.

5W1H Berita Echa, Si ”Putri Tidur” yang Sudah Siuman

Artikel Terbaru:
loading...
loading...
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.
Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:

Apa, Di mana, dan Siapa
Echa, si ”Putri Tidur” akhirnya siuman. Usai sepekan mendapat perawatan di rumah sakit, jam tidur Echa sudah kembali normal. Bisa makan sendiri, jalan, dan bermain media sosial. Mengaku kangen dengan sekolah, tapi masih harus menunggu hasil observasi dokter.

Siapa, Kapan dan Bagaimana
Ponsel pintar berwarna putih itu tak lepas dari genggamannya. Di sampingnya, sang ibu Siti Lili Rusita terus mendokumentasikan kegiatan anak perempuannya tersebut.
Sesekali Siti Raisa Miranda atau Echa, buah hati Lili dan Akhmad Mulyadi Noor itu, terlihat semringah. Tak tahu apa yang dilihatnya di layar handphone. ”Dia sudah bisa main medsos (media sosial) sekarang,” kata Lili tak kalah semringah kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group).

Rabu siang itu (1/11) Echa sebenarnya masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr H Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Terhitung sudah tujuh hari remaja putri 13 tahun tersebut dirawat di sana.
Tapi, kalau kemudian suasana terlihat ceria kemarin, itu disebabkan kondisi Echa yang kian membaik. Dia bukan lagi Echa si ”putri tidur” yang sempat pulas 12 hari pada 11–21 Oktober lalu. Dengan hanya sesekali bangun.

Echa mengalami kondisi tidur tak normal sejak Mei lalu. Gejala tersebut diprediksi keluarga muncul setelah setahun lalu dia mengalami kecelakaan. Namun, ketika dilakukan pemeriksaan saat itu, hasil CT scan menunjukkan, tak ada masalah pada tubuhnya.

Sekarang, selain telah siuman dan berkomunikasi dengan lancar, Echa sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan orang tua. Sebelumnya, selama ”berhibernasi”, dia tampak lemas. Tiap kali bangun, tangannya sulit digerakkan. ”(Bisa makan sendiri, Red.) itu yang menggembirakan. Terlebih, tidurnya seperti orang normal kembali,” ucap Lili kemarin.

Tidur Echa di malam hari kini rata-rata pukul 21.00 sampai pukul 07.00 WITA. Durasi tidur normal tersebut berlangsung sejak Minggu lalu (29/10). Setelah pihak rumah sakit melakukan pemeriksaan dan pengobatan dengan melibatkan tiga dokter sekaligus. ”Untuk durasi bangun tidur Echa, rata-rata lima sampai enam jam. Dan tidurnya pun tak lama lagi,” ujarnya.

Yang belum ”pulih”, Echa masih tidak mau berbicara dengan orang yang tak dikenal. Dia hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi. Dia tidak menyahut saat Radar Banjarmasin berusaha mengajak bicara. Tapi, dia tak berkeberatan dipotret. Bahkan tak lupa tersenyum. ”Kalau dengan keluarga, Echa tidak diam seperti ini. Mungkin dia malu,” kata sang ibu.

Jika berdua dengan sang ibu, Echa selalu menunjukkan keceriaan. Contohnya kemarin, Echa tampak berswafoto dengan sang ibu. Bahkan sempat pula membuat video Baby Shark Dance berdurasi 37 detik. Meski rebahan, di video berdasar lagu Pinkfong yang tengah populer itu, Echa selalu semringah. Sembari tak lupa menggoyang-goyangkan tubuh.

Lili mengungkapkan, anak ketiganya tersebut juga sudah mulai teratur merawat kebersihan tubuh setelah tertidur berhari-hari. Maklum, sejak menjadi ”putri tidur”, urusan jadwal mandinya pun ikut terganggu. Ketika itu Echa hanya bisa dibersihkan badannya di pembaringan sekaligus digantikan pakaiannya. ”Sekarang setiap pagi dan sore dia sendiri yang mau mandi dan memilih baju yang bagus,” terangnya.

