5W1H Berita Penyiraman Air Keras ke Novel Baswedan

Artikel Terbaru:
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.

Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:
Apa, Di mana, dan Kapan
Penyidik independen KPK, Novel Baswedan disiram air keras pada 11 April 2017 saat pulang ke rumah usai salat subuh di masjid. Akibat serangan itu, Novel mengalami luka dan harus menjalani perawatan di Singapura.

Siapa
Hingga saat ini sudah ada 16 saksi yang diperiksa terkait kasus ini. Dua orang yang dicurigai itu pun diidentifikasi dari rekaman CCTV yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Polisi sudah mengecek posisi kedua orang itu saat teror terjadi. Dua orang itu hanya tertangkap rekaman CCTV tengah berada di sekitar kediaman Novel.
"Jadi kecurigaan terhadap informasi foto tidak langsung menjawab bahwa itu adalah pelaku. Hanya dia tertangkap gambarnya, tertangkap, teridentifikasi pernah ada," imbuh Boy.

Dua orang tersebut sudah diperiksa. Namun kesimpulan sementara, dua orang itu tidak terkait dengan teror Novel.

Mengapa
Polisi masih mengusut siapa pelaku penyiraman air keras ke Novel Baswedan. Polisi juga masih belum mengungkap apa motif di balik penyerangan tersebut.

Ketua KPK Agus Rahardjo sebelumnya menyebut kemungkinan besar penyerangan itu berkaitan dengan penanganan kasus korupsi e-KTP. Namun Kapolri Jenderal Tito Karnavaian tidak ingin berspekulasi terkait itu.
"Saya tidak ingin berspekulasi motifnya mengenai apa. Tapi kita akan lihat dari fakta-fakta lapangan dulu," kata Tito di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespim Polri), Jalan Raya Maribaya, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (11/4/2017).

Tito mengaku prihatin dengan kejadian itu. Dia juga telah memerintahkan Polda Metro Jaya membentuk tim khusus untuk mengusut kasus penyerangan ini.
"Saya kira ini memprihatinkan situasi seperti ini. Saya sudah perintahkan dari Polda membentuk tim khusus di-back up dari Mabes untuk mencari dan mengungkap pelakunya," ujarnya.

Bagaimana
Berikut rentetan insiden penyiraman air keras terhadap Novel seperti dituturkan oleh Kapolres Jakarta Kombes Dwiyono:
Waktu salat subuh (Sekitar pukul 04.35 WIB)
Novel salat subuh di masjid Al Ikhsan. Masjid itu berjarak sekitar 30 meter dari rumahnya.

Pukul 05.10 WIB
Novel berjalan pulang ke rumahnya. Tiba-tiba ada motor dari belakang yang dinaiki dua orang mendekat. Kemudian orang yang ada di motor itu menyiramkan sesuatu ke arah Novel. Sesuatu yang belakangan diketahui sebagai air keras itu mengenai wajah Novel. Dia sempat lari menghindar, lalu dua orang yang ada di motor kabur. Dua orang yang ada di atas motor itu lalu kabur.

Sumber: detik.com
Artikel Terbaru Mapel Lainnya: