728x90 AdSpace

30 March 2010

Friends are Pain [1]

Simak yuk cerita teman kalian, Dwi Rezky Sukmawaty (Enno) siswa SMP Plus MP alumni tahun 2010.

“sahabat itu baik. Tapi terkadang mereka adalah musuh yan menusuk dari belakang. Mendekati kita hanya untuk menyakiti kita. Dengan menggunakan kata “sahabat” merekapun memasukkan kita ke permainannya. Mulai menyakiti kita, bertindak semaunya. Dan memainkan kita seperti boneka. Ff kali ini berkisah tentang persahabatan”

Check it !!

Song Ryeohan itulah namaku. Aku tinggal dengan kedua orang tuaku. Aku mempunyai satu kakak perempuan bernama Taeyeon. Dialah yang selalu menjagaku ketika Ayah dan Bunda sedang tak ada. Aku tinggal di seoul, dan bersekolah di salah satu SMA ternama disana. Aku di temani sembilan orang gadis yang sering mereka sebut dengan bintang kelas. Mereka terdiri dari. Song MinChi, Ahn HeeTha, Kim Ryu, Kim MinHye, Yoon YuRhi, Kim Taeyoung, Kim SunHi, EunFye (aku tak tahu nama aslinya), Han Yumi. Mereka memang anak anak yang istimewa, anak anak yang selalu di kagumi oleh semua orang, temanku, dan guru terkecuali aku. Ya, enam tahun sudah aku berteman dengan mereka dan enam tahun sudah aku mengetahui sifat buruk mereka. Aku tidak iri dengan mereka, tapi entah kenapa perasaanku yang paling dalam tak dapat menerima mereka. Menerima sebagai teman ataupun yang sering orang sebut dengan sahabat. Ihh !! bagi mereka sahabat adalah segalanya tapi bagiku sahabat tak lebih dari sampah. Ya, mereka selalu menyakitiku, dan mereka tak pernah sadari itu. Mulai dari ucapan sampai perlakuan yang tak menyenangkan selalu mereka lakukan padaku. Setelah mereka puas, mereka pun memasang muka muka menjijikan dan berkata “ini Cuma bercanda”. Cuih !! dasar orang orang bodoh mereka pikir aku adalah seorang gadis yang dapat mereka manfaatkan. Aku memang yang paling muda dari mereka dan umurku terlampau jauh dengan mereka. Mereka selalu menganggapku sebagai anak bawang yang hanya sebagai pelengkap semuanya. Mereka seenaknya memperlakukanku seakan aku adalah boneka. Boneka yang hanya tersenyum ketika di lempar kesana dan kemari, setelah mereka bosan merekapun meninggalkan aku sendiri. Aku sangat benci mereka dan juga membenci kelompok yang mereka buat yaitu TRIPLE A. kelompok ini sangat terkenal, tidak hanya di sekolah kami tetapi juga di sekolah lain. Ya,siapa yang tak mengenal kami.

MinChi adalah anak dari manajer sebuah perhotelan yang sangat terkenal d seoul, diapun seorang penyanyi. Sebelumnya dia adalah seorang model. Dia di penuhi dengan harta, sehingga banyak yang ingin berteman dengannya, diapun baik, tapi dia juga bisa jahat pada saat yang bersamaan. Dia hebat, aku salut dengannya. Dia memang orang yang paling dekat denganku di banding 8 orang tadi. Aku tahu rahasianya, tapi aku tak pernah memberi tahu rahasiaku. Aku tak sebodoh yang dia pikir. Dia pikir setelah dia memberikan rahasianya kepadaku maka aku akan mengatakn rahasiaku. Dasar bodoh !!. aku sudah mencium bau tidak beres disini, aku yakin dia mempunyai maksud di balik semua ini. Aku tak sebodoh yang kao kira MinChi.

HeeTha adalah anak dari dua pengusaha sukses. Dia anak semata wayang. Dia cantik, berkulit putih. Otaknya pun boleh di adu. Aku juga membencinya melebihi MinChi. Dia selalu mengikuti gayaku untuk merebut perhatian yang lain. Setiap aku berbicara selalu dia potong. Entah yang dia katakan itu nyambung atau tidak. Aku heran dengan dia. Aku tak suka dii perlakukan begitu.

Ryu adalah anak dari pengusaha salon ternama d seoul. Dia adalah dancer terbaik d seoul. Tariannya begitu lincah. Aku suka melihat gerakannya, dia membawakan dengan santai. Dia selalu memuji tarianku. Tapi aku tak yakin!! Aku lebih berpikir kalau dia sedang mengejekku dengan nada halus. Akupun hanya tersenyum dan menebar kegembiraan layaknya seorang anak kecil di beri permen. Mungkin dia pikir dia menang tapi lihat saja nanti…

MinHye adalah adalah anak Perdana Mentri. Ia pun pewaris tunggal dari sebuah perusahaan yang di geluti ibunya sejak lama. Otak jangan di Tanya. Kemampuannya dalam menghitung saja kao akan sulit menerimanya dengan akal sehat, begitu cepat. Sayang walaupun iya orang ketiga tertua (setelah Ryu, dan SunHi) ia tetap saja cenggeng. Menjijikan !!. dia selalu menangis dan menangis. Dia jarang berpikir dewasa untuk menghadapi masalahnya. Dia selalu bertanya denganku. Bertanya dan terus bertanya solusinya tanpa berpikir kalau aku juga punya masalah. Aku seperti computer yang di paksa untuk terus terus di pakai sampai akhirnya rusak dan aku di tinggal begitu saja.

