5W1H Perbandingan Kondisi Perekonomian saat Krisis 1998, Zaman SBY dan Era Jokowi

loading...
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.
Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:

Apa, Siapa, Di mana, dan Kapan
Dewan Pakar PKPI, Teddy Gusnaidi, turut memberikan tanggapan mengenai lemahnya nilai tukar rupiah. Dilansir TribunWow.com, hal tersebut disampaikan Teddy Gusnaidi melalui laman Twitter, @TeddyGusnaidi, yang ia unggah, pada Rabu (5/9/2018).
Melalui kicauannya, Teddy Gusnaidi menjelaskan penyebab melemahnya nilai tukar rupiah.
Teddy juga mengungkapkan perbedaan kenaikan harga dolar Amerika Serikat (AS) 2018 dengan krisis moneter tahun 1998.

Mengapa dan Bagaimana
Berikut cuitan lengkap Teddy Gusnaidi mengenai hal tersebut.

"1. Harga dolar naik saat ini bukan karena ekonomi negara kita lemah, tapi karena terimbas defisit perdagangan Amerika serikat. Ditambah lagi perseteruan dagang antara Amerika & china. Soal ini bisa kalian googling untuk mendapatkan penjelasan kenapa dolar menguat terhadap rupiah.

2. Saya mau jelaskan bahwa krisis moneter tahun 1997 itu terjadi dan bisa diatasi. Tapi dolar kembali menguat hingga tembus 16.650 pada bulan juni 1998 dikarenakan terjadi kerusuhan massal dan jatuhnya rezim orde baru. Ekonomi internal tumbang pada titik rendah.

3. Jadi harus dipahami bahwa krisis moneter itu terjadi bukan karena kesalahan urus negara tapi karena terimbas masalah dunia. Negara tinggal mensiasati bagaimana kenaikan dolar tidak begitu berimbas besar pada kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.

4. Krisis ekonomi yang berdampak sangat besar pada harga-harga kebutuhan pokok saat itu karena kerusuhan dan jatuhnya rezim orde baru. Bukan lagi masalah dunia, tapi masalah internal bangsa ini. Hal tersebut tidak terjadi di rezim Jokowi. Keamanan stabil dan ekonomi stabil.

5. Begini perbandingan simpelnya.., di tahun 1996, sebelum harga dolar naik, mayoritas masyarakat hanya mampu beli rokok ketengan. Makanya di berbagai warung zaman itu, rokok Sampoerna misalnya banyak dijual ketengan. Daya beli masyarakat ada tapi terbatas.

6. Di era ini, harga dolar tinggi, tapi warung sudah jarang menjual rokok ketengan, karena masyarakat mampu membeli rokok perbungkus. Ini perbandingan yang paling mudah dan paling menyentuh kondisi riil di masyarakat. Sebelum harga dolar melonjak dan setelah harga dolar melonjak.

7. Artinya, ekonomi masyarakat di zaman orde baru sebelum krisis moneter tahun 1997, dimana harga 1 dolar masih Rp. 2000,- lebih rendah dibandingkan ekonomi masyarakat zaman sekarang yang harga 1 dolar di atas Rp. 14.000,-
8. Melonjaknya nilai tukar dolar hingga Rp.16.650,- di tahun 1998 bukan masalah eksternal tapi masalah internal. Kerusuhan massal dan jatuhnya rezim orde baru membuat ekonomi nasional anjlok hingga harga-harga kebutuhan pokok melonjak tinggi. Itu masalah utamanya.

9. Rezim Presiden Habibie, Gus dur dan Megawati berhasil menurunkan kembali nilai tukar dolar dibawah Rp. 10.000,-. tapi bukan itu yang terpenting.., yang terpenting adalah mengembalikan ekonomi negara yang anjlok pasca kerusuhan dan pergantian rezim. Dan mereka berhasil.

10. Dolar kembali bermasalah ketika kebijakan Presiden SBY melakukan impor BBM dalam jumlah besar dan melakukan subsidi BBM besar-besaran ke masyarakat, membuat neraca perdagangan Indonesia defisit sehingga dolar menembus Rp.12.000,-, ini terjadi karena keteledoran pemerintah.

