728x90 AdSpace

14 December 2013

Kontroversi Film "Soekarno: Indonesia Merdeka", Mengapa?

Kontroversi Film
Tanggal 11-12-13 lalu merupakan premiere Film Soekarno. Film ini patut diapresiasi karena tidak semata mengejar 'pasar' namun juga sebagai bagian dari 'menghargai jasa para pahlawan'. Lantas, mengapa film Soekarno yang disutradarai Hanung Bramantyo itu mengundang kontroversi, bahkan sejak memulai proses syuting? Adalah Rachmawati Soekarnoputri (62) yang merasa dilangkahi Hanung Bramantyo (38) dan Raam Punjabi, sang produser terkait film tentang perjuangan Soekarno itu. Rachmawati menilai Hanung dan Raam tidak menepati kerjasama. Bahkan, sejak awal proses persiapan, film ini telah melecehkan Soekarno.
"Semua cerita diputarbalikkan di skenario film, bukan menceritakan kebesaran Soekarno, tapi ketokohan Tan Malaka dan Syahrir," kata Rachmawati saat ditemui di Universitas Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2013) kemarin.

Saat mendengar isi cerita film Soekarno, Rachmawati juga keberatan. Misalnya, cerita Hanung yang menggambarkan naskah proklamasi disusun bersama-sama antara Soekarno dan Hatta. Adegan itu ditolak Rachmawati.
Begitu juga adegan saat Soekarno ditempeleng Kempetai (tentara Jepang) dan terjatuh. "Banyak informasi dan cerita dalam film Soekarno yang menyesatkan. Saya keberatan!" ujar adik kandung Megawati Soekarnoputri dan pendiri Yayasan Bung Karno tersebut yang sejak awal tak setuju Ario Bayu sebagai Soekarno.

Klarifikasi Hanung
Hanung sendiri menyayangkan sikap Rachma tersebut. Bagi Hanung, membuat film tokoh besar dengan latar belakang sejarah, tidaklah mudah. Hanung mengaku seperti ada beban berat di pundaknya setiap membuat film sejarah.
"Membuat film Soekarno ini berat," kata Hanung saat berbincang, Rabu (11/12/2013).

Tak hanya ketokohan Soekarno yang mendunia, Hanung menganggap pembuatan film Soekarno itu berat karena ceritanya yang harus sesuai fakta sejarah. Demi film 'masterpiece-nya' itu, Hanung harus mencari banyak referensi tentang Soekarno, terutama dari buku. Hanung juga menggelar diskusi dengan anak-anak dan keluarga Soekarno hingga banyak sejarahwan Tanah Air.

Dari fakta sejarah itu, Hanung kemudian memulai pembuatan film 'Soekarno: Indonesia Merdeka' di sejumlah lokasi, mulai Semarang dan Ambarawa, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta, Bogor di Jawa Barat. Ribuan orang dilibatkan dalam film itu.
"Konten film Soekarno disusun sebaik mungkin dengan menyajikan fakta sejarah saat peristiwa kemerdekaan terjadi," kata Hanung yang justru heran saat cerita filmnya dianggap Rachma tidak sesuai fakta sejarah.
Menurut Hanung, seperti tokoh bangsa lainnya, figur Soekarno bisa dibuat dalam sepuluh sampai lima belas film berbeda. Siapapun bisa membuat film tentang Soekarno. Ide pembuatan film Soekarno pun bisa datang dari siapa saja.

Film Soekarno juga bisa dibuat dengan beragam sudut pandang yang berbeda. Saat ini, selain Hanung, ada sutradara Viva Westi yang tengah membuat film tentang Soekarno. Sukmawati Soekarnoputri juga menyiapkan film Soekarno.
"Saya bisa bikin film Soekarno lebih bagus kalau tidak ada 'rambu', atau berkompromi dengan keluarga dan pihak lainnya. Ini baru syuting film saja sudah diprotes sana-sini," ucap sutradara asal Yogyakarta itu.
Sepenggal kisah perjuangan presiden pertama Indonesia itu, sejak dilahirkan di Blitar, 6 Juni 1901, hingga memproklamasikan kemerdekaan negeri ini pada 17 Agustus 1945, dikisahkan Hanung lewat film 'Soekarno: Indonesia Merdeka'.

Bagi Hanung, film Soekarno adalah karyanya ke-14. Meski begitu, suami pemain sinetron dan film Zaskia Adya Mecca tersebut menganggapnya sebagai karya pertama. Mimpi Hanung membuat film Soekarno akhirnya terwujud.

tribunnews.com dengan sedikit pengubahan
.
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments
Item Reviewed: Kontroversi Film "Soekarno: Indonesia Merdeka", Mengapa? Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi