Ringkasan Modul KK. F (Profesional): Apresiasi Puisi

DMCA.com Protection Status
Loading...
Ringkasan Modul KK. F (Profesional): Apresiasi Puisi-- Apresiasi puisi merupakan bagian dari kegiatan apresiasi sastra secara umum. Sebagai bagian dari apresiasi sastra, yang pertama kali harus dipahami bahwa apresiasi sastra termasuk apresiasi puisi perlu diletakkan sebagai bagian dari peristiwa atau fenomena kesenian, bukan merupakan peristiwa atau fenomena keilmuan, sosial, politis, ekonomis dan lain sebagainya .Sebagai peristiwa kesenian, apresiasi sastra lebih bersifat personal bukan komunal. Sebagai peristiwa kesenian yang personal, apresiasi sastra akan lebih banyak bersangkutan dengan jiwa, nurani, budi, rasa, emosi, dan afeksi daripada kemahiran fisikal.
Untuk melakukan apresiasi khususnya apresiasi puisi, pemahaman mendalam tentang apresiasi puisi memang perlu dilakukan. Agar tidak salah dalam melakukan apresiasi puisi, konsep apresiasi perlu dipahami dengan cermat. Apresiasi puisi terkait dengan sejumlah aktivitas yang berhubungan dengan puisi. Aktivitas yang dimaksud dapat berupa kegiatan membaca dan mendengarkan pembacaan puisi melalui penghayatan sungguh-sungguh (Waluyo, 2003: 19). Apresiasi merupakan pengalaman lahiríah dan batiniah yang kompleks (Ichsan, 1990: 10). Apresiasi seseorang terhadap puisi dapat dikembangkan dari tingkat sederhana ke tingkat yang tinggi. Apresiasi tingkat pertama terjadi apabila seseorang memahami atau merasakan pengalaman yang ada dalam sebuah puisi. Apresiasi tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual pembaca bekerja lebih giat. Apresiasi tingkat tiga, pembaca menyadari hubungan kerja sastra dengan dunia luarnya, sehingga pemahamannya pun lebih luas dan mendalam.
Apresiasi puisi berkaitan dengan kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan puisi, yaitu mendengar atau membaca puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh, menulis puisi, dan mendeklamasikan. Kegiatan ini menyebabkan seseorang memahami puisi secara mendalam, merasakan apa yang ditulis penyair, mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung didalam puisi, dan menghargai puisi sebagai karya sastra seni keindahan dan kelemahan.
Kegiatan apresiasi puisi tidak dapat dilepaskan dari pemahaman struktur teks puisi. Kegiatan mengapresiasi puisi dapat dilakukan dengan memahami struktur teks yang membangun puisi. Dengan demikian, untuk mengenal, memahami, dan menghargai puisi, dapat dilakukan dengan mengenal struktur bagian puisi tersebut, baik menyangkut unsur isi maupun bentuk.
Apresiasi sastra sesungguhnya tidak bekerja menggunakan rumus-rumus, pola-pola, atau kaidah-kaidah ataupun perangkat teori sastra tertentu. Rumus-rumus, pola-pola, atau teori sastra yang ada hanyalah sekadar alat bantu dalam proses kegiatan apresiasi. Dengan kata lain, teori-teori dan rumus-rumus dalam kegiatan apresiasi hanyalah merupakan hal yang sekunder sebab tanpa teori dan rumus-rumus sastra, apresiasi sastra termasuk apresiasi puisi tetap dapat berlangsung. Hal primer yang dibutuhkan dalam kegiatan apresiasi puisi hanyalah kesiapan dan keterbukaan kalbu, keadaan cita rasa, kualitas emosi, kejujuran, serta ketajaman rasa dan budi.
Dalam rangkaian kegiatan apresiasi puisi, menghargai puisi merupakan ranah paling tinggi, yang sebelum sampai pada ranah menghargai itu seorang pembaca harus terlebih dahulu melalui ranah mengenali, menikmati, dan memahami. Dalam kegiatan apresiasi sastra termasuk apresiasi puisi akan terjadi interaksi yang intens antara manusia (pembaca/apresiator) dan sastra.
Herman J Waluyo (2005: 45) menyebutkan ada empat tingkatan apresiasi yakni tingkat menggemari, tingkat menikmati, tingkat mereaksi dan tingkat produktif. Sedangkan Wardani (1981) menyebutkan ada empat tahap dalam mengapresiasi karya sastra, yaitu (1) tingkat menggemari, yang ditandai oleh adanya rasa tertarik pada buku buku sastra serta ada keinginan untuk membacanya; (2) tingkat menikmati, yaitu mulai dapat menikmati cipta sastra karena mulai tumbuh pengertian; (3) tingkat mereaksi, yaitu mulai ada keinginan untuk menyatakan pendapat tentang cipta sastra yang dinikmati misalnaya dengan menulis sebuah resensi atau diskusi sastra, serta (4) tingkat produksi, mulai ikut menghasilkan karya sastra.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tahap mengapresiasi karya sastra meliputi: menyenangi, menghargai, memahami, menghayati, dan memproduksi. Tahap paling dasar adalah menyenangi sedangkan tahap paling tinggi adalah memproduksi.
Pembelajaran apresiasi sastra di sekolah menurut Maman S Mahayana (2007:1) adalah agar siswa dapat menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kewmampuan berbahasa. Selain itu, para siswa lebih dapat menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Dalam kegiatan apresiasi sastra -termasuk apresiasi puisi- akan terjadi interaksi yang intens antara manusia (pembaca/apresiator) dan sastra.

Terjadinya interaksi yang intens ini berarti menuntut adanya perjumpaan mesra dan akrab antara manusia sebagai pengapresiasi dan puisi sebagai yang diapresiasi. Karena itu sebenarnya pengajaran apresiasi puisi bertujuan sebagai upaya membangun dunia perjumpaan antara siswa dan puisi secara akrab dan mesra, yang paling tidak dalam proses apresiasi itu dapat diperoleh empat hal, yakni: (1) pengalaman, (2) pengetahuan, (3) kesadaran, dan (4) hiburan.
Yang dimaksud dengan pemerolehan pengalaman dalam tindak apresiasi puisi ini bukanlah pengalaman empiris, fisikal dan yang memerlukan tindak jasmani, melainkan pengalaman yang nonempiris, nonfisikal, dan cenderung berupa pengalaman rohaniah-batiniah. Pengalaman rohaniah-batiniah ini berupa pengalaman (a) literer-estetis, (b) pengalaman humanistis, (c) pengalaman etis dan moral, (d) pengalaman filosofis, dan (e) pengalaman religius-sufistis-profetis.
Pengalaman-pengalaman ini diuraikan lebih jauh berikut ini.
a) Pengalaman literer-estetis.
Yang dimaksud dengan pengalaman literer-estetis adalah pemerolehan pengalaman-pengalaman keindahan, keelokan, kebagusan, dan keterpikatan.Pengalaman ini dapat diperoleh dari diksi, bahasa, majas, rima, atau unsur-unsur lain yang terdapat dalam puisi
b) Pengalaman humanistis.
Dalam membaca dan mengapresiasi puisi sering juga dapat dinikmati pengalaman-pengalaman humanistis, pengalaman-pengalaman manusiawi, pengalaman-pengalaman hidup dan kehidupan manusia. Pengalaman humanistis ini merupakan pengalaman yang berisi dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan, pemuliaan harkat martabat manusia, menggambarkan kondisi dan situasi yang manusiawi.Penggambaran kondisi situasi yang manusiawi ini tidak saja hal-hal yang menyenangkan, indah, dan bahagia tetapi juga dapat berupa peristiwa tragis, dramatis, sinis, ironis, humoristis, murung, bahkan bisa juga garang.
c) Pengalaman Etis dan Moral
Pengalaman etis dan moral yang dapat diperoleh dalam mengapresiasi puisi mengacu pada pengalaman yang berisi dan bermuatan bagaimana seharusnya sikap dan tindakan manusia terhadap sesama, serta pengalaman yang menyajikan bagaimana kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagai manusia. Dalam hal ini, puisi menghadirkan kelebatan-kelebatan masalah, pesan etis dan moral yang dapat ditangkap radar-radar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan kita sebagai pembaca dan apresiator.
d) Pengalaman Filosofis
Teks sastra termasuk puisi sudah sejak lama diperlakukan sebagai media atau wahana pengungkapan dan pencetusan gagasan-gagasan filosofis yang muncul dari daya renungan (kontemplasi) pengarangnya.Sehubungan dengan hal ini, pada saat kita membaca dan mengapresiasi puisi kita dapat menggali persoalan filosofis atau persoalan yang direnungkan oleh penyairnya lewat puisi tersebut.
Pengalaman-pengalaman filososis ini akan diperoleh bilamana radar-radar nurani, rasa, dan budi kita terarah secara tajam dan peka terhadap renungan-renungan hidup-kehidupan yang terdapat dalam puisi. Renungan filosofis ini dapat berupa renungan tentang hidup-mati, renungan tentang kejadian, renungan tentang apa dan siapa manusia, dan sebagainya.
e) Pengalaman Religius-Sufistis-Profetis
Pengalaman religius-sufistis-profetis merupakan pengalaman yang berkaitan dengan nilai-nilai ketuhanan yang dapat diperoleh saat kita mengapresiasi sebuah puisi. Pengalaman ini pada dasarnya merupakan pengalaman transendental dan spiritual dan kesadaran akan adanya Yang Di Atas Sana, yang membawa kita pada suasana yang mistis dan pasrah terhadap kekuasaan dan kehadiran-Nya.
Pengalaman-pengalaman religius ini dapat diperoleh bilamana radar-radar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan kita mampu tersentuh dan menangkap fenomena-fenomena yang ditandai oleh kesadaran keilahian yang diungkapkan dalam sebuah puisi.

Di samping menghidangkan pengalaman-pengalam seperti terurai di atas, proses mengapresiasi puisi juga dapat memberikan seperangkat pengetahuan.Yang dimaksud dengan pemerolehan pengetahuan dalam kegiatan apresiasi ini adalah hal-hal yang dapat kita peroleh yang bersifat konseptual dan kognitif (pemahaman) dari karya puisi. Pengetahuan-pengetahuan itu antara lain (a) pengetahuan tentang literer-estetis, misalnya struktur puisi, estetika puisi, (b) pengetahuan humanistis, (c) pengetahuan mengenai religiositas, (d) pengetahuan tentang sosial-politik, (e) pengetahuan tentang nilai-nilai budaya, (f) pengetahuan tentang kesejarahan dan (g) pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan moralitas. Bekal-bekal dasar ini diuraikan sebagai berikut:
(1) Kemauan, kesudian, dan ketetapan hati untuk mengakrabi dan menggumuli puisi merupakan bekal dasar paling utama yang harus ada dan dimiliki oleh apresiator. Tanpa kemauan, kesudian, kesediaan, dan ketetapan hati niscaya kegiatan apresiasi puisi tidak akan dapat berlangsung. Sebagai contoh, jika seseorang akan mengapresiasi kumpulan puisi Asmaradana karya Goenawan Muhhamad, maka pertama-tama dia harus memiliki kemauan, kesudian, dan ketetapan hati untuk menggumuli, menggauli, dan mengakrabi puisi terlebih dahulu. Tanpa ini semua jelas bahwa orang tersebut tidak akan mampu untuk mengapresiasinya.
(2) Keyakinan bahwa teks puisi dapat memenuhi hajat rohaniah manusia, menjadi tempat mendulang bahan-bahan renungan, merupakan syarat dasar kedua agar kegiatan apresiasi puisi dapat berlangsung. Sebagai contoh jika seseorang ingin mengapresiasi puisii-puisi Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni, maka terlebih dahulu dia harus yakin bahwa puisi Hujan Bulan Juni itu dapat menjadi bahan renungan dan memenuhi kebutuhan rohaniahnya.
(3) Pengalaman hidup sehari-hari juga nerupakan bekal dasar selanjutnya. Dengan adanya dan dimilikinya pengalaman hidup sehari-hari proses kegiatan apresiasi puisi dapat berlangsung lancar dan berkualitas. Pengalaman hidup sehari-hari itu akan memantapkan proses apresiasi puisi.

