Lanjutan Cerpen Sepatu Butut yang Lebih Klimaks dan Sarat Pesan Moral

DMCA.com Protection Status
Loading...
Kamu yang duduk di kelas IX tentu sudah membaca cerpen Sepatu Butut karya Ely Chandra Perangin-angin, bukan? Ya, cerpen yang bercerita tentang keresahan tokoh aku terhadap sepatu butut saudara kandungnya yang bernama Andi itu menjadi model cerpen yang harus kamu lanjutkan sesuai dengan imajinasi kamu.

Coba simak kutipan cerpen versi asli karya Ely Chandra Perangin-angin berikut:
Sepatu Butut

Entah sudah berapa kali aku mengatakan padanya untuk mengganti sepatu bututnya itu. Kalau sepatu itu masih layak pakai sih mungkin tidak apa-apa, tapi sepatu itu sudah kelihatan sangat kumal, jauh dari kategori layak pakai. Walaupun orangtua kami bukanlah orang yang kaya, tetapi kurasa mereka masih mampu membelikan Andi sebuah sepatu baru yang lebih layak pakai.

Entah mengapa pula, hanya aku yang selalu memperhatikan sepatu bututnya Andi. Sepatu butut itu begitu menggangu pandanganku. Orangtua kami tidak pernah protes kalau Andi menggenakan sepatu butut itu lagi.

Pagi ini kami akan berangkat sekolah, dan lagi-lagi sepatu butut itu lagi yang kuperhatikan. Tidak ada yang lain yang kuperhatikan dari Andi, aku jadi malas bila berjalan dengannya. Aku malu bila harus berjalan dengannya, seperti berjalan dengan seorang gembel.

Sepatu butut itu begitu mengganggu pikiranku Kenapa Andi tidak minta sepatu baru aja biar keren seperti teman-temanya, si Ivan dengan sepatu ketsnya, atau seperti Dodi dengan sepatu sportnya?

Di suatu malam, aku berfikir untuk menyingkirkan sepatu butut itu. Aku berencana membuangnya di hari Sabtu malam, karena kutahu ia akan mencucinya di hari Minggu. Jadi kalau di hari Minggu ia tidak menemukannya, masih ada kesempatan untuk membeli yang baru sehingga ia masih bisa masuk di hari Seninnya.

Untuk membuang sepatu butut tentu saja tidak memerlukan rencana yang rumit, cukup sederhana saja pasti aku bisa melakukannya, hanya tinggal menunggu Andi tidur di malam hari, dan kemudian aku tinggal menjalankan misinya. Hari yang kunantikan pun tiba, segera aku bersiap menjalankan misiku. Kulihat Andi sedang tidak ada di rumah.
............................
............................
Menurut versi asli yang ditulis oleh Ely Chandra, cerpen itu berakhir dengan kebesaran hati tokoh aku untuk tidak jadi membuang sepatu butut Andi. Tokoh aku memilih untuk menerima kenyataan harus kembali melihat saudaranya itu memakai sepatu bututnya ke sekolah seperti biasanya.
Berikut kutipan lanjutan cerpen menurut versi aslinya:
............................
Dengan segera aku menemukan tempat Andi meletakkan sepatunya. Ketika tanganku bersiap-siap mengambilnya, hatiku mulai bimbang. Bagaimana nanti sikap Andi kalau tahu aku yang membuang sepatunya? Bagaimana kalau nanti ia marah dan ngambek tidak mau pergi ke sekolah. Semuanya berkecambuk dalam hatiku. Akhirnya kuurungkan niatku membuang sepatu butut itu. Aku tak berani mengambil resiko yang kupikir sangat berat itu.

Hari senin, kembali pandanganku tertuju pada sepatu Andi. Sepatu butut yang selalu menemanya kesekolah. Satu-satunya yang terlintas di pikiranku adalah sepatu itu telah menjadi sebagaian dari hidupnya, dan itu menjadi haknya tanpa seorangpun berhak mengambilnya. Toh nanti setelah tak layak pakai menurutnya, ia pasti meminta pada orangtua kami.

Sebagai latihan sebelum nantinya bisa menulis sendiri cerita pendek menurut imajinasi kamu, kamu terlebih dahulu diminta melanjutkan bagian akhir cerpen Sepatu Butut sesuai keinginanmu. Ini ada satu hasil imajinasi teman kamu bernama Muhammad Rezki yang telah menulis lanjutan cerpen tersebut menurut versinya.
Karyanya ini lebih klimaks dibandingkan versi aslinya. Coba simak.
....
Segera aku mengambil sepatu butut Andi itu dan membuangnya ke tempat sampah di depan rumah. Aku berharap, saat ia tak mendapati sepatunya besok pagi, ia segera membeli sepatu yang baru.

Benar saja, pagi harinya, Andi menanyaiku apakah aku melihat sepatunya. Aku tentu saja menjawab tidak tahu. Kulihat rasa sedih yang tidak terkira nampak dari raut mukanya. Aku merasa ikut sedih dan menyesal. Segera aku berlari ke depan rumah dan membuka tutup tong sampah. Namun, tong sampah telah kosong! Tentulah tadi subuh petugas kebersihan telah mengambil sampah yang ada di tong sampah dari tiap rumah warga. Aku panik bukan main. Rasa bersalah yang sangat besar segera menghantuiku.

Aku kembali berlari ke dalam rumah. Kudapati Andi sedang memegang sepasang sepatu baru yang persis sama dengan sepatu bututnya. Di hadapannya berdiri ayah yang tersenyum memandangku. Ayah ternyata telah membelikan Andi sepatu baru! Aku lantas menceritakan apa yang telah kulakukan dan meminta maaf kepada Andi. Tak kusangka, Andi tidak marah dan ia langsung memelukku.

Terima kasih sudah membaca Lanjutan Cerpen Sepatu Butut yang Lebih Klimaks dan Sarat Pesan Moral
Bagikan:

Loading...

Untuk pertanyaan yang memerlukan respon cepat, silakan gunakan Whatsapp.

0 Response to "Lanjutan Cerpen Sepatu Butut yang Lebih Klimaks dan Sarat Pesan Moral"

Posting Komentar

Silakan ambil manfaat dan jika ada pertanyaan, silakan tulis di form komentar.
Terima kasih atas komentar yang sopan dan menyejukkan.