5W1H Tahun Ini Rupiah Anjlok, Ekonom Sebut Tetap Lebih Parah Krisis Ekonomi 1998

loading...
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.
Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:

Apa, Di mana, dan Kapan
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menimbulkan anggapan kondisi ekonomi Indonesia pada saat ini lebih buruk dari tahun 1998.

Siapa, Mengapa, dan Bagaimana
Dilansir TribunWow.com dari Kompas.com, Rabu (5/9/2018), Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memastikan depresiasi atau pelemahan rupiah yang terjadi pada saat ini berbeda dengan depresiasi rupiah di tahun 1998.
"Pelemahan rupiah tahun ini dibandingkan 1998 yang anjloknya 80 persen dari Rp 2.500 secara tiba-tiba ya sangat jauh ya. Selain itu, waktu itu juga tidak ada kenaikan gaji sehingga daya beli masyarakatnya menurun dan harga-harga melonjak tinggi," ujar David kepada Kompas.com, Selasa (4/9/2018).
Menurut David, meski ada pelemahan rupiah, tahun ini diiringi dengan kenaikan gaji dan harga kebutuhan cukup terjaga.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memaparkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dengan kodisi ditahun 1998. Tahun 1998, krisis ekonomi Indonesia diawali krisis mata uang bath Thailand. Krisis diperburuk dengan pengelolaan utang luar negeri swasta yang tidak berhati-hati.

Selain itu penggunaan utang jangka pendek sebagai pembiayaan usaha jangka panjang pada usaha domestik ikut memperparah kondisi ekonomi Indonesia.
"Krisis utang swasta tersebut yang kemudian mendorong tekanan pada rupiah di mana tingkat depresiasinya mencapai sekitar 600 persen dalam kurun waktu kurang dari setahun, dari Rp 2.350 per dolar AS menjadi Rp 16.000 per dolar AS," jelas Josua.

Josua menambahkan, pengelolaan utang luar negeri swasta pada saat ini cenderung lebih berhati-hati. Bank Indonesia (BI) juga telah mewajibkan transaksi lindung nilai bagi korporasi dalam rangka mengelola risiko nilai tukar.

Diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus angka Rp 15.029, pada Selasa (4/9/2018) malam.
Seperti dikutip dari Kursdollar.net, hingga pukul 19.20 WIB nilai tukar rupiah mencapai Rp 15.029 per dolar AS. Sebelumnya pada penutupan perdagangan, Senin (3/9/2018), menurut data Bloomberg.com, rupiah melemah ke level Rp 14.815 per dolar AS.
Bloomberg mengestimasi, Selasa (4/9/2018), kurs rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 14.780 hingga Rp 14.845 per dolar AS.

Dikutip dari bi.go.id, hingga Selasa (4/9/2018), nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.840 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Sedangkan kurs transaksi Bank Indonesia menunjukkan Rp 14.914 per dolar AS untuk kurs jual dan Rp14.766 untuk kurs beli. (TribunWow.com/ Qurrota Ayun)

Sumber dan gambar: tribunnews.com
loading...
Baca juga:
    Bagikan:
    loading...