5W1H Berita Penembakan Mobil Satu Keluarga oleh Polisi di Lubuklinggau

Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.

Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:
Apa, Di mana, dan Kapan
Satu rombongan keluarga yang sedang melintas dengan mobil Honda City berwarna hitam ditembaki oleh oknum diduga polisi di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Selasa (18/4/2017) sekitar pukul 11.00 WIB.
Rombongan yang terdiri dari seorang ibu, anak-anak dan cucu-cucu dengan total tujuh orang ini ditembaki saat melintas di Kota Lubuklinggau. Akibat peristiwa ini, satu orang, yaitu Surini (55) meninggal dunia karena luka tembakan di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara itu, beberapa anaknya mengalami luka tembak, Diki (29) di bagian punggung, Indra (32) di tangan bagian kiri, Novianti (31) di lengan sebelah kanan dan Dewi Arlina (35) di lengan sebelah kiri.
Cucu Surini, Genta Wicaksono (3) mengalami luka di atas telinga sebelah kiri karena diduga terserempet peluru.
Seorang anak lainnya, Galih (6), tidak mengalami luka. Rombongan keluarga ini berasal dari Desa Blitar, Kecamatan Sindang Beliti, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

Siapa
Tiga hari usai razia berdarah di Kota Lubuk Linggau yang menewaskan satu orang penumpang mobil Honda City hitam, penyidik Polda Sumatera Selatan (Sumsel) telah menetapkan satu nama tersangka.

Brigadir K yang menghujani sepuluh kali tembakan ke mobil korban sudah ditetapkan sebagai tersangka tunggal razia berdarah pada Selasa, 18 April 2017.

Diungkapkan Irjen Pol Agung Budi Maryoto selaku Kapolda Sumsel, tim Propam dan Direktorat Reserse Kriminal dan Umum (Dirkrimum) Polda Sumsel sudah menjalankan serangkaian pemeriksaan hingga gelar perkara.
"Dalam kasus ini, Brigadir K dinyatakan sebagai tersangka tunggal. Proses hukum seperti pidana umum," ucap dia kepada Liputan6.com, saat menjenguk para korban razia berdarah di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palembang, Jumat, 21 April 2017.

Brigadir K yang bertugas sebagai Sabhara di Polres Lubuk Linggau bisa dijerat dengan Pasal 359 juncto 360 ayat 1 KUHP dengan hukuman maksimal lima tahun penjara.

Mengapa
Saat memberondong peluru ke arah mobil korban, Brigadir K mengaku hanya berusaha mengingatkan pengendara mobil untuk berhenti. Setelah berhenti, pengendara mobil malah tidak mau keluar.
“Niatnya hanya menghentikan (mobil korban) saja. Namun kelalaiannya berakibat salah satu korban kehilangan nyawanya,” ujar dia.

Hingga saat ini, Brigadir K masih ditahan di Polda Sumsel. Kendati sudah ditetapkan tersangka, Brigadir K masih berstatus anggota kepolisian dan harus melewati serangkaian pemeriksaan lanjutan.

Kapolda Sumsel memastikan, jika anak buahnya tersebut mendapatkan ganjaran hukuman penjara dalam waktu tertentu, secara otomatis statusnya akan berubah.
"Kalau lebih dari empat tahun dipenjara, bisa dilakukan pemecatan dengan tidak terhormat (PDTH). Tapi berkasnya harus dilengkapi dulu," sebut dia.

Salah satu pemeriksaan terkait insiden razia berdarah terhadap Brigadir K adalah tes psikologis. Sebelumnya, Brigadir K sudah diperiksa di Polres Lubuk Linggau dan dibawa ke Polda Sumsel pada Kamis malam, 20 April 2017.

Bagaimana
Kapolres Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan, AKBP Hajat Mabrur menjelaskan, penembakan satu keluarga yang menewaskan Surani (55), warga Desa Blitar, Kecamatan Sindang Kelingi, Provinsi Bengkulu, berawal dari kegiatan razia kendaraan yang dilakukan jajarannya.

Kepada Kompas.com, Kapolres menjelaskan, kegiatan razia kendaraan bermotor dilakukan awalnya berjalan normal dan lancar. Tiba-tiba melintas satu mobil sedan ke lokasi razia.
"Saat dicoba dihentikan anggota polisi, pengemudi mobil justru hendak menabrak anggota polisi dan melarikan diri," jelas Kapolres.

Aksi kejar-kejaran antara polisi dan pengemudi mobil sedan berlangsung sepanjang dua kilometer. Polisi sempat melepaskan tembakan peringatan ke udara, namun tak digubris.
"Polisi menembak ban mobil, dan peluru memantul (rekoset) ke badan mobil hingga mengenai penumpang di dalam mobil," jelasnya.

Peristiwa ini membuat gempar warga Kota Lubuklinggau dan Kota Bengkulu. Saat ini, kata Kapolres, pihaknya sedang memeriksa satu orang anggotanya yang terlibat dalam penembakan tersebut.
"Penembakan itu dilakukan karena mobil melarikan diri dari razia, polisi telah memberikan tembakan peringatan tapi tidak digubris," katanya.

Sumber: kompas.com, liputan6.com
Daftar Isi Blog ringkasan materi pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, contoh soal, hasil belajar siswa, dan info pendidikan. Copas ke blog lain? Cantumkan link sumber!