YuRhi adalah gadis tomboy. Ia juga anak semata wayang. Otaknya pun tak kalah pintarnya. Kimia yang begitu sulit bisa dia pecahakan dalam hitungan detik. Pintar memang itulah YuRhi. Aku tidak terlalu menyukainya. Ia lumayan sombong ia terlalu cuek dengan kehidupan luar. Dia tak memikirkan hal lain.

Taeyoung anak satu ini. Penulis novel belia yang terkenal d seoul. Otaknya juga boleh. Dia sekilas adalah orang baik. Tapi sebenarnya dia jahat sangat jahat. Dia selalu menghinaku di depan umum. Kata katanya sungguh pedas. Kao tak bisa membayangkan duduk berdekatan dengannya. Aku selalu dihina terus dan terus. Aku hanya diam, sesekali tertawa dan sesekali cemberut. Dia dan yang lain tertawa terbahak bahak. Mereka suka melihatku dihina. Di dalam hatiku paling dalam. Aku menaruh benci dengan Taeyoung. Suatu saat nanti aku yang akan menghinanya dan ia hanya diam seperti aku kini. Diam tak bisa berbuat apa apa.

SunHi anak yang kemampuan bahasa inggrisnya begitu hebat. Dia fasih berbahasa inggris. Aku tak terlalu menaruh dendam dengannya. Sekarang, ia tinggal di Inggris dia berhasil mengikuti pertukaran pelajar disana.

EunFye gadis belia yang genius. Dia menguasai semua pelajaran di bidang akademik. Tidak hanya akademik, olahraga dan seni pun ia geluti. Dia begitu genius. Aku tak iri dengannya. Aku hanya benci dengannya. Ia pemarah. Memarahiku tak jelas. Sama dengan HeeTha ia suka sekali memotong pembicaraanku. Ia suka menyinggung perasaanku. Dia sering bercanda berlebihan sehingga membuat batinku sakit. Tak hanya batin tapi juga fisik. Tak jarang ia memukulku tanpa alasan jelas dan berkata “tak sengaja”. Dia pikir aku sebodoh itu. Pukulan yang begitu keras dia bilang tak sengaja. Tak jarang juga badanku biru dan merah (biru karena dipukul dan merah karena di cubit) karena perlakuannya.

Yumi seorang gadis pengusaha café. Ia begitu dingin. Aku salut dengannya. Ia begitu tegar berteman dengan mereka. Dia tak pernah menghinaku tapi ia tak pernah menyuruh mereka berhenti menghinaku. Ia bilang kalau mereka bisa tertawa sekarang belum tentu mereka tertawa nanti. Ya kata kata yang membuat aku salut (entah kenapa). Aku sangat suka kepribadiannya. Tapi aku tetap akan menghancurkannya juga.

Dan yang terakhir adalah aku. Ryeohan. anak perdana mentri sama denga MinHye. Ibuku seorang dokter yang otomatis tak selalu di rumah. Aku adalah anak yang polos dan cenggeng, bagi mereka. Hidupku selalu dihina dan di kerjai. Aku memang tak pernah mengeluh dengan mereka tentang perlakuan mereka karena aku yakin aku mengeluhpun tetap saja di perlakukan seperti itu. Sakit, ya itu yang selalu ku rasakan. Keluargaku pun selalu bermasalah. Tak ada yang beres dengan hidupku. Aku selalu ceroboh. Perasaan ini begitu menyayat hati. Aku benci semuanya. Aku akan memusnahkan mereka satu satu. Secara bertahap dan rapi. Bermodalkan tampang polosku aku yakin tak akan ada yang menyangka.