Bahkan, secara blak-blakan siswi kelas VII SMPN 15 Banjarmasin itu mengungkapkan kepada sang ibu ingin pulang ke rumah. Dia kangen bermain bersama kawan-kawannya. Juga sangat merindukan sekolahnya. ”Echa ngomong pagi tadi (kemarin pagi, Red.), dia ingin pulang dan ingin masuk sekolah pekan depan karena sudah kangen teman dan para guru,” katanya.

Tapi, keinginan untuk pulang dari rumah sakit itu tampaknya harus dipendam dulu. Sebab, hingga kemarin pihak dokter yang menangani perawatan Echa masih melakukan observasi penyakit yang dideritanya.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Moch. Ansari Saleh dokter Yuyun mengatakan, tiga dokter spesialis yang terdiri atas ahli saraf, ahli kesehatan jiwa, dan ahli anak masih melakukan observasi mendalam terhadap Echa. ”Tak mudah menyimpulkan. Hasilnya pun untuk pengobatan selanjutnya. Namun, dari serangkaian pemeriksaan sebelumnya, kondisi Echa dalam batas normal,” terangnya.

Melihat perkembangan kondisi Echa tiga hari terakhir, lanjut Yuyun, setidaknya apa yang sudah dilakukan para dokter dan perawat telah maksimal. Sebab, Echa sudah bisa makan, berjalan, dan melakukan kegiatan lain. ”Mudah-mudahan dalam waktu dekat didapat hasil observasinya,” harap dia.

Echa sudah menjalani pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) di kepala, juga elektroensefalografi (EEG) untuk memeriksa glukola gelombang tidur. Serta pemeriksaan fungsi batang otak. Hasilnya masih dalam batas normal. ”Hasil ini yang kami tunggu-tunggu. Tak enak juga berlama-lama di rumah sakit. Apalagi, ada pekerjaan juga di rumah,” ujar sang ibu.

Untuk diketahui, pengobatan Echa sudah dilakukan pihak keluarga dengan berbagai macam cara. Tak hanya melalui pengobatan medis, tapi juga nonmedis. ”Melihat kondisinya sudah mulai membaik seperti ini, tak ada rencana untuk mengobati hingga ke Pulau Jawa. Lagi pula, ongkosnya pasti mahal,” ucap Lili.

Mengapa
Dari Surabaya, spesialis saraf RSUD dr Soetomo dokter Wardah Rahmatul Islamiyah SpS menyebutkan, kondisi yang dialami Echa bisa saja merupakan akibat sindrom Kleine-Levin—atau bahasa awamnya adalah sindrom putri tidur. Orang yang mengalami sindrom itu biasanya akan tertidur lebih lama daripada orang normal. ”Bisa dua hari hingga empat minggu tanpa bangun sama sekali. Tiap-tiap orang berbeda,” ujarnya.

Jika dipaksa dibangunkan, pasien justru akan mengalami kebingungan dan linglung. Sebab, matanya memang terbuka, tapi otaknya masih dalam keadaan tidur fase satu. Atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai tidur ayam. Ketika diajak komunikasi, pasien terkesan tidak nyambung. Namun, jika periode sudah selesai, mereka akan kembali normal.

Para pengidap sindrom yang langka itu biasanya juga mengalami gangguan kognisi, nafsu makan berlebih, serta keresahan. Selain itu, orang dengan sindrom putri tidur memiliki banyak risiko kesehatan jika tidak dirawat di rumah sakit. Sebab, tidur yang lama tentu membuat asupan makanan dan cairan berkurang. Akibatnya, bisa muncul dehidrasi maupun kekurangan zat gizi.

Saat di rumah sakit, kondisi tersebut bisa disiasati dengan memberikan cairan infus. ”Tapi, untuk kasus Echa ini, saya belum bisa memastikan. Diperlukan pemeriksaan yang lebih canggih untuk memastikan,” imbuhnya.

Sumber dan gambar: jawapos.com
https://www.jawapos.com/read/2017/11/02/166074/menengok-echa-si-putri-tidur-yang-sudah-siuman
Artikel Lainnya:
.