(4) Kemampuan dan kemahiran berbahasa juga merupakan bekal dasar yang perlu dimiliki oleh pengapresiasi puisi. Tanpa kemampuan dan kemahiran berbahasa mustahil sebuah kegiatan apresiasi puisi dapat berlangsung.
Keempat bekal dasar tersebut di atas menjadi semacam prasyarat agar seseorang dapat melakukan kegiatan apresiasi puisi. Keempat bekal dasar tersebut menentukan lancar tidaknya proses apresiasi puisi. Untuk memilikinya seorang calon apresiator tidak perlu mengikuti pembelajaran secara khusus karena empat bekal dasar ini dapat dimiliki selama menjalani hidup dan kehidupan.
Sedangkan yang dimaksud dengan bekal lanjut ialah bekal tambahan yang seyogyanya dimiliki oleh pengapresiasi puisi agar proses apresiasi puisi yang dilakukan menjadi lebih mendalam, lebih bermakna, lebih luas, lebih kaya, dan lebih tajam.
Bekal-bekal lanjut yang disarankan dalam tindak mengapresiasi puisi itu antara lain ialah; (1) pengetahuan tentang lambang-lambang bahasa, lambang-lambang sastra, dan lambang-lambang budaya (kode bahasa, kode sastra, dan kode budaya), (2) pengetahuan tentang manusia dan kemanusiaan dengan segala sisi kehidupannya, (3) pengetahuan tentang masyarakat dan budaya dengan segala ragam persoalannya, (4) pengetahuan tentang sastra yang mencakup karya sastra, teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra, dan (5) pengetahuan linguistik dan stilistik yang bersangkutan dengan bunyi-bunyi bahasa, kata, kalimat, gaya, imaji dan sebagainya.

3. Unsur-Unsur Puisi
Unsur-unsur puisi terdiri dari struktur fisik dan struktur batin puisi antara lain sebagai berikut.
a. Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi dari luar (Waluyo, 1991:71). Puisi disusun dari kata dengan bahasa yang indah dan bermakna yang dituliskan dalam bentuk bait-bait. Orang dapat membedakan mana puisi dan mana bukan puisi berdasarkan bentuk lahir atau fisik yang terlihat.
Berikut ini akan dibahas struktur fisik puisi yang meliputi : diksi, imajinasi, kata konkret, majas, verifikasi, majas dan tipografi.
1)Diksi atau Pilihan Kata
Salah satu hal yang ditonjolkan dalam puisi adalah kata-katanya ataupun pilihan katanya. Bahasa merupakan sarana utama dalam puisi. Dalam menciptakan sebuah puisi penyair mempunyai tujuan yang hendak disampaikan kepada pembaca melalui puisinya. Penyair ingin mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami hatinya. Selain itu juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Untuk itulah harus dipilih kata-kata yang setepat-tepatnya. Penyair juga ingin mempertimbangkan perbedaan arti yang sekecil-kecilnya dengan cermat.
Penyair harus cermat memilih kata-kata karena kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, kompisisi bunyi, dalam rima dan irama serta kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Dengan uraian singkat diatas, ditegaskan kembali betapa pentingnya diksi bagi suatu puisi. Menurut Tarigan (1984:30), pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, nada suatu puisi dengan tepat.
2)Imajinasi
Semua penyair ingin menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialaminya kepada para pembacanya melalui karyanya. Salah satu usaha untuk memenuhi keinginan tersebut ialah dengan pemilihan serta penggunaan kata-kata dalam puisinya (Tarigan, 1984:30). Ada hubungan yang erat antara pemilihan kata-kata, pengimajian dan kata konkret, di mana diksi yang dipilih harus menghasilkan dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati dalam penglihatan, pendengaran atau cita rasa. Pengimajian dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan (Waluyo, 1991: 97).
Pilihan serta penggunaan kata-kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan energi tersebut dapat mendorong imajinasi atau daya bayang kita untuk menjelmakan gambaran yang nyata. Dengan menarik perhatian kita pada beberapa perasaan jasmani sang penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga mereka menganggap bahwa merekalah yang benar-benar mengalami peristiwa jasmaniah tersebut (Tarigan, 1984:30). Dengan menarik perhatian pembacanya melalui kata dan daya imajinasi akan memunculkan sesuatu yang lain yang belum pernah dirasakan oleh pembaca sebelumnya. Segala yang dirasai atau dialami secara imajinatif inilah yang biasa dikenal dengan istilah imagery atau imaji atau pengimajian (Tarigan, 1984:30).
Dalam puisi kita kenal bermacam-macam (gambaran angan) yang dihasilkan oleh indera pengihatan, pendengaran, pengecapan, rabaan, penciuman, pemikiran dan gerakan (Pradopo, 1990:81). Selanjutnya terdapat juga imaji penglihatan (visual), imaji pendengaran (auditif) dan imaji cita rasa (taktil) (Waluyo, 1991:79). Semua imaji di atas bila dijadikan satu, secara keseluruhan dikenal beberapa macam imajinasi, yaitu :
a) Imajinasi Visual, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seolah-olah seperti melihat sendiri apa yang dikemukakan atau diceritakan oleh penyair.
b) Imajinasi Auditori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar sendiri apa yang dikemukakan penyair. Suara dan bunyi yang dipergunakan tepat sekali untuk melukiskan hal yang dikemukakan, hal ini sering menggunakan kata-kata onomatope.
c) Imajinasi Articulatori, yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca seperti mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut waktu kita membaca sajak itu seakan-akan kita melihat gerakan-gerakan mulut membunyikannya, sehingga ikut bagian-bagian mulut kita dengan sendirinya
d) Imajinasi Olfaktori, yakni imajinasi penciuman atau pembawaan dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu kita seperti mencium bau sesuatu. Kita seperti mencium bau rumput yang sedang dibakar, kita seperti mencium bau tanah yang baru dicangkul, kita seperti mencium bau bunga mawar, kita seperti mencium bau apel yang sedap dan sebagainya.
e) Imajinasi Gustatori, yakni imajinasi pencicipan. Dengan membaca atau mendengar kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam dan sebagainya.