Hari ini adalah hari kamis. Setelah olahraga ini kami ingin bertemu seseorang. Seseorang yang tak ingin ku sebut namanya karena aku sangat membencinya dan mungkin tak akan sudi menyebut namanya. Dia selalu memanggil kami dengan sebutan sahabat. Cuihh !! sahabat apa yang selalu menyakiti sahabatnya. Ia selalu menganggu kami. Tepatnya hidup kami. Mengatur, memarahi itulah yang selalu ia lakukan. Terlalu banyak dosanya kepada kami. Dia memang tak pernah berurusan denganku tapi dengan yang lain. Aku tak akan menghiraukannya jika ia tak membawa nama kelompok bodoh itu. TRIPLE A itulah yang selalu dia utarakan. Dia selalu merasa berjasa atas terbentuknya kelompok itu. Kata kata tidak enak di dengar yang tertuju pada kami, selalu dia post di salah satu jejaring teman. Menghina itulah yang dilakukan ketika kami tak menemaninya. Sayang anak bodoh itu tak berani berbicara langsung dengan kami. Pengecut !! itulah kata yang selalu keluar dari mulutku tentangnya. Tapi entah kenapa hari ini Taeyoung membawanya berhadapan dengan kami semua ( kecuali SunHi). Kami pun berjanji bertemu dengannya jam 09.00 tepat di basecamp kami. Kami menunggunya dan akhirnya ia pun datang, aku duduk dekat MinHye dan HeeTha. Aku tak ingin berbicara, aku yakin kalau aku berbicara pasti HeeTha dan EunFye memotong omonganku. Aku biarkan mereka berdebat tentang masalah mereka. Aku melihat muka MinChi yang penuh dengan rasa benci dengan orang ini, Taeyoung juga. Aku senang melihat ini, aku senang melihat mereka berkelahi. Adu mulutpun tidak bisa di bendung satu sama lain mencela dan membela dirinya masing masing. Sangat indah !! aku merasakan seperti mendengar sebuah nyanyian yang merdu. Tapi suara itu tertutupi suara bising MinHye yang menangis di sebelahku. Menjijikan!! Dia menangis sangat keras aku merangkulnya dan menaruh kepalanya di pundakku yang aku harap dia sedikit mereda sehingga aku dapat mendengar pertengkaran yang sudah lama kutunggu. Aku lihat orang itu sudah mulai terpojok. Dia tak bisa mengeluarkan kata kata lagi. Aku tersenyum kecut. Aku lihat muka mereka tegang, kecuali aku MinChi dan Taeyoung. Hanya kami bertiga yang tersenyum bangga. Ya mereka bangga karena bisa melawan gadis itu. Dan aku tersenyum bangga akhirnya kelompok ini merenggang dan semakin memudahkanku untuk menghancurkan semua. Aku bangga hatiku senang sangat senang. Memang benar kata lee teuk sonsangnim kalau kita kadang bisa bahagia ketika hal itu buruk. Aku senang melihat ini. Senang sangat senang tak pernah merasakan hal ini. Sayang, ternyata kesenangan itu bertahan sebentar. Ketika gadis itu menawarkan permintaan maaf, anak anak bodoh ini menerimanya. Dan EunFye berkata dia sudah memaafkan gadis itu sejak lama. Bodoh semua !! aku baru bersenang senang dan mereka menghancurkannya. Aneh!! Sudah sekian kali gadis itu meminta maaf dan selalu di maafkan, aku yakin gadis ini akan berulah lagi. Mereka bertanya padaku apakah aku memaafkannya. Apa pilihanku ? semua sudah menjawab iya, mau tak mau aku juga. Kami pun berjabat tangan ia pun memelukku. Yuck !! munafik aku yakin kao berulah lagi. Kami pun keluar menuju kelas masing masing. Ada yang berkata puas dan ada juga tidak. Aku termasuk tidak, bagaimana puas kami berkelahi seperti di kejar waktu. Sedangkan HeeTha yang dari tadi di sebelahku ribut kelaparan karena tidak sarapan pagi. Menyebalkan !! saat saat ini adalah saat saat emas. Aku tak puas, lain kali aku yang akan menantang mereka.

Hmm, tibalah waktu istirahat kedua. Kamipun ke kantin, dan gadis itupun duduk di satu meja dengan kami. Siapa yang mengijinkannya ? ya siapa lagi kalau bukan EunFye pahlawan kita. Apa dia tak merasa kalau banyak yang belum puas dengan pertengkaran tadi. Dan bukannya sesuai perjanjian yang di bikin bahwa kami dan gadis itu hanya teman yang kenal tidak lebih dari itu. Tapi ini ladang emas bagiku. Kami pun duduk semua raut muka berubah kecut. Aku suka ini. Setelah itu entah kenapa Ryu berbicara tentang kulit. EunFye merasa tersinggung. Aku tak tau kenapa dia. Berhubung aku berkulit putih yang bersih, mereka pun bertanya padaku bagaimana cara merawatnya. Dan saat itu pula mulut EunFye dengan lancang berkata bahwa biar kulitnya hitam tetapi ia laku dalam artian mempunyai pasangan. Aku memang tak punya kekasih. Aku memang tak ingin. Bukan berarti aku tak laku. Masih banyak juga yang belum mempunyainya sama sepertiku. Tak usah jauh jauh Ryu, MinHye, dan Yummy saja tidak punya. Sontak MinHye melepas sendoknya dan berkata apa yang di maksud EunFye apa dia menyindir kami berempat. MinHye kesal dan meninggalkan kami di kantin di susul Ryu. Tinggal aku dan Yummy yang tertinggal di sini. aku tak ingin pergi. Aku tau yang ia sindir itu siapa. Itu adalah aku. Ya, aku adalah orang yang berkulit putih kedua setelah HeeTha. Berhubung HeeTha sudah mempunyai pasangan berarti siapa lagi kalau bukan aku. Bodoh sekali anak berdua itu, mereka merasa kalau EunFye menyindir mereka berdua. Rasa benciku pada EunFye bertambah berlipat ganda, aku sangat sangat membencinya sekarang. Aku menyuap makananku sambil meneteskan air mata. Tak ada yang sadar karena aku sudah terbiasa menangis tanpa suara. Aku menangis bukan karena sakit hati tapi itu adalah tangis benci. Ya tangis benci yang selalu aku keluarkan kalau aku dihina mereka.EunFye memang selalu begitu mulut ceplas ceplos seperti tak ada yang menahannya. Semakin hari aku jadi tak suka dengannya.


