Pemain Naturalisasi Indonesia yang Gagal, Sukses, dan Layu Sebelum Berkembang

DMCA.com Protection Status
Loading...
Nama pemain Jong Ajax Ezra Walian ramai dibicarakan menyusul wacana yang menyebutnya ingin mengikuti jejak langkah Stefano Lilipaly yang sukses di Piala AFF 2016.
Jika ditelusuri, keinginan warga negara asing yang mempunyai keinginan untuk menjadi WNI supaya bisa memperkuat timnas atau biasa disebut naturalisasi merupakan hal yang sudah biasa terjadi.
Sudah belasan pemain yang menjalani proses naturalisasi. Namun nyatanya, tak semua sukses. Ada juga yang gagal dan layu sebelum berkembang.
Berikut pemain-pemain naturalisasi yang gagal bersama Timnas Indonesia:

1. Tonnie Harry Cusell Lilipaly (Belanda)
Sepupu Stefano Lilipaly ini tak sanggup menunjukkan kualitasnya seperti yang digembor-gemborkan sebelum dinaturalisasi Indonesia. Dia hanya memperkuat Indonesia dua kali di ajang Piala AFF 2012 di babak grup. Sampai saat ini pemain kelahiran 1983 itu belum pernah dipanggil timnas lagi.

2. Jhon van Beukering (Belanda)
Berstatus sebagai pemain klub top Belanda, Feyenoord, Van Beukering gagal memenuhi ekspektasi publik saat bermain di Piala AFF 2012. Fisiknya yang disebut-sebut gempal membuatnya dianggap tak pantas menjadi pemain timnas.

3. Greg Nwokolo (Nigeria)
Menjadi pemain timnas sejak tahun 2013, Greg bermain di lima laga dengan rincian dua laga persahabatan dan tiga laga kualifikasi Piala Asia. Namun tak ada sumbangan berarti dari Greg yang mandul dalam urusan mencetak gol sehingga belum dipanggil lagi sampai saat ini.

4. Sergio Van Dijk (Belanda)
Hal serupa juga terjadi pada Van Dijk yang menjalani debut bersama Timnas pada 2013 di saat usianya yang tak muda lagi. Meski punya catatan gemilang bersama Adelaide United di Liga Australia dengan menjadi top scorer di musim 2010/11, ketajamannya tak terlihat saat bermain untuk timnas. Dia memainkan lima laga sejak debutnya itu namun tak satupun gol yang bisa ditorehkan pemain kelahiran Belanda itu.

5. Ruben Wuarbanaran (Belanda)
Bergabung bareng Jhonny van Beukering dan Diego Michiels ke Pelita Jaya pada musim 2011-2012, karier Ruben Wuarbanaran di Indonesia melempem. Rahmad Darmawan, pelatih Pelita Jaya kala itu, jarang menurunkan bek kelahiran Wijhe, Belanda, 15 Agustus 1990 tersebut sebagai pemain inti. Kualitasnya dinilai rata-rata air, alias tidak istimewa. Ia sempat ikut seleksi Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2011, namun gagal. Ruben pun ikut terbuang dari Pelita Jaya bareng Van Beukering.

LAYU SEBELUM BERKEMBANG
Di samping pemain yang gagal, ada pula pemain yang layu sebelum berkembang. Pemain-pemain ini bisa dibilang masih dalam usia keemasan. Namun karena kesempatan yang minim, kalah bersaing dengan pemain lain, ataupun karena perilaku yang kurang baik, mereka kemudian harus mengubur (mungkin sementara) impian membela timnas.

1. Kim Jeffrey Kurniawan (Jerman)
Kim menjadi WNI dan tampil hanya sekali di SEA Games 2011 bersama timnas U-23 yang melaju sampai ke babak final. Selepas ajang itu, Kim hanya bermain di sedikit laga timnas senior dan itupun hanya di laga persahabatan. Namanya kian tenggelam seiring munculnya pemain yang berposisi sama dengannya. Salah satunya adalah Diego Michiels yang dinilai lebih memiliki syarat sebagai seorang pemain belakang.

2. Diego Michiels (Belanda)
Sama seperti Kim, Diego juga memperkuat timnas U-23 di ajang SEA Games 2011 usai dinaturalisasi. Nasib serupa juga terjadi pada Diego yang saat naik kelas ke timnas senior hanya bermain di laga persahabatan. Kini, namanya seakan semakin terlupakan oleh pelatih timnas Indonesia. Baik di level U-23 maupun senior.

3. Joey Suk (Belanda)
Pemain naturalisasi ini digadang-gadang sebagai bintang naturalisasi berkat kemampuannya di lini tengah. Namanya seakan terlupakan karena beberapa kali tak memenuhi panggilan karena tak mendapatkan izin dari tim yang dibelanya. Salah satunya yakni saat mendapat panggilan timnas U-23 jelang SEA Games 2011. Namun karena Go Ahead Eagles tak mengizinkannya, ia pun gagal membela Merah Putih.

4. Bio Paulin (Kamerun)
Bio Paulin (lahir di Nanga Eboko, Haute-Sanaga, Provinsi Tengah, Kamerun, 15 April 1984; umur 32 tahun) merupakan seorang pemain sepak bola Kamerun yang berposisi sebagai pemain bertahan. Saat ini ia bermain untuk Persipura Jayapura. Dia termasuk bek yang subur & sering membuat gol-gol krusial. Bio Paulin menyelesaikan proses naturalisasinya menjadi WNI setelah hampir 10 tahun bermain di Indonesia.
Namun, sejak dinaturalisasi 23 Maret tahun lalu, Bio baru satu kali memperkuat timnas Indonesia. Saat itu, pelatih timnas senior Benny Dolo memanggil Bio membela Merah Putih menang 2-1 melawan Myanmar dalam pertandingan uji coba pada 30 Maret 2015.
Konflik PSSI selama kurun 2010-2016 membuat dirinya minim kesempatan bermain di timnas.

5. Guy Junior Ondua (Kamerun)
Guy Junior Ondoua adalah pemain sepak bola Indonesia naturalisasi dari Kamerun berusia 30 tahun. Namanya mencuat setelah dia digadang-gadang akan membela Timnas Indonesia. Namun faktanya, dia sama sekali tidak dilirik oleh pelatih Timnas Alfred Ridl, saat berkompetisi di ajang Piala AFF 2016 kemarin. Guy kini membela Madura United dan kontraknya memang belum ada kejelasan apakah akan diperpanjang. Namun melihat ketatnya persaingan dan kualitasnya, Guy kemungkinan akan dipertahankan.

Tidak semua pemain naturalisasi gagal menunjukkan pengaruhnya buat Timnas Indonesia. Ada beberapa pemain naturalisasi yang justru menjadi sosok penting buat timnas yang berhasil ditunjukkan seperti Stefano Lilipaly. Sejak dinaturalisasi pada 2013, Lilipaly terus menunjukkan permainan menawannya dan menjadi bintang di Piala AFF 2016.
Berikut pemain-pemain naturalisasi yang sukses:

1. Cristian Gonzales (Uruguay)
Berstatus sebagai pemain tajam di kompetisi Indonesia Super League, publik Indonesia begitu berharap Gonzales bisa menjadi pemain tajam bersama timnas. Harapan itu tidak terlalu berat buat pemain kelahiran Uruguay itu. Dia mampu menyumbang delapan gol dari 17 pertandingan bersama timnas di berbagai ajang.

2. Raphael Maitimo (Belanda)
Maitimo juga mampu tampil menawan buat timnas sejak menjalani debut di Piala AFF 2012 dan bermain di 17 laga. Bermain sebagai gelandang, Maitimo juga berhasil menyumbangkan empat gol di berbagai ajang. Andai tak ada pembatasan satu klub hanya boleh memanggil dua pemain buat Timnas Indonesia di Piala AFF 2016, Maitimo punya peluang untuk mendapat panggilan lagi.

3. Victor Igbonefo (Nigeria)
Bek tangguh asal klub Persipura Jayapura muncul sebagai sosok menjanjikan usai menjalani proses naturalisasi pada 2011. Penampilannya bersama timnas juga tak terlalu mengecewakan. Terbukti dengan total 12 laga yang didapatkan Igbonefo bersama Indonesia. Victor Igbonefo mencatat sejarah dipercaya menjadi kapten saat ujicoba dengan Myanmar 30 Maret 2015. Di pertandingan itu, dua gol kemenangan 2-1 dilesakkan pemain naturalisasi melalui Raphael Maitimo pada menit ke-60 dan Gonzales pada menit ke-73. Bek Arema Malang yang sebelumnya berstatus warga negara Nigeria itu mengganti peran Boaz Salossa yang ditarik keluar pada menit ke-40 karena cedera.
Namun faktor usia yang kini sudah tak muda lagi dan munculnya bek-bek lokal muda di Tanah Air membuat pemain kelahiran Nigeria itu sudah tak dipertimbangkan untuk dipanggil.

4. Stefano Lilipaly (Belanda)
Lilipaly baru muncul sebagai pemain naturalisasi yang dianggap berhasil atas penampilan impresifnya di Piala AFF 2016. Meski sudah dinaturalisasi tahun 2013, konflik yang melanda PSSI membuat Lilipaly baru dikenal pada 2016 ini. Bermain dalam sembilan laga di berbagai ajang, pemain kelahiran 1990 itu sukses menyumbang tiga gol buat Indonesia.

Sumber: tribunnews.com, bola.com, bola.net, goal.om
Terima kasih sudah membaca Pemain Naturalisasi Indonesia yang Gagal, Sukses, dan Layu Sebelum Berkembang
Bagikan:

Loading...

Untuk pertanyaan yang memerlukan respon cepat, silakan gunakan Whatsapp.

0 Response to "Pemain Naturalisasi Indonesia yang Gagal, Sukses, dan Layu Sebelum Berkembang"

Posting Komentar

Silakan ambil manfaat dan jika ada pertanyaan, silakan tulis di form komentar.
Terima kasih atas komentar yang sopan dan menyejukkan.