f) Imajinasi Faktual, yakni imajinasi rasa kulit, yang menyebabkan kita seperti merasakan di bagian kulit badan kita rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh perubahan suhu udara.
g) Imajinasi Kinaestetik, yakni imajinasi gerakan tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan badan atau otot-otot tubuh.
h) Imajinasi Organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita seperti melihat atau merasakan badan yang capai, lesu, loyo, ngantuk, lapar, lemas, mual, pusing dan sebagainya.
Imaji-imaji di atas tidak dipergunakan secara terpisah oleh penyair melainkan dipergunakan bersama-sama, saling memperkuat dan saling menambah kepuitisannya (Pradopo, 1990:81).
3) Kata Konkret
Salah satu cara untuk membengkitkan daya bayang atau daya imajinasi para penikmat sastra khususnya puisi adalah dengan menggunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang kongkret, yang dapat menyaran pada suatu pengertian menyeluruh. Semakin tepat sang penyair menggunakan kata-kata atau bahasa dalam karya sastranya maka akan semakin kuat juga daya pemikat untuk penikmat sastra sehingga penikmat sastra akan merasakan sensasi yang berbeda. Para penikmat sastra akan menganggap bahwa mereka benar-benar melihat, mendengar, merasakan, dan mengalami segala sesuatu yang dialami oleh sang penyair (Tarigan,1984:32). Dengan keterangan singkat diatas maka dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang dapat di tangkap dengan indra (Siswanto,2008:119).
4) Majas atau Bahasa Figuratif
Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang (Waluyo, 1991:83).
Bahasa kias merupakan wujud penggunaan bahasa yang mampu mengekspresikan makna dasar ke asosi lain. Kiasan yang tepat dapat menolong pembaca merasakan dan melihat seperti apa yang dilihat atau apa yang dirasakan penulis. Seperti yang diungkapkan Pradopo bahwa kias dapat menciptakan gambaran angan/ citraan (imagery) dalam diri pembaca yang menyerupai gambar yang dihasilkan oleh pengungkapan penyair terhadap obyek yang dapat dilihat mata, saraf penglihatan, atau daerah otak yang bersangkutan (1990:80). Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair karena: (1) Bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) Bahasa figuratif dalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak menjadi kongret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca, (3) Bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas, (4) Bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat (Waluyo, 1991:83). Adapun bahasa kias yang biasa digunakan dalam puisi ataupun karya sastra lainnya yaitu:
a) Perbandingan/Perumpamaan (Simile)
Perbandingan atau perumpamaan (simile) ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama, laksana dan kata-kata pembanding lainnya.
b) Metafora
Bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana dan sebagainya. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama.
c) Personifikasi
Kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia. Benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir dan sebagainya. Seperti halnya manusia dan banyak dipergunakan penyair dulu sampai sekarang.
Personifikasi membuat hidup lukisan di samping itu memberi kejelasan kebenaran, memberikan bayangan angan yang konkret.
d) Hiperbola
Kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca.
e) Metonimia
Bahasa kiasan yang lebih jarang dijumpai pemakaiannya. Metonimia ini dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat hubungannya dengan mengganti objek tersebut.
f) Sinekdoki (Syneadoche)
Bahasa kiasan yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri.
Sinekdoke ada dua macam
- Pars Prototo : sebagian untuk keseluruhan
- Totum Proparte : keseluruhan untuk sebagian
(Pradopo, 1990:78).
g) Allegori
Cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal lain atau kejadian lain.
Perlambangan yang dipergunakan dalam puisi :
Lambang warna
Lambang benda: penggunaan benda untuk menggantikan sesuatu yang
ingin diucapkan.
Lambang bunyi : bunyi yang diciptakan penyair untuk melambangkan perasaan tertentu.
Lambang suasana : suasana yang dilambangkan dengan suasana lain yang lebih konkret.
5) Verifikasi (Rima, Ritma dan Metrum)
Versifikasi terdiri dari rima, ritma dan metrum.
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalisasi atau orkestrasi sehingga puisi menjadi menarik untuk dibaca.
Dalam puisi banyak jenis rima yang kita jumpai antara lain :
Menurut bunyinya :
(1) Rima sempurna bila seluruh suku akhir sama bunyinya
(2) Rima tak sempurna bila sebagian suku akhir sama bunyinya
(3) Rima mutlak bila seluruh bunyi kata itu sama
(4) Asonansi perulangan bunyi vokal dalam satu kata
(5) Aliterasi : perulangan bunyi konsonan di depan setiap kata secara berurutan
(6) Pisonansi (rima rangka) bila konsonan yang membentuk kata itu sama, namun vokalnya berbeda.
Menurut letaknya
(1) Rima depan : bila kata pada permulaan baris sama
(2) Rima tengah : bila kata atau suku kata di tengah baris suatu puisi itu sama
(3) Rima akhir bila perulangan kata terletak pada akhir baris
(4) Rima tegak bila kata pada akhir baris sama dengan kata pada permulaan baris berikutnya.
(5) Rima datar bila perulangan itu terdapat pada satu baris.
Menurut letaknya dalam bait puisi :
(1) Rima berangkai dengan pola aabb, ccdd……….
(2) Rima berselang dengan pola abab, cdef……
(3) Rima berpeluk dengan pola abba, cddc……..
(4) Rima terus dengan pola aaaa, bbbb……..
(5) Rima patah dengan pola abaa, bcbb……
(6) Rima bebas : rima yang tidak mengikuti pola persajakan yang disebut sebelumnya (Waluyo, 1991:93).
(7) Efoni kombinasi bunyi yang merdu dan indah untuk menggambarkan perasaan mesra, kasih sayang, cinta dan hal-hal yang menggembirakan.
(8) Kakafoni kombinasi bunyi yang tidak merdu, parau dan tidak cocok untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau, serba tak teratur, bahkan memuakkan. Pertentangan bunyi, tinggi rendah, panjang pendek, keras lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan (Waluyo, 1991:94). Ritma terdiri dari tiga macam, yaitu :
1) Andante : Kata yang terdiri dari dua vokal, yang menimbulkan irama lambat
2) Alegro : Kata bervokal tiga, menimbulkan irama sedang
3) Motto Alegro : kata yang bervokal empat yang menyebabkan irama cepat.
Metrum
Perulangan kata yang tetap bersifat statis (Waluyo, 1991:94). Nama metrum didapati dalam puisi sastra lama. Pengertian metrum menurut Pradopo adalah irama yang tetap, pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu (Pradopo, 1990:40). Peranan metrum sangat penting dalam pembacaan puisi dan deklamasi. Ada bermacam tanda yang biasa diberikan pada tiap kata. Untuk tekanan keras ditandai dengan ( / ) di atas suku kata yang dimaksudkan, sedangkan tekanan lemah diberi tanda ( U ) di atas suku katanya.
6) Tipografi atau Perwajahan
Ciri-ciri yang dapat dilihat sepintas dari puisi adalah perwajahannya atau tipografinya. Melalui indera mata tampak bahwa puisi tersusun atas kata-kata yang membentuk larik-larik puisi. Larik-larik itu disusun ke bawah dan terikat dalam bait-bait. Banyak kata, larik maupun bait ditentukan oleh keseluruhan makna puisi yang ingin dituliskan penyair. Dengan demikian satu bait puisi bisa terdiri dari satu kata bahkan satu huruf saja. Dalam hal cara penulisannya puisi tidak selalu harus ditulis dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan seperti bentuk tulisan umumnya. Susunan penulisan dalam puisi disebut tipografi (Pradopo, 1990:210).
Struktur fisik puisi membentuk tipografi yang khas puisi. Tiprografi puisi merupakan bentuk visual yang bisa memberi makna tambahan dan bentuknya bisa didapati pada jenis puisi konkret. Tipografi bentuknya bermacam-macam antara lain berbentuk grafis, kaligrafi, kerucut dan sebagainya. Jadi tipografi memberikan ciri khas puisi pada periode angkatan tertentu.
b. Struktur Batin Puisi (Hakikat Puisi)
Struktur batin puisi atau struktur makna merupakan pikiran perasaan yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991:47). Struktur batin puisi merupakan wacana teks puisi secara utuh yang mengandung arti atau makna yang hanya dapat dilihat atau dirasakan melalui penghayatan. Menurut I.A Richards sebagaimana yang dikutip Herman J. Waluyo menyatakan batin puisi ada empat, yaitu : tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), amanat (intention) (Waluyo, 1991:180-181). Berikut ini akan dibahas struktur batin puisi.
1) Tema
Dalam sebuah puisi tentunya sang penyair ingin mengemukakan sesuatu hal bagi penikmat puisinya. Sesuatu yang ingin diungkapkan oleh penyair dapat diungkapkan melalui puisi atau hasil karyanya yang dia dapatkan melalui pengelihatan, pengalaman ataupun kejadian yang pernah dialami atau kejadian yang terjadi pada suatu masyarakat dengan bahasanya sendiri. Dia ingin mengemukakan, mempersoalkan, mempermasalahkan hal-hal itu dengan caranya sendiri. Atau dengan kata lain sang penyair ingin mengemukakan pengalaman pribadinya kepada para pembaca melalui puisinya (Tarigan, 1984:10). Inilah tema, tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh sang penyair yang terdapat dalam puisinya (Siswanto, 2008:124).
Dengan latar belakang pengetahuan yang sama, penafsir-penafsir puisi akan memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tafsir puisi bersifat lugas, obyektif dan khusus (Waluyo, 1991:107). Berikut ini dipaparkan macam-macam tema puisi sesuai dengan Pancasila.
1) Tema Ketuhanan
Puisi-puisi bertema ketuhanan biasanya akan menunjukkan religius experience atau “pengalaman religi” penyair yang didasarkan tingkat kedalaman pengalaman ketuhanan seseorang. Dapat juga dijelaskan sebagai tingkat kedalaman iman seseorang terhadap agamanya atau lebih luas lagi terhadap Tuhan atau kekuasaan gaib (Waluyo, 1991:107). Kedalaman rasa ketuhanan itu tidak lepas dari bentuk fisik yang terlahir dalam pemilihan kata, ungkapan, lambang, kiasan dan sebagainya yang menunjukkan betapa erat hubungan antara penyair dengan Tuhan. Juga menunjukkan bagaimana penyair ingin Tuhan mengisi seluruh kalbunya. (Waluyo, 1991:108).
2) Tema Kemanusiaan
Tema kemanusiaan bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembaca bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Perbedaan kekayaan, pangkat dan kedudukan seseorang tidak boleh menjadi sebab adanya perbedaan perlakuan terhadap kemanusiaan seseorang (Waluyo, 1991:112).
3) Tema Patriotisme/Kebangsaan
Tema patriotisme dapat meningkatkan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air. Banyak puisi yang melukiskan perjuangan merebut kemerdekaan dan mengisahkan riwayat pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan atau melawan penjajah. Tema patriot juga dapat diwujudkan dalam bentuk usaha penyair untuk membina kesatuan bangsa atau membina rasa kenasionalan (Waluyo, 1991:115).
4) Tema Kedaulatan Rakyat
Penyair begitu sensitif perasaannya untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat dan menentang sikap sewenang-wenang pihak yang berkuasa, di dapati dalam puisi protes. Penyair berharap orang yang berkuasa memikirkan nasib si miskin. Diharapkan penyair agar kita semua mengejar kekayaan pribadi, namun juga mengusahakan kesejahteraan bersama.
5) Tema Keadilan Sosial
Nada protes sosial sebenarnya lebih banyak menyuarakan tema keadilan sosial dari pada tema kedaulatan rakyat. Yang dituliskan dalam tema keadilan sosial adalah ketidakadilan dalam masyarakat dengan tujuan untuk mengetuk nurani pembaca agar keadilan sosial ditegakkan dan diperjuangkan.
2) Perasaan Penyair (Feeling)
Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya. Perasaan penyair dalam puisinya dapat dikenal melalui penggunaan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisinya karena dalam menciptakan puisi suasana hati penyair juga ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca (Waluyo, 1991:121). Hal ini selaras dengan pendapat Tarigan (1984:11) yang menyatakan bahwa rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya.
3) Nada dan Suasana
Menurut Tarigan (1984:17) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nada dalam dunia perpuisian adalah sikap sang penyair terhadap pembacanya atau dengan kata lain sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya.
4) Amanat (Pesan)
Penyair sebagai sastrawan dan anggota masyarakat baik secara sadar atau tidak merasa bertanggugjawab menjaga kelangsungan hidup sesuai dengan hati nuraninya. Oleh karena itu, puisi selalu ingin mengandung amanat (pesan). Meskipun penyair tidak secara khusus dan sengaja mencantumkan amanat dalam puisinya. amanat tersirat di balik kata dan juga di balik tema yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1991:130). Amanat adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan,pesan, tujuan yang hendak disampaikan penyair melalui puisinya.

Contoh Analisis Puisi Berdasarkan Struktur Fisik dan Struktur Batin Puisi
Karangan Bunga (Karya: Taufiq Ismail)
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi

Struktur fisik puisi terdiri diksi, imajinasi, kata konkret, majas, verifikasi, tipografi. Pemilihan kata dalam puisi ini menunjukkan tingkat atau daya imajinasi yang tinggi. Kata yang digunakan juga menggunakan kata kongkret kendati dalam kata-kata itu mengandung makna yang tidak terduga sebelumnya. Seperti terlihat pada baris Tiga anak kecil kalimat ini sebenarnya mengandung arti tiga tuntutan rakyat yang disuarakan oleh mahasiswa pada saat itu. Tetapi jika melihat struktur puisi secara keseluruhan memang secara nyata terlihat ada tiga orang anak kecil yang datang melayat dengan membawa karangan bunga. Kata-kata yang digunakan juga mengacu pada makna yang berbeda dengan makna atau dengan kata lain penyair menggunakan majas yang mengumpamakan sesuatu. Rima dalam puisi ini tergolong pada rima bebas yaitu rima yang tidak menikuti pola persajakan. Ritma puisi ini berbentuk andante yaitu nada yang menimbulkan irama lambat.

Sumber: Modul Guru Pembelajar, Kemdikbud

Terima kasih sudah membaca Ringkasan Modul KK. F (Profesional): Apresiasi Puisi
Bagikan:

Loading...

Untuk pertanyaan yang memerlukan respon cepat, silakan gunakan Whatsapp.

0 Response to "Ringkasan Modul KK. F (Profesional): Apresiasi Puisi"

Posting Komentar

Silakan ambil manfaat dan jika ada pertanyaan, silakan tulis di form komentar.
Terima kasih atas komentar yang sopan dan menyejukkan.