Akhirnya waktu pulang. Aku di jemput oleh supir. Sesampai di rumah aku hanya menemui kakakku dan pembantu. Aku menghela nafas dan pergi menuju ruang makan. Aku lihat makanannya, tak menarik. Aku pun pergi menuju kamarku. Ku lempar tasku dan berbaring di atas tempat tidurku yang begitu besar. Mataku pun terpejam. Mungkin sudah begitu lama aku terpejam ternyata perutku begitu lapar. Akupun terbangun dan mencari makanan di kulkas. Suara begitu ribut terdengar di kamar kedua orang tuaku. Ku dapati kedua orangtuaku berkelahi. Ya apalagi masalahnya kalau bukan wanita itu. Bukan wanita simpanan tetapi seorang wanita tua yang selalu mengatakan kalau dia adalah orang yang melahirkan ayahku. Dia selalu berceloteh betapa susahnya menyekolahkan ayahku sehingga jadi sukses sekarang. SHITT !! omongan yang tak pernah ku percaya. Terlalu basa basi, hidupnya penuh dengan dusta. Senyumnya adalah senyum licik. Nenek tua berumur 60 thun ternyata masih mempunyai energi untuk menghancurkan hubungan seorang pasangan. Sekarang apalagi yang ia lakukan dengan kedua orangtuaku. Terlalu banyak yang ia lakukan pada keluargaku, hidupnya penuh dengan kepalsuan. Hahaha!! Tapi sayang itu tak berpengaruh padaku. Ilmunya tak sebanding denganku, ia tak bisa membohongiku. Mungkin ia bisa mengelabui Ayah,Bunda,dan Taeyeon eonni. Tapi tidak untukku. Aku begitu pintar dia tak pernah bisa memasukkan aku ke perangkapnya sekalipun. Karena aku selalu lolos.


Akupun mendekat ke kamar kedua orangtuaku. Aku mendengarkan mereka. Aku menangis melihat ini umurku sudah 17 thun sedangkan masalah ini tak selesai selesai juga. Aku sudah bertekad keyakinan ku bulat yang ku lakukan mungkin akan membuat resiko sangat besar untuk diriku sendiri. Tapi sudahlah, ini jalan terakhir Nenek tua itu mengajakku bermain dengannya. Dia merasa dirinya adalah senior tapi sayang kemampuanku lebih dari dia. Aku mempunyai kekuatan yang lebih yang diberikan oleh Tuhan dan kekuatan itu tak semua manusia memiliki. Apa itu ? hanya aku yang tau.


Bunda pun mengambil kopernya dan langsung pergi. Aku menahannya sambil menangis. Dia berbisik padaku bahwa dia akan menginap ke sebuah hotel. Dia berpesan agar aku tak usah khawatir dengan keadaannya. Dia pun pergi dengan menggunakan mobil sportnya. Aku yang di tinggal hanya menangis tertunduk di garasi. Ayahku tak mencegat bunda pergi sedangkan aku lihat wanita renta itu sedang tertawa kecil di belakangku. Aku lihat ia, penuh dengan rasa benci. Sangat benci !!


