5W1H Ramalan Rizal Ramli tentang Melemahnya Rupiah Setahun Lalu Terbukti Saat Ini

loading...
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.
Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:

Apa, Kapan, dan Siapa
Sudah sebulan nilai tukar rupiah (kurs rupiah) terhadap dolar AS terus merosot, hingga mencapai angka Rp 14.680, mendekati Rp 15.000. Rizal Ramli blak-blakan ramalannya setahun yang lalu soal rupiah anjlok terjadi saat ini.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI itu mengungkapkan ramalannya terjadi karena Pemerintah mengabaikan peringatannya.
"Saya sudah bicarakan ini sejak setahun yang lalu, pejabat pemerintah sibuk bela diri, benar kok fundamental ekonomi Indonesia kuat, baik-baik saja," ujar Rizal Ramli saat ditemui Tribun Jabar di Unpas Jalan Taman Sari No 6-8 Bandung, Jumat (31/8/2018).

Di mana, Mengapa, dan Bagaimana
Rizal mengaku dirinya telah melihat dan memperhatikan beberapa indeks perekonomian yang terjadi dua tahun terakhir, selama pemerintahan Jokowi dan Menteri Ekonomi Sri Mulyani.

Menurut Rizal, ada tiga indeks yang bisa dilihat mengapa rupiah anjlok.
Pertama, Rizal mengatakan ekonomi Indonesia sudah tiga tahun mandek, ekonomi yang biasanya tumbuh 6 persen lebih, namun selama tiga tahun terakhir ini hanya 5 persen saja.
Kedua, risiko makro ekonomi semakin tinggi, karena sumber ekonomi, daya beli, dan transaksi penjualan yang ikut merosot.
Rizal yakin hal tersebut terjadi karena pengelolaan ekonomi yang tidak hati-hati atau tidak prodan.
"Divisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan negatif, padahal seharusnya negara-negara di Asia tenggara rata-rata saat ini tengah mengalami positif," jelasnya.

Ketiga, Neraca pembayaran juga negatif. Rizal mengungkapka artinya, keseimbangan primer di APBN, apabila negatif maka negara meminjam sekedar untuk membayar bunga pinjaman saja.

Semua indikator menunjukkan negatif, neraca perdagangan, neraca transaksi, neraca pembayaran, dan primary balance.
"Ini yang kejadian sudah setahun yang lalu saya sudah ngomong lampu kuning, lampu setengah merah, kok," ujar Rizal.

Sambung Rizal mengungkapkan, akhirnya barulah Jokowi mengakui bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang sakit, transaksi perdagangan negatif, import lebih banyak dari pada export.

Sambil mengkritisi, Rizal pun menilai pemerintah terlalu banyak membantah, dan terlalu banyak memberikan keterangan palsu.
Menurutnya, hanya informasi baik saja yang disiarkan, namun informasi buruk ditutup-tutupi.
Walau demikian, Rizal mengaku sebelum meramalkan sebelumnya dirinya telah menghimpun banyak data.

Sumber dan gambar: tribunnews.com
loading...
Baca juga:
    Bagikan:
    loading...