.

Contoh Teks Ulasan Film "Night Bus" (2017), Film Terbaik FFI 2017

Artikel Terbaru:
loading...
loading...
Teks Ulasan merupakan teks yang berisi suatu ulasan mengenai suatu karya. Namanya juga ulasan, di dalamnya terdapat opini-opini pribadi penulisnya. Opini itu ditulis untuk mengulas fakta yang dijadikan ulasan.
Teks Ulasan memiliki struktur:
1) Orientasi, berisi pengenalan tentang gambaran umum mengenai sebuah karya (film dan drama) yang akan diulas. Gambaran umum ini menyiapkan "latar belakang" bagi pembaca mengenai apa yang akan diulas.
2) Tafsiran, berisi gambaran detail mengenai sebuah karya (film dan drama) yang diulas, misalnya bagian-bagian dari hasil karya, keunikan, keunggulan, kualitas, dan sebagainya.
3) Evaluasi, berisi pandangan dari pengulas mengenai hasil karya yang diulas. Hal ini dilakukan setelah melakukan tafsiran yang cukup terhadap hasil karya tersebut. Pada bagran ini penulis akan menyebutkan bagian yang bernilai (kelebihan) atau bagian yang kurang bernilai (kekurangan) dari suatu karya (film dan drama).
4) Rangkuman, berisi kesimpulan dari ulasan terhadap suatu karya (film dan drama). Bagian ini juga memuat komentar penulis apakah hasil karya tersebut bernilai/berkualitas atau tidak untuk ditonton/disaksikan.

Berikut teks ulasan film "Night Bus" (2017).

Bagaimana kalau kita sudah kebelet banget ingin pulang? Apalagi kalau rindu menahun sudah tak terbendung lagi. Perjalanan apapun pasti kita tempuh, meski harus lalui jalan malam yang sangat berbahaya dan keadaan yang begitu amat sangat mencekam. Demikian yang mengemuka dari film ‘Night Bus’. Sebuah film drama thriller tentang orang-orang yang berhasrat sangat untuk pulang ke kampung halaman dengan menaiki bus malam yang melalui daerah konflik.

Film produksi Nightbus Pictures dan Kaninga Pictures dengan arahan sutradara Emil Heradi ini dibintangi sederet nama besar seperti Toro Margens, Lukman Sardi, Yayu Unru, Alex Abbad, Edward Akbar, Teuku Rifnu Wikana, Donny Alamsyah, Rahael Ketsia, Tio Pakusadewo, ada juga seniman Aceh PM Toh dan lainnya.

Film arahan Emil Heradi dan di produseri oleh Teuku Rifnu Wikana serta Darius Sinathrya ini berhasil meraih predikat sebagai film terbaik di ajang FFI 2017, menyisihkan Pengabdi Setan, Kartini, Posesif, dan Cek Toko Sebelah. Selain itu, film ini juga membawa pulang Piala Citra lewat kategori Pemeran Utama Pria Terbaik, Penata Busana Terbaik, Penata Rias Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik. Kisahnya terinspirasi dari pengalaman Teuku Rifnu Wikana ketika terperangkap selama 12 jam di dalam bus yang melakukan perjalanan ke daerah bernama Sampar pada 1999. Berdurasi lebih dari dua jam, Night Bus akan membawamu pada perjalanan yang penuh teror.

Awal film ini menyuguhkan adegan yang kocak dan menghibur dari Bagudung Hartop Sinaga, kondektur bus malam yang diperankan dengan sangat menawan oleh Teuku Rifnu Wikana yang menjadi pemeran, merangkap juga sebagai produser dan penulis skenarionya bersama Rahabi Mandra.
Adegan kocak yang dialami pemuda campuran Melayu-Batak itu, kemudian berganti dengan adegan yang mencekam dan mengerikan. Melintasi hutan sepanjang malam, teror terus terjadi tiada berhenti. Bus malam itu menuju kota Sampar yang hancur akibat konflik separatis selama bertahun-tahun.

Para penumpang bus malam itu memiliki tujuan masing-masing. Ada seorang wartawan dari ibu kota, ada seorang konglomerat alias OKB (Orang Kaya Baru) dengan perhiasan emas di mana-mana bahkan di giginya, ada pasangan muda-mudi yang ingin mencari penghidupan lebih baik dengan rencana melamar ke perusahaan tambang nasional yang kebetulan terdapat di kota itu. Ada juga seorang dokter perempuan berjilbab dengan logat asli daerah tersebut, ada seorang seniman tuna netra yang hampir sepanjang dialognya diuntaikan dalam nada, ada seorang aktivis LSM, dan ada seorang nenek dengan cucunya yang ingin menjenguk makam anaknya. Mereka sudah beberapa hari menunggu jalur dibuka setelah pecahnya konflik dan kontak senjata antara pasukan Samerka (Sampar Merdeka) dengan aparat pemerintah.

Kekerasan demi kekerasan dialami para penumpang, mulai dari tentara pemerintah, kemudian pemberontak sparatis bersenjata, yang bersimbah darah dan nyaris ditabrak, seteah itu diangkut masuk ke dalam bus. Diduga pemberontak yang sudah semaput itu (dimainkan oleh Alex Abbad) adalah salah satu anggota pasukan separatis Sampar Merdeka. Tentara pemberontak ini awalnya bersikap cukup bersahabat, terutama dengan Leyla, sang anak kecil yang dibawa neneknya, dan diberikan seutas kalung dari tali kulit dengan sebuah pesan di dalamnya. Mendadak tentara itu tiba-tiba menghunus senjata pisau ke semua penumpang dan meminta harta untuk dibawanya lari.

Sang kondektur dan supir yang merupakan kakak-beradik lalu mengambil inisiatif untuk mengenyahkan tentara itu ketika bus memasuki pos perbatasan yang dijaga ketat oleh pasukan tentara nasional. Setelah itu, adegan demi adegan baku hantam yang menegangkan plus mengerikan pun terus terjadi hampir di sepanjang film. Berawal dari konflik dengan tentara nasional sendiri, lalu dengan tentara separatis yang mereka temui ketika bus lolos dari pos perbatasan, hingga pada puncaknya para pasukan provokator yang mencegat bus di tengah kegelapan malam.

Menonton film ini, kita belajar bahwa konflik hanya menyengsarakan penduduk sipil, bahkan untuk penumpang bus antarkota sekalipun. Seperti biasa yang disiratkan dari film-film tentang perang, yang menjadi korban justru kebanyakan masyarakat sipil yang hanya ingin kedamaian dan penghidupan lebih baik di muka bumi. Meskipun dalam film ini, dikisahkan ada penyusup di dalam bus tersebut, yang sebenarnya hendak membawa pesan untuk pasukan separatis di kota yang dituju. Maka, kematian pun menghampiri satu-persatu hampir seluruh penumpang di dalamnya. Siapa saja yang tersisa, siapa saja yang selamat hingga tujuan, dan apakah pesan itu berhasil disampaikan, membuat penonton bertanya-tanya hingga akhir film.

Ada sebuah adegan yang sangat menyentuh perasaan, yaitu ketika sang seniman menampar komandan tentara ketika bus mereka dihentikan pasukan separatis dan penumpangnya dipaksa turun. Sang seniman yang memang diperankan oleh seniman asli asal Aceh, Agus Nuramal atau lebih dikenal dengan nama panggung PM Toh, menantang komandan pasukan separatis untuk membalas tamparannya sambil berkata dengan suara terbata-bata, “Anak-Anak Sampar bukan pembunuh, bukan anak-anak pendendam.” Seniman dan pendongeng asli dari Aceh, PM Toh, yang dalam film berperan sangat apik sebagai seniman tuna netra.

Teror semakin mencekam dan situasi begitu menegangkan saat bus diberhentikan oleh kelompok bandit perang yang sadis dan bengis. Nyawa dipertaruhkan, tidak ada yang tahu siapa akan bertahan hidup atau mati menjadi korban.

Night Bus menawarkan sensasi cerita yang sangat jarang kita lihat di layar lebar Indonesia. Film ini bukanlah film horor yang membuat bulu kuduk bergidik, namun juga bukan film misteri yang selalu penuh dengan teka-teki. Night Bus sebenarnya film perjalanan yang sederhana, hanya eksekusinya yang memiliki tingkatan suspense yang berlapis-lapis. Dimulai dari munculnya karakter Mahdi yang meneror para penumpang bus, sampai bertemu para pasukan bayaran yang tidak berada di pihak manapun.

Terobosan baru juga dihadirkan lewat kecanggihan visual effects dan computer generated imagery (CGI) yang sudah mulai berkembang untuk film Indonesia. Menggunakan efek visual CGI (Computer-Generated Imagery), film ini memanjakan mata penonton sepanjang perjalanan dalam bus yang memakan waktu 12 jam melewati seluk-beluk rimbunnya perbukitan Sumatera yang indah dan elok dipandang mata. Akan tetapi, keelokan itu hanya dinikmati sementara. Sebab, ketika malam menjelang, mulailah terjadi berbagai aksi yang membuat penonton menarik napas, bergidik, dan terhanyut dalam ketegangan.
Apresiasi patut disematkan pada Amrin Nugraha yang berperan penting untuk sebagai VFX artist film ini. Namun, jangan berharap muluk-muluk efek visualnya akan menyamai film Transformers atau sekelas film Hollywood lainnya.

Hal yang sangat disayangkan adalah pada cahaya gambar yang tidak konsisten secara keseluruhan. Beberapa detail gambar tidak begitu jelas karena cahaya yang redup sehingga emosi yang ditonjolkan karakter kadang tidak tersampaikan secara maksimal. Sebut saja seluruh adegan tokoh Mahdi yang berada di dalam di bus yang sebenarnya diperankan susah payah oleh Alex Abbad. Namun, kita dapat memakluminya jika memang tujuan sang pembuat film ingin benar-benar membuat suasana segelap bus malam yang melewati hutan.

Pencapaian estetis film Night Bus jarang kita temukan dalam film-film Indonesia. Sayang bila melewatkan kesempatan untuk menonton film ini.

STRUKTUR:
1) Orientasi: "Bagaimana kalau kita sudah kebelet banget..."
2) Tafsiran: "Awal film ini menyuguhkan adegan yang kocak..."
3) Evaluasi: "Night Bus menawarkan sensasi cerita yang sangat jarang..."
4) Rangkuman: "Pencapaian estetis film Night Bus..."

Sumber ulasan:
http://moviegoersmagazine.com/2017/04/review-film-night-bus-perjalanan-pulang-malam-mencekam-lalui-daerah-konflik
https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/review-film-night-bus-perjalanan-mencekam-terperangkap-12-jam-dalam-bus/

Tag: #review, sinopsis, ulasan, resensi film night bus
Artikel Lainnya:
.