Hari jum’at .
Hari ini aku terlambat masuk sekolah. Pelajaran pertama adalah matematika. Leeteuk sonsangnim yang mengajar. Aku gugup. Aku pasti di hukum. Dengan tangan gemetar ku ketok pintu kelas. Tak kusangka ternyata banyak juga yang terlambat bagaimana tidak hari ini hujan deras. Mereka yang memakai sepeda, harus menunggu hujan reda. Tapi, sonsangnim ku yang satu ini tak bsa d ajak toleransi. Dia suruh YuRhi, TaeYoung, dan MinHye menasihati dan menghukum yang terlambat. Satu persatupun mereka duduk ke tempat masing masing, sekarang tinggal aku sendiri. Aku yang merasa kalau mereka akan mengasihaniku karena aku adalah sahabatnya pun hanya terrsenyum santai. Ternyata tidak, mereka malah menghukumku. Mereka menyuruhku untuk push up. Dengan lantang aku berkata aku hanya terlambat sekali lagipula aku adalah seorang perempuan mana mungkin aku yang memakai rok d suruh push up. Mereka pun kembali berpikir lalu Taeyoung menyuruhku untuk lari di lapangan basket lima putaran. Aku syok, ya mereka tau kalau fisikku sering tak kuat untuk lari. Sekarang mereka menyuruhku untuk lari lima putaran. Aku menolak, karena kenapa Cuma aku ? kenapa yang lain tidak. Mereka beralasan kalau aku datang sudah satu jam peljaran. Aku hanya mengepal tanganku dan berajak keluar dari kelas. Ku dengar dari luar MinHye membelaku dan bertengkar dengan Taeyoung. Tapi, tetap saja aku di hukum karena menurut Leeteuk sonsangnim hukuman itu agar membuat efek jera padaku. Akupun mulai berlari. Dua putaran, empat putaran sudah ku lalui. Kepalaku mulai berkunang kunang. Kulihat MinHye melambaikan tangan padaku. Aku hanya tersenyum sambil mengusap keringatku. Bruukk!! Tiba tiba aku jatuh pingsan.


Sepuluh menit kemudian …
Aku terbangun, kulihat di sekitarku ada MinHye, YuRhi, MinChi, HeeTha, Yummy, Ryu, EunFye, dan gadis busuk itu. Kenapa mereka membawa gadis ini lagi, bukankah mereka bilang mereka benci dia. MUNAFIK SEMUA !!. sebentar Taeyoung dimana ?. akupun bertanya pada YuRhi, ternyata ia di luar. Dia takut untuk masuk, dia takut kalau aku marah. Aku hanya tersenyum dan menyuruhnya masuk. Dia meminta maaf padaku karena ia terlalu jahat. Akupun dengan berat hati memaafkannya. Berat hati? Iya aku tak bisa memaafkan orang begitu saja. Aku lihat gadis busuk yang daritadi dengan MinChi. Sepertinya dia sedang membujuk MinChi, dan sepertinya sebentar lagi ia berulah. Aku hanya tersenyum kecil padanya. Semakin kao hancurkan kelompok ini, semakin mudah aku menyiksa kalian.


aku di pulangkan lebih awal. Akupun pulang ke rumah. Berhubung harinya hujan. Akupun harus menelpon supir agar aku di jemput. Tapi MinHye tiba tiba menawarkan agar dia saja yang mengantarkanku. Aku terima tawarannya. Diapun mengambil mobilnya yang dia parkir di belakang sekolah. Saat perjalanan, dia menanyakan tentang keadaanku. Dia merasa kalau aku punya masalah yang begitu besar. Aku tak bisa bohong dan air mataku tak terbendung. Akupun bercerita dengannya tentang keluargaku. Dia pun ikut menangis mendengar semua penderitaan yang ku alami selama 17 tahun ini. Ia pun berkata padaku kalau dia jadi aku, maka akan dia bunuh wanita tua renta itu. Mana mungkin seorang MinHye yang cenggeng itu akan membunuh, melihat darah saja sudah takut. Itu Cuma bahasa kiasan!!. Tapi aku pun berpikir, mungkin itu bisa ku coba. Kamipun sampai di rumahku. Aku mengucapkan terimakasih pada MinHye dan ia pun pergi.


Kulihat wanita tua itu sedang duduk menikmati coklat panas di dekat perapian. Dia memakai jaket Taeyeon eonni. Jaket yang sama dengan punyaku. Aku pun melihatnya dengan penuh rasa benci. Rasa benciku lebih panas dari api yang berada di perapian. Ia hanya menatapku dan kembali meminum coklat panasnya. Akupun menuju kamarku dan membanting pintu kamarku. Tiba tiba aku teringat sesuatu. Ya, kata kata MinHye.


Hari Sabtu. Hujan deras d seoul. Akupun memakai jaket yang sama dengan yang di pakai nenek tua itu. Tanpa ku ketahui ternyata jaket itu sudah di berikan Taeyeon eonni kepadanya sekitar dua bulan yang lalu. Setelah sarapan, akupun pergi. Berhubung hari ini libur. Aku berkata kalau aku ingin keluar menemui MinChi. Ayah dan eonni pun percaya. Padahal, aku ingin menemui bunda. Sesampainya di hotel yang di maksud bunda. Akupun langsung mencari beliau. Aku bertemu dengannya dan berbincang bincang dengan beliau. Tiba tiba handphoneku berbunyi. Kulihat ini adalah telepon dari ayah. Ayah memberitahukan kalau nenek tua itu telah meninggal dan menyuruhku untuk pulang sekarang. Akupun menolaknya. Aku bilang kalau aku sedang berada di Inggris menemui SunHi dan meminta maaf sudah berbohong dengannya. Dengan kesal, ayahku menutup telepon itu. Bunda bertanya ada apa? Lalu akupun berkata bahwa wanita tua itu telah tiada. Lalu dia berkata kenapa aku berbohong pada ayahku. Lalu aku menjawab karena aku tak mau menghadiri pemakaman seorang wanita yang hina seperti dia. Tanpa ada yang menyadari bahwa yang membunuh itu adalah AKU.

Bagaimana aku membunuhnya sedangkan ia meninggal ketika aku sedang berada di hotel dengan bunda ?

Dua minggu setelah itu, polisi memanggilku untuk mendengarkan alibiku. Dan mereka tak mencium keganjalan dari diriku. Aku senang ternyata tampang polosku membawa manfaat. Hahahaha !!!


Setelah dua minggu melewati pemeriksaan kepolisian, akupun dinyatakan tak bersalah. Hebat !! pembunuhan yang ku rancang itu tak terlihat seperti pembunuhan, melainkan bunuh diri. Ya, aku yang membunuhnya. Aku membunuhnya dengan cara memberinya racun. Tapi, aku mempunyai trik. Kalian ingat dengan jaketku yang sama dengan nenek tua itu ?. itulah kata kuncinya. Aku meracuninya dengan menukar jaket itu ketika dia lengah. Ku oleskan racun di saku jaketku dan kutukar dengan jaketnya. Otomatis, kalau dia memegang sakunya sebelum sarapan tadi, dia akan mati terbunuh. Aku tak sebodoh yang polisi kira. Walaupun aku pembunuh amatir tapi aku tidak meninggalkan jejak dan aku memiliki alibi yang kuat. Dan rasanya ini saat yang tepat juga untuk memusnahkan kesembilan orang pabo itu .

Hari senin …
Masuk sekolah dan bertemu mereka lagi. Kedelapan orang yang aku benci. Merekapun sekarang berada di tepat di depanku. Semakin hari aku semakin membenci mereka, entah kenapa?. Mereka mulai berbicara dengan gaya mereka yang selalu heboh. Berteriak teriak layaknya kami semua ini tuli. Dan terbesit sebuah kalimat kalau SunHi akan berkunjung ke sekolah kami. Untuk merayakannya, MinChi mengajak kami untuk pajama party di sebuah pegunungan sabtu ini. Menarik !! aku bisa melancarkan aksiku, tapi siapa korbanku. Aku binggung, dengan siapa dulu aku memulainya.

Hari sabtu …
Setelah melewati lima hari bersama delapan orang itu, akhirnya kami jadi pergi ke pegunungan. SunHi membawa serta sepupunya dari Jepang. Pemuda campuran Jepang-korea ini adalah seorang detektif muda terkenal di Jepang. Ia berumur sama dengan kami, 17 tahun. Dia adalah orang yang di panggil ayahku untuk menyelidiki kasus nenek tua itu. Dia tampan, ya begitulah yang di katakan delapan gadis yang berada di sampingku. Dia bernama, Choi MinHo. Ya, perjalanan menuju villa pun hanya di hiasi tatapan nakal delapan gadis ini kepada MinHo. Bagaimana denganku ? aku tak memikirkan dia tampan atau tidak, yang ku pikirkan sekarang adalah keselamatan diriku. Kalau misalnya, pemuda ini bisa membongkar topengku maka habislah aku. Aku harus menghentikan ini. Bagaimanapun itu .Tak selang beberapa saat, kami telah sampai di villa. Tempat yang indah dan mewah tapi akan menjadi tempat mengerikan setelah ini. Tiba tiba MinHo mendekatiku dan mengajakku berkenalan. Akupun berkenalan dengannya. Dia tersenyum manis, begitu manis. Aku menatap matanya dalam dalam. memang benar dia tampan. Tubuhnya yang ideal membuat wanita luluh ketika dekatnya. Senyumannya begitu menawan. Aku tak henti hentinya melihat dia. Diapun juga begitu. Setelah tersadar Aku langsung melempar senyum dengannya dan meninggalkannya.


