5W1H Berita Tidak Diperpanjangnya Izin Usaha Hotel Alexis

Artikel Terbaru:
loading...
loading...
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.
Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:

Apa dan Di mana
Kabar tidak diperpanjangnya izin operasional Hotel dan Griya Pijat Alexis, Jakarta Utara oleh Pemprov DKI Jakarta masih menjadi perbincangan hangat publik. Hotel yang beralamat di Jl. R. E. Martadinata No.1, RT.6/RW.4, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara, DKI Jakarta ini, ditolak perpanjangan izin usahanya oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Tidak diperpanjangnya terhadap permohonan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) Alexis ini tertuang dalam surat Pemprov DKI bernomor 6866/-1.858.8.

Hotel Alexis sebelumnya disebut kebal hukum, sehingga tidak ada Gubernur DKI yang berani menutupnya. Kabar selentingan, ada orang kuat di belakang Alexis.
Namun, keputusan Anies Baswedan tidak memperpanjang izin usaha Hotel Alexis, yang dengan sendirinya berarti penutupan Hotel Alexis, membuktikan bahwa orang kuat di belakang Hotel Alexis hanya isu belaka.

Kapan dan Siapa
Lalu, siapa sebenarnya pemilik Hotel Alexis?
Secara resmi Alexis Group merupakan milik Alex Tirta dan dimanejeri oleh anaknya. Meski beredar info jika kepemilikan dari Alexis Group tidak hanya dimiliki satu orang, namun Alexis sangat identik dengan nama Alex Tirta. Pria bernama lengkap Alex Tirta Juwana Darmadji ini memang dikenal sebagai salah satu pengusaha tempat hiburan malam di Jakarta.
Selain Alexis, Alex Tirta disebut-sebut memiliki tempat hiburan malam yang tersebar di beberapa lokasi di ibu kota.
Pada tahun 2015 Alex Tirta terpilih menjadi Ketua Umum Pengprov Persatuan Bulutangkis Seluruh indonesia (PBSI) DKI Jakarta periode 2015-2019.

Siapa tokoh di balik hebohnya penutupan Alexis?
Berawal dari munculnya surat yang dikeluarkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI (PTSP). Surat permohonan tanda daftar usaha pariwisata (TDUP) yang diajukan PT Grand Ancol Hotel (pengelola Alexis), tak dapat diproses PTSP berdasarkan surat pada 27 Oktober 2017. Surat itu ditandatangani Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP DKI Jakarta, Edy Junaedi.
"Saya juga sudah laporkan ke gubernur soal tak diperpanjangnya izin usaha Hotel Alexis," kata Edy ketika dihubungi Wartakotalive.com, Senin (30/10/2017) siang.

Mengapa
Dalam suratnya, ada tiga pertimbangan Edy memilih tak memroses permohonan TDUP pengelola Hotel Alexis.
Alasan pertama, berkembangnya informasi di media massa terkait kegiatan yang tidak diperkenankan dan dilarang di usaha hotel dan griya pijat di Alexis.
Alasan kedua, seharusnya pengelola mencegah segala bentuk perbuatan melanggar kesusilaan dan melanggar hukum yang tersiar di berbagai media massa.
Alasan ketiga, pemerintah berkewajiban mengawasi dan mengendalikan kegiatan kepariwisataan dalam rangka mencegah dan menanggulangi dampak negatif bagi masyarakat luas.

Edy mengatakan, izin usaha Alexis sudah habis sejak September 2017. Sehingga, dengan tak diperpanjangnya izin, sudah seharusnya pengelola Alexis bersiap menutup usahanya.
"Sebuah usaha kan tak akan bisa berjalan tanpa izin usaha," jelas Edy.

Siapa dan Bagaimana
Siapa Edy Junaedi? Nama Edy, sudah lama disebut-sebut Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Ketika itu, tanggal 3 Juli 2015, Ahok melakukan pelantikan terhadap delapan pejabat eselon II, tujuh pejabat eselon III, dan 10 pejabat eselon IV, di Balai Kota, Jumat (3/7).
Dari kedelapan pejabat eselon II yang dilantik, dua orang Kepala Dinas (Kadis), yakni Kadis Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) Irwandi, dan Kadis Pertamanan dan Pemakaman, Ratna Diah Kurniati, mendapat sorotan khusus dari Basuki.

Basuki pernah mengungkapkan bahwa muncul masalah yang unik dari hasil tes seleksi jabatan pejabat eselon II.
Dari 140 pejabat eselon III yang mengikuti seleksi jabatan, hanya sebanyak 30 orang yang dinyatakan lulus dengan meraih nilai hampir 7.
"Yang 30 orang ini, saya kombinasikan tesnya dengan psikotes. Ternyata, dari hasil psikotes yang dilakukan, dari 30 orang tersebut, yang lulus hanya satu orang, yaitu Pak Edy Junaedi (Kepala Badan PTSP)," kata Basuki yang disambut tawa dan tepuk tangan para tamu undangan yang hadir.
Sementara, tambah Basuki, hasil psikotes 27 orang lainnya diberi penilaian "dapat dipertimbangkan."

Sementara itu, menanggapi keputusan Pemprov DKI Jakarta yang tidak memperpanjang izin usaha Hotel dan Griya Pijat Alexis, pihak Alexis buka suara.
Diwakili oleh Lina Novita dan Mochamad Fadjri, Legal & Corporate Affair Alexis Group, memaparkan enam buah poin dalam jumpa pers di Hotel Alexis, Selasa (31/10/2017).

1. Pihak Alexis mencoba memahami kebijakan Pemda DKI saat ini dan siap bekerja sama dengan pihak Pemda DKI guna mendukung setiap kebijakan Gubernur DKI.

2. Bergerak di bidang pariwisata, pihak Alexis mengklaim segala sesuatu terkait perizinan maupun operasional telah dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

3. Sampai saat ini, tidak pernah ditemukan pelanggaran, baik berupa narkoba maupun bentuk asusila di Hotel dam Griya Pijat Alexis.

4. Menyadari semua tempat usaha memiliki kelebihan dan kekurangan, pihak Alexis merasa tempat usahanya kerap diidentikan dengan tempat yang kurang baik.
Selanjutnya pihak Alexis mengatakan akan berbenah dan melakukan penataan manajemen agar dapat keluar dari stigma tersebut.
Saran dan kritik juga diterima pihak Alexis agar dapat menjadi lebih baik lagi.

5. Menghargai surat yang dikeluarkan oleh Dinas PTSP, pihak Alexis melakukan penghentian operasional Hotel dan Griya Pijat Alexis.
Hal tersebut dikarenakan belum dapat diprosesnya perpanjangan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) Hotel dan Griya Pijat Alexis.
Lina menyebutkan bahwa langkah tersebut diambil untuk menunjukkan bahwa pihak Alexis taat aturan.

6. Belum terbitnya perpanjangan TDUP tersebut dapat berujung pada penutupan usaha dan berdampak pada hilangnya mata pencaharian karyawan.

7. Pihak Alexis meminta masyarakat maupun media berhenti menghakimi secara sepihak.
"Mohon juga dilihat, bahwa selama ini kami merupakan salah satu pelaku usaha di Kota Jakarta ini, yang tidak pernah melakukan pelanggaran dalam bentuk apapun," tutur Lina.
"Perlu digaris bawahi, tidak pernah melakukan pelanggaran dalam bentuk apapun," tambahnya.

Hal tersebut dikatakan merupakan cerminan bahwa pihak Alexis merupakan pelaku usaha yang taat hukum dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan Kota Jakarta melalui pajak daerah maupun pembukaan lapangan kerja pada sektor pariwisata.

8. Pihak Alexis memohon pada pihak Pemda DKI Jakarta, dalam hal ini Dinas Perizinan, untuk dapat memberikan solusi dan jalan keluar terbaik, maupun arahan dan bimbingannya agar usahanya dalam sektor pariwisata dapat terus berjalan.
Lina mengatakan pihaknya siap melakukan pembenahan manajemen ke arah kebijakan Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

9. Terakhir, Lina mengajak seluruh masyarakat maupun media agar bersama-sama membangun Kota Jakarta lewat sektor pariwisata.

Hal tersebut dilakukan guna menjadikan Kota Jakarta sebagai satu di antara destinasi wisata favorit di Indonesia.

Sumber dan gambar: tribunnews.com

loading...
Artikel Lainnya:
.