11. Di zaman Jokowi, subsidi BBM dicabut, kebijakan-kebijakan era SBY yang melemahkan perekonomian nasional diperbaiki sehingga ekonomi masyarakat kembali menguat dan perekonomian negara sehat. Kenaikan dolar saat ini terjadi karena persoalan eksternal, bukan seperti di zaman SBY

12. Walau harga dolar naik karena masalah eksternal, tapi tdk berpengaruh besar seperti pasca kerusuhan & jatuhnya rezim orde baru, karena ekonomi internal sehat. Masalah eksternal ini bisa disiasati dgn perbanyak ekspor, meminimalkan impor & negosiasi pembayaran yg jatuh tempo.

13. Tahun 1998, masyarakat merasakan lonjakan kenaikan harga, bukan karena krisis yang diciptakan external, tapi karena saat itu kondisi ekonomi negara rapuh ditambah terjadi kerusuhan dan tumbangnya rezim orde baru.

14. Siapapun Presidennya, pasti harga dolar akan seperti sekarang ini, kecuali Presidennya bisa menghentikan perang dagang antar negara-negara besar. Yang dilihat itu adalah apakah ekonomi negara ini sehat atau tidak. Kalau sehat, gak begitu pengaruh besar kenaikan harga dolar.

15. Jadi kalau ada yang teriak-teriak kenaikan harga dolar karena salah pemerintah, itu bodoh, karena ini tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Pemerintah salah kalau membiarkan ekonomi rakyat terganggu karena kerusuhan hingga stabilitas keamanan negara tidak stabil.

16. Karena kalau sampai terganggu stabilitas keamanan negara seperti tahun 1998, maka itu akan berdampak pada ekonomi internal negara ini. Itu yang menyebabkan kenaikan harga melonjak tinggi. Bukan masalah perang dagang amerika dan china.

17. Lihatlah, harga dolar sejak Jokowi menjabat di atas Rp.12.000,- hingga hari ini di atas Rp. 14.900,-, apakah harga-harga melonjak tinggi dan berimbas pada perekonomian masyarakat? tidak kan? Karena ekonomi negara ini sangat sehat dan stabil. Lalu kenapa diributkan?

18. Bakwan yang saya makan pagi tadi harganya satu Rp.1000,- saya tanya istri saya, katanya harga ini sudah dari tahun lalu. Padahal dolar tahun lalu Rp. 13.000,-. Kenapa masih sama? karena ekonomi kita sehat. Stabilitas keamanan masih terkendali dengan baik.

19. Kenaikan dolar berdampak pada perusahaan yang membayar tagihan atau membeli barang dengan dolar. Biasanya ada negosiasi bisnis karena kenaikan nilai tukar ini, agar kerjasama terus lancar. Apalagi ekonomi nasional stabil seperti sekarang, membuat negosiasi bisnis lancar.

20. Jadi dengan ekonomi masyarakat yang stabil, bisa beli rokok sebungkus, bukan lagi ketengan seperti tahun 1998, maka jika ada kenaikan harga, bukan berarti kiamat, karena tidak terlalu berimbas seperti pada tahun 1998. Selama ini ada kenaikan harga pun tidak berpengaruh besar.

21. Karena ini masalah eksternal, maka semua warga negara harus bekerjasama. Paling tidak bersama2 tetap menjaga stabilitas negara, jangan sampai terjadi huru-hara sehingga ekonomi negara rusak seperti tahun 1998. Ini yg sangat penting yg harus dilakukan kita semua sekarang ini.

22. Para pihak yang berpotensi memanfaatkan kenaikan dolar agar terjadi kerusuhan, perlu ditindak tegas. Di saat pemerintah berusaha mensikapi gejolak dunia (eksternal), mereka malah sibuk menggerogotinya agar ekonomi bangsa yang stabil menjadi terpuruk.

23. Saya pikir cukup jelas ya.. dan mari kita bekerjasama untuk membantu pemerintah. Paling tidak kita tidak memanfaatkan kenaikan dolar ini dengan tindakan yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan negara kita tercinta.

Terima kasih," tulis Teddy Gusnaidi.

Hingga Rabu (5/9/2018), data Bloomberg menyebutkan nilai tukar rupiah berada di level Rp 14.933 per dolar AS.
Data dari bi.go.id mencatat kurs transaksi BI berada di level Rp 15.002 untuk kurs jual dan Rp 14.852 untuk kurs beli.
Sedangkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level Rp 14.927per dolar AS.(TribunWow.com/ Ananda Putri Octaviani)

Sumber dan gambar: tribunnews.com
loading...
Bagikan:

loading...
loading...