5W1H Krisis 2018 Lebih Parah daripada Krisis 1998?

loading...
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.
Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:

Apa, Di mana, Kapan, dan Siapa
Ekonom dan politikus Rizal Ramli, mengkhawatirkan rupiah anjlok lebih parah dari krisis ekonomi yang terjadi pada 1998.
"Hari ini nyaris krisis finansial, sudah setengah lampu merah," ujar Rizal saat ditemuin Tribun Jabar di Kampus Unpas Jalan Taman Sari No 6-8 Bandung, Jumat (31/8/2018).

Mengapa dan Bagaimana
Menurutnya, ada perbedaan krisis pada 1998 dengan yang terjadi saat ini. Rizal kembali mengingatkan, krisis 1998 Indonesia memiliki tabungan, exportir Neto minyak bumi sebanyak 1,3 juta barel per hari.
Masih banyak memiliki kapasitas lebih dari komoditi sawit, cokelat, karet, dan sebagainya.
"Hari ini kondisinya beda. Kita sudah tidak punya tabungan lagi," tegasnya.

Kini, kata Rizal, Indonesia bukan bertindak sebagai exportir minyak bumi lagi tapi justru bertindak sebagai importir 1,1 barel per hari.
Tidak ada kapasitas lebih pada komoditi sawit, kakao, cokelat, dan lain lainnya, sehingga ketika rupiah anjlok ke angka Rp 15.000, Indonesia belum mampu melonjakkan export, tidak ada excess capacity.
"Inilah kenapa kita justru harus lebih hati-hati dibandingkan 1998, perlu cara-cara inovatif dan terobosan untuk keluar dari kondisi ini," ujar Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI itu.

Sumber dan gambar: tribunnews.com
loading...
Bagikan:

loading...
loading...