Malamnya, setelah kami mengadakan makan malam. Kamipun berencana menonton film di ruang tengah. Eunfye tak mau ikut, dia bilang dia sedang kelelahan dan ingin tidur telebih dahulu. Akupun begitu, aku begitu lelah dan memutuskan untuk tidur. Kamarku dengan EunFye berbeda. Aku sekemar dengan MinChi sedangkan EunFye dengan TaeYoung. Kamipun menuju kamar masing masing yang kebetulan berdekatan dan meninggalkan yang lain yang berada di ruang tengah dengan MinHo. Ketika pukul tiga malam. Terdengar teriakkan EunFye dari kamar. Mereka yang berada di ruang tengah berniat untuk memeriksa kejadian di kamar EunFye , tapi tiba tiba lampu mati. Semuanya berteriak terkecuali aku (tertidur). Akupun kaget dan langsung terbangun. MinHo mengambil senter dan mencari tempat menghidupkan listrik tersebut. Setelah semuanya terang, kamipun menuju kamar EunFye. Pintunya terkunci, MinHo pun mendobraknya. Ketika pintu terbuka, terlihat darah masih bercucuran dari badan EunFye dan sebilah pisau masih tertancap tepat di bagian hati EunFye. Mengenaskan!! Itulah akhir dari perjalanan EunFye, seorang gadis yang jenius dan terkenal taat beribadah harus tewas mengenaskan. Terlihat di lantai lantai tersebut topeng topeng berwarna putih berserakan. Siapa pelakunya ? semua binggung.
“Mustahil gadis ini terbunuh . pintu dan jendelanya terkunci rapat, tak ada celah. Lalu darimana pembunuh itu lewat ? lalu apa maksudnya topeng topeng ini. Lima belas topeng yang tepat pada tanggal kelahiran EunFye dan jam tiga tepat pada bulan kelahiran EunFye. Apa yang diinginkannya ?. siapa dia ?. “itulah komentar mereka semua. Aku hanya tersenyum kecut dan pergi dari tempat itu. Lihat mereka ! menangisi seseorang yang sebenarnya mereka tak suka. Acting mereka hebat, menangis di hadapan polisi seolah sedih di tinggal gadis ini. Padahal semasa dia hidup, mereka sering sekali bercerita tentang sifat gadis ini yang selalu memarahi mereka tanpa alasan yang jelas. Anak bodoh !! berterima kasihlah padaku yang sudah membunuhnya. Sekarang tinggal memikirkan alibi ku untuk polisi yang sama bodohnya dengan mereka semua.


Kami tak jadi liburan dan pulang ke Seoul. Kami menghadiri pemakaman EunFye. Gadis yang terkenal dengan keGeniusannya dalam semua bidang inipun telah tiada. Kulihat ayah dan ibunya yang berada di samping tempat terakhir itu. Mereka menangis, begitu sedih entah kenapa pada saat itu aku berpikir bagaimana kalau aku mati nanti ? apakah ada yang akan menangisiku? Aku adalah orang yang sudah terlanjur hina, membunuh orang dan bermuka dua. Aku tak pantas di tangisi aku pantas untuk menagisi diriku sendiri. Ada apa denganku ? apa yang terjadi denganku? Sebegitu jahatkah aku?. Akupun pergi meninggalkan pemakaman itu sambil menangis. Aku tak menyesal telah membunuh mereka, hanya saja ada sesuatu yang membuatku sakit tapi apa itu? Aku tak tau . aku benci mereka semua !! aku menangis dan perlahan tertawa . kuhapus air mataku. Masa bodoh !! mereka mau menangisi aku atau tidak, aku tak peduli. Yang terpenting sekarang adlah menyingkirkan mereka satu satu termasuk MinHo. Setelah dari pemakaman, kamipun disuruh untuk datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Muka muka pembohong merekapun terlihat, menangis itu yang mereka lakukan di kantor polisi. Tapi ada sesuatu yang aneh. Ya, aku tak melihat setetes air mata jatuh dari TaeYoung, Yummy, dan MinHye. Mungkin kalau TaeYoung dan Yummy aku sudah taka sing, karena mereka memang tak suka menangis tapi kalau MinHye ? bukankah MinHye adalah gadis tercenggeng? Tapi kenapa dia tak menangis ? apa dia terlalu menaruh dendam dengan EunFye sehingga tak ada setetes air mata yang keluar dari mata kecilnya itu. Berterimakasihlah MinHye karena aku yang membunuh EunFye, tapi sayang kao terlalu bodoh. Kenapa dia seperti menampakkan muka senang ketika EunFye mati ? apa dia tak berpikir kalau MinHo si detektif itu sedang berada di dekat kita. Apa dia tak berpikir kalau MinHo bakal mencurigainya. Aa~ mengapa aku mempedulikan dia. Dia saja tak mempedulikanku. Biarkan saja dia masuk penjara, toh bukan aku kan hahahahaha.

TaeYoung dan Yummy dua orang yang aku duga berperilaku sama denganku. Mereka terkenal dingin dan jarang sekali berinteraksi. Merekalah panutanku, panutanku untuk membenci seseorang. Mereka unik, beda dengan yang lain. Mereka berkepribadian ganda. Mereka terlihat baik sangat baik seperti seorang malaikat tetapi sebenarnya mereka menusuk dari belakang. Ya, menusuk dengan sakit dan bisa pergi tanpa jejak. Hebat bravo itulah yang selaluku katakana dengan sifat kedua orang ini. Akhir akhir ini aku dengar dengar merekalah yang di curigai polisi. Tapi, MinHo berkata lain, dia tak meyakini kalau kedua orang inilah yang telah membunuh EunFye. MinHo terlalu pintar untuk di kelabui sedikit demi sedikit ia membuka kedokku. Aku harus berbuat sesuatu.


Hari ini hari senin. Aku masuk ke kelas dan menemui MinHo duduk tepat di sebelah bangkuku. Dia memberikan senyuman mautnya kepadaku. Akupn hanya tersenyum kosong untuk membalas senyumannya. Aku menaruh daguku ke meja. Tiba tiba MinHo memegang dahiku dan berkata kalau badan ku panas. Aku hanya tersenyum mendengarnya dan mulai menutup mataku. Sudah berapa lama aku tertidur aku tak tahu itu. Suara Lee Teuk sonsangnim mengejutkanku. Dia menyuruhku untuk berdiri di depan kelas karena tertidur pada saat pelajarannya. Akupun berdiri. Dengan muka dan bibir yang pucat akupun berdiri. Beberapa kali MinHo memperingatkan Lee Teuk sonsangnim kalau aku sedang sakit tapi tetap saja dia menyuruhku berdiri. Hingga akhirnya akupun jatuh pingsan. Aku tak tau bagaimana panicnya dikelas tadi. Yang aku tahu ketika aku terbangun pasti akan berdiri tujuh gadis itu plus satu gadis kotor yang selalu ku katakan itu. Ternyata dugaanku salah, ketika aku membuka mata yang ku temui Cuma MinHo. Dia terlihat sangat panic . Dia memegang erat tanganku. Akupun menyapanya. Diapun sangat senang ketika melihat aku sudah sadar. Tak ter elakkan lagi, sebuah ciuman mendarat di keningku. Aku kaget, aku tak mengerti apa yang dia pikirkan. Dia hanya berkata dia sangat mengkhawatirkanku. Aku tetap masih tak menerima dengan akal sehat mengapa dia menciumku. Dia memegang erat tanganku dan berkata ingin memiliku. Dia mulai menatapku dalam dalam, entah apa yang dipikirkan seorang gadis setelah ini. Berbagai dugaan pun sudah mulai bermunculan. Aku takut sangat takut. Ia mulai mendekati tubuhku. Bibirnya tinggal beberapa inci dari bibirku. Aku mulai mencari gunting yang biasanya ku bawa di kantongku, tapi tak ada. Kemana guntingku ? aku lihat sekelilingku. MinHo pun menunjukkan sebuah benda tajam yang tadi ku cari cari lalu membuangnya. Dia mulai meraba wajahku. Aku mulai berkeringat dingin, aku tak pernah sedekat ini dengn laki laki. Dia mulai mendekati telingaku dan berbisik “I LOVE YOU” . kata kata itu memecah ketakutanku . Dia tertawa melihat tingkahku. Dia mulai mengacak acak rambutku dan berkata kalau aku memang sungguh lucu. Dia berkata aku sungguh berbeda dengan yang lain. Aku binggung apa yang dia katakan dari tadi. Ia kembali menatapku dalam dalam. kenapa ini ?. akupun turun dari kasur UKS itu dan beranjak pergi. Sial, pintunya di kunci aku berusaha mencarinya. MinHo mulai mendekat dan memberikan senyum manisnya. Dia serahkan kunci itu padaku dan akupun langsung pergi dari ruang kecil itu.

Aku syok berat kenapa dia melakukan itu. Apa ia aku gadis yang dia cinta ? tapi akukan tak secantik MinChi dan TaeYoung. Apa yang dia mau ? jangan jangan dia mengetahui bahwa aku lah pembunuhnya. Jangan sampai. Kalau aku dekat dengannya maka kemungkinan besar aku bisa membunuh MinHo dan menghilangkan jejak. ya, aku harus mendekatinya. Sesampai dikelas aku melihat MinHo yang sudah sampai duluan. Akupun duduk di bangkuku. Berhubung aku duduk berdua dengannya, dia selalu mengajakku berbicara. Dia berbicara terus dan terus sampai akhirnya dia membahas tentang kejadian di uks itu. Dia berkata bahwa dia memang sungguh mencintaiku. Dia pun meminta maaf, karena sudah keterlaluan denganku. Dia sadar kalau dia mencintaiku dia harus menjagaku bukan menghancurkanku. Kaliamat demi kalimat terucap dari mulutnya. Aku mulai tersentuh dan berpikir apakah ini rasanya di cintai. Aku tak pernah di cintai aku selalu di benci. Aku tak tau salahku apa sehinggaku di benci tapi tiba tiba MinHo datang dan memberikanku sesuatu yang beda. dia memberiku energi positif. Tiba tiba tersadar dari lamunanku aku tak boleh keluar jalur ! aku mendekati MinHo hanya untuk menghancurkannya bukan mencintainya.

@ChocoTeam : inget ini Cuma ff !!
Engga ada kisah nyata !!
Aku engga pernah dendam dengan kalian !!
Jangan karena ff ini kalian malah berpikir macam macam tentangku !
Di tegaskan lagi
AKU BUKAN PSIKOPAT !!!


XDD

sekian
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silakan ambil manfaat dan jika ada pertanyaan, silakan tulis di form komentar.
Terima kasih atas komentar yang sopan dan menyejukkan.

Item Reviewed: Friends are Pain [1] Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi