusi memiliki ciri: 1. Strukturnya terdiri atas: Isu, Argumen Mendukung, Argumen Menentang, dan Simpulan/ Saran; 2. Memuat informasi yang bersifat informatif-argumentatif; 3. Ciri kebahasaannya menggunakan kata hubung perlawanan (tetapi, sedangkan, dan sebagainya).
Berikut contoh teksnya:
Saat ini, anak-anak dikelilingi oleh iPad, video game, dan gadget lain yang membuat mereka bisa terkoneksi dengan dunia maya. Jejaring sosial yang bertebaran, misalnya Facebook, memberi stimulus bagi anak untuk tak mau lepas dari gadget itu. Persoalan bertambah terkait etis-tidaknya anak-anak memiliki akun Facebook, dan ini menjadi dilema yang harus segera dipecahkan oleh para orangtua. Namun, argumen mengenai kepemilikan akun Facebook jauh lebih sulit. Sebab, kenyataannya Facebook memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan saat orangtua hendak membolehkan atau melarang anak membuat akun jejaring sosial ini.

Apa saja manfaat Facebook? Saat ini tidak ada yang bisa menyangkal bahwa Facebook telah mengubah cara interaksi sosial, terutama di kalangan kaum muda. Facebook memungkinkan anak untuk menjalin pertemanan dengan banyak orang. Ketika digunakan dengan cara yang benar, media sosial dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dan membantu mereka mengurangi perasaan kesepian, terisolasi, dan tidak memiliki teman.
Dengan memiliki profil Facebook, memberikan anak "halaman rumah" di web, tempat di mana mereka dapat mengekspresikan diri dan berbicara tentang minat dan kepentingan mereka. Mereka bisa bergabung dengan komunitas-komunitas tertentu, dan mencari tahu banyak tentang bidang-bidang yang membuat mereka tertarik seperti lingkungan, hewan, seni, atau musik.

Mengelola halaman Facebook mengajarkan anak bagaimana menulis komentar dan mengunggah foto, atau bagaimana menavigasi web. Anak dapat menguasai keterampilan media sosial yang nantinya akan semakin penting ketika usia mereka bertambah.
Yang tak kalah pentingnya, sebagian besar anak menggunakan jejaring sosial untuk membahas pekerjaan sekolah. Diskusi bersama tentang tugas sekolah adalah salah satu alasan terbaik untuk memperbolehkan mereka mengakses jejaring sosial. Bahkan, dari hasil studi Profesor Larry D. Rosen dari California State University mengungkapkan bahwa situs jejaring sosial juga dapat membantu proses pengajaran antara guru dengan murid. Facebook juga bisa digunakan untuk menunjukkan rasa empati kepada teman-teman online mereka.

Selain sisi menguntungkan (positif) tersebut, Facebook juga mempunyai sisi merugikan (negatif). Jejaring sosial memberikan kebebasan atau ruang untuk mengekspresikan diri dengan berkomentar. Namun komentar yang dikeluarkan bisa saja menyinggung orang lain. Kalaupun anak tidak melakukannya, ia menjadi terbiasa dengan ejekan, olok-olok, web bullying, dan semacamnya yang ia baca dari status teman. Bisa saja anak mengganggap hal tersebut sesuatu yang lumrah, lalu melontarkannya pada orang di lingkungan sekitar. Akibatnya, terjadi pergeseran nilai tentang kesantunan yang orangtua tanamkan selama ini.

Facebook adalah pintu gerbang dunia maya. Segala sesuatu, baik hal-hal yang baik maupun yang buruk dapat terhubung ke akun Facebook anak. Sering kali bukan teman anak yang memberi pengaruh buruk, melainkan teman-teman dari temannya.
Hasil studi Profesor Larry D. Rosen dari California State University juga mengungkap beberapa efek buruk dari Facebook, termasuk narsisme yang sering menghinggapi anak yang memakai situs jejaring sosial tersebut, perilaku antisosial, kecenderungan berperilaku agresif, dan mudah marah.
Studi yang disebutkan oleh Rosen menyatakan bahwa murid sekolah dan kuliahan yang membuka Facebook setidaknya 15 menit ketika sedang belajar, cenderung mendapatkan nilai yang rendah.

Melarang anak memiliki akun Facebook bukanlah cara yang bijak karena bisa saja anak lari ke rumah temannya atau warnet yang bertebaran dan membuat akun sendiri. Menggunakan software pengawas juga akan buang-buang waktu saja. Anak-anak zaman sekarang akan mudah mencari pemecahannya hanya dalam waktu hitungan menit. Komunikasi adalah inti dalam menjadi orangtua. Orangtua harus berbicara atau mendengarkan anak mereka secara baik.
Apapun keputusan orangtua tentang Facebook, cobalah untuk membuat keputusan dan kesepakatan bersama anak sebelum membuat akun.

Struktur teks:
- Isu: "Saat ini, anak-anak dikelilingi oleh......dst."
- Argumen Mendukung: "Apa saja manfaat Facebook?......dst."
- Argumen Menentang: "Selain sisi menguntungkan (positif) tersebut......dst."
- Simpulan: "Melarang anak memiliki akun Facebook......dst."

Sumber referensi:
http://techno.okezone.com/read/2011/08/08/55/489547/facebook-miliki-keuntungan-dan-kerugian-bagi-remaja/large
http://female.kompas.com/read/2013/03/15/08510338/Keuntungan.dan.Kerugian.Facebook.untuk.Anak.
Tags: #contoh teks diskusi #contoh teks diskusi tentang kesehatan #contoh teks diskusi tentang lingkungan #contoh teks diskusi tentang pendidikan #contoh teks diskusi dan strukturnya #contoh teks diskusi kelompok
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments
Item Reviewed: Contoh Teks Diskusi tentang Bolehkah Anak Memiliki Akun Facebook Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi