Widget HTML Atas

2016, Bersiap Hadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)

2016, Bersiap Hadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)
Tahun baru sudah dimulai. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016 pun di depan mata. Kelompok yang akan lebih terdampak penerapan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah generasi muda. Pasalnya, mereka akan bersaing dengan tenaga kerja dari berbagai negara di Asia Tenggara.

Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, Dr I Nyoman Jampel MPd mengatakan, ada dua kunci agar generasi muda Indonesia siap bersaing di era MEA.
"Kemampuan bahasa dan information technology (IT) merupakan dua hal pokok mesti dikuasai lulusan perguruan tinggi jika nantinya ingin bersaing dengan tenaga kerja berasal dari berbagai negara lingkup ASEAN," kata Jampel.

Delapan Profesi
Pejawat Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan tokoh sarikat buruh Jumhur Hidayat mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan ketika menghadapi pelaksanaan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Apalagi, pada kenyataannya, tidak semua jenis pekerjaan bisa menjadi profesi lintas negara.
"Menurut perjanjian MRA (Mutual Recognition Agreement) tahun 2013 hanya delapan jenis pekerjaan atau profesi yang bisa lintas antarnegara ASEAN. Itu adalah arsitek, insinyur sipil, dokter umum, dokter gigi, akuntan, pemandu wisata (guide), tenaga surveyor, dan perawat. Di luar jenis profesi luar itu tak bisa lintas negara,’’ kata Jumhur kepada Republika.co.id, Senin (4/1).

Jadi tidak benar bila profesi lain, misalnya sopir atau tukang ojek, di Indonesia nantinya akan diisi oleh orang dari negara-negara ASEAN. Hal inilah yang sering disalahpahami seolah-olah semua jenis pekerjaan yang ada di Indonesia bisa diambil para pekerja asing.
"Meski begitu, memang ada sayangnya. Kedelapan jenis pekerjaan yang bisa lintas negara itu, Indonesia sendiri masih kekurangan. Salah satu contohnya adalah minimnya jumlah dokter dan insinyur atau arsitek. Di situ nanti kita bisa kebanjiran tenaga asing. Jadi, jangan heran misalnya nanti di kota kecil di pedalaman Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, atau Papua ada dokter dari Thailand. Ya itulah imbas berlakunya MEA," katanya.

Kepada pihak pemerintah, lanjut Jumhur, harus serius memperhatikan kualitas serta lalu lintas pekerja asal negara-negara ASEAN. Diharapkan mereka juga harus mengenal budaya, agama, adat istiadat, dan hukum yang berlaku di Indonesia.
"Mereka juga hendaknya dipersyaratkan bisa berbahasa Indonesia. Jadi, tidak bisa dilepas begitu saja pengaturannya," ujar Jumhur.

Keunggulan Indonesia
Kepala Bagian Perlindungan Konsumen Kementerian Koordinator Perekonomian Anas Arief mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar dalam memenangkan persaingan pada Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Sektor kontruksi seperti membuat jalan dan gedung, Indonesia unggul dibandingkan negara-negara lain di Asean.
"Cuma, kelemahan kita satu, bidang itu belum kita sertifikasi, jadi misal ahli buat gedung kan harus ada sertifikasinya," katanya kepada Republika.co. id, Ahad (3/1).

Keunggulan lain juga ada pada sektor kesehatan, dimana secara profesional talenta Indonesia diakui Jepang, namun lagi-lagi sertifikasinyabbelum punya. Hal serupa juga terjadi pada bidang kelautan, diaman ia katakan, Indonesia lebih unggul dan diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
"Tapi untuk jasa-jasa tertentu seperti pariwisata kita harus waspadai, karena belum siap," lanjutnya.

Padahal, sektor pariwisata, lanjutnya, sektor yang paling mudah dan menguntungkan secara cepat bagi Indonesia, namun banyak yang belum disertifikasi seperti pengemudi.
"Akhirnya datang orang asing namanya guide dan driver asing dengan SIM interbasional," katanya menambahkan.

Ia menambahkan, ada beberapa negara di asean yan lebih militan dan ulet karena penghasilannya kecil seperti Vietnam. Dan, Indonesia menjadi pasar yang paling menjanjikan bagi Asean karena banyaknya jumlah penduduk di bumi pertiwi ini.

Sebagai antisipasinya, Indonesia harus berdayakan para masyarakat di daerah-daerah serta menerapkan kebijakan penggunaan bahasa daerah kepada tenaga kerja asing yang hendak kerja di daerah di Indonesia. Menurutnya, hal ini diperbolehkan dengan jangka waktu yang ditetapkan.
Hal ini tentu harus disertai dengan perbaikan sertifikasi yang dilakukan Indonesia.

Bicara daya saing produk lokal, ia menilai, produk lokal sudah unggul dari segi kualitas. Namun, pada tahap kemasannya kerap tertinggal dari negara-negara lain di Asean seperti Malaysia dan Thailand
"Itu harus kita genjot baik dari pemerintah maupun swasta," tegas dia.

Indonesia Defisit 30 Ribu Insinyur
Namun, Indonesia belum sepenuhnya siap, misalnya dalam bidang teknik. Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2015-2018 Hermanto Dardak secara terbuka mengakui bahwa Indonesia sampai sekarang kekurangan tenaga profesional insinyur untuk menghadapi MEA. "Kami akui, Indonesia masih kekurangan (insinyur), baik jumlah maupun 'skill' yang harus dimiliki untuk menghadapi MEA dan pasar global," kata Hermanto dalam Refleksi Akhir Tahun 2015 di Jakarta.

Sampai saat ini, Indonesia hanya memiliki 750 ribu insinyur, tetapi tidak semua bekerja di bidangnya atau yang bekerja menjadi insinyur hanya 40 persen. Padahal, katanya, permintaan insinyur mencapai sekira 120 ribu orang pada lima tahun ke depan (2015-2019). Keberadaan mereka diperlukan untuk mendukung pembangunan infrastruktur dalam periode yang sama senilai Rp5.500 triliun.
"Sehingga diperlukan tambahan insinyur baru 65 ribu orang per tahun namun baru terpenuhi sekira 35 ribu insinyur saja per tahun. Artinya, kita kekurangan sekira 30 ribu insinyur setiap tahun," imbuhnya.

Hermanto menyebut, saat ini Indonesia hanya memiliki 3.000 insinyur per satu juta penduduk. Sedangkan di negara lain, seperti di ASEAN, jumlahnya sudah di atas 4.000 orang per satu juta penduduk. Meski begitu, lanjut Hermanto, pihaknya yakin bahwa para insinyur Indonesia mampu bersaing dan berkompetisi secara global, asalkan diberi kepercayaan dan ruang tantangan yang sama.
"Dari 750 ribu insinyur itu, lebih dari 10 ribu sudah tersertifikasi dan yang memiliki sertifikat global sekira 1.900 insinyur. Ini harus ditingkatkan dari waktu ke waktu," tegasnya.

Sumber:
http://news.okezone.com/read/2016/01/01/65/1278773/mea-indonesia-defisit-30-ribu-insinyur
http://news.okezone.com/read/2016/01/02/65/1279259/dua-kunci-siap-saing-di-mea
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/01/04/o0fcks385-hanya-delapan-profesi-yang-bisa-lintas-asean
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/01/03/o0dgkk385-ini-keunggulan-indonesia-hadapi-mea

Posting Komentar untuk "2016, Bersiap Hadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)"

Perhatian: Untuk artikel soal, KUNCI JAWABAN klik tautan di soal terakhir

Berlangganan via Email