5W1H Berita Tewasnya Tiga Peserta Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala UII

Artikel Terbaru:
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Perlu diingat, bahwa setiap bagian kalimat atau paragraf bisa saja mengandung lebih dari satu unsur berita. Namun yang dimaksud di sini adalah dalam satu bagian berita (kalimat ataupun paragraf), unsur berita yang dimaksud adalah yang termaktub dalam inti kalimat atau inti paragraf.

Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:
Apa, Di mana, Kapan, Siapa
Lagi, kematian akibat kekerasan yang dilakukan oleh senior kepada yuniornya terjadi di lembaga pendidikan. Syaits Asyam dan dua orang temannya, Ilham Nurpadmy Listia Adi dan Muhammad Fadhli, meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dasar (diksar) Mapala UII tanggal 13-20 Januari 2017 di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Mengapa dan Bagaimana
Salah satu peserta kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Unisi 'The Great Camping' (TGC) di Tawangmangu, 13-20 Januari lalu mengisahkan, selama proses Diksar, 37 peserta dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing beranggotakan 7-8 orang.
Tiap kelompok dibina oleh tiga senior.
"Saya kebetulan satu kelompok dengan Ilham Nurpadmy Listia Adi dan Syaits Asyam," tutur mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) angkatan 2015 yang identitasnya dirahasiakan, Rabu (25/1/2017).
Saat di pelatihan, ia mengaku tidak kenal dengan tiga senior yang membina kelompoknya.
"Saya enggak tahu nama seniornya, karena mereka emang enggak pernah mempekanalkan diri dan kita enggak berani untuk nanya juga. Kan kita cuma daftar, lalu ikut," ucapnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa panitia Diksar saat di Tawangmangu dengan panitia saat peserta mendaftarkan diri berbeda.
"Itu beda, makanya saya enggak kenal. Saya enggak kenal juga dengan yang namanya mas Yudhi. Saya juga enggak ngerti kok Syaits itu bisa tahu Mas Yudhi, mungkin mereka sempat kenalan," imbuhnya.
Baca: 5W1H Berita Taruna STIP Tewas Dianiaya Senior
Sementara itu informasi yang dikumpulkan dari Karanganyar menyebutkan bahwa tiga korban meninggal, yakni Ilham Nur Fadmy Listia Adi, Syaits Asyam, Muhammad Fadli tiga hari sebelum acara selesai berniat mengundurkan diri dari acara Diksar. Alasannya, fisik mereka sudah tak kuat dan sakit. Namun entah atas dasar apa, permintaan ketiga peserta itu ditolak oleh panitia. Jadilah mereka harus tetap melanjutkan Diksar hingga hari terakhir.

Niat mereka mengundurkan diri inilah yang rupanya membuat beberapa oknum panitia tak suka dan menaruh "dendam". Saat 37 peserta dibagi-bagi kelompok kecil, dari tiga orang ini, dua di antaranya sengaja ditaruh di kelompok yang sama.
Dua mahasiswa tersebut adalah Ilham Nurpadmy Listia Adi dan Syaits Asyam. Sementara satu mahasiswa tewas lainnya, yaitu Muhammad Fadli satu kelompok dengan narasumber yang rela berbagi dengan Tribun Jogja.

Informasi dari Karanganyar tersebut juga menjelaskan bahwa, kelompok yang dua mahasiswa di dalamnya meninggal diasuh oleh senior yang bernama Yudi. Belakangan juga beredar informasi bahwa Yudi adalah mahasiswa angkatan 2011 yang sudah diwisuda pada Desember 2016.

Jumlah peserta pendidikan dasar (Diksar) Mapala Unisi The Great Camping yang menjalani rawat inap, kembali bertambah menjadi 10 orang.
UII berfokus pada pemulihan fisik peserta dan masih menggali tindak kekerasan senior kepada para peserta.
Direktur Utama RS JIH, dr Mulyo Hartana, Sp.PD membenarkan RS telah merawat 10 peserta The Great sejak Rabu (25/1/2017).
Namun RS JIH hanya menerima 32 peserta untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium yakni darah lengkap, urin, radiologi USG, CT-Scan dan rontgen thorax.
"Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa kondisi organ dalam pasien dalam keadaan sehat dan tidak ada masalah," ujar dr Mulyo pada Rabu (25/1/2017).
Hasil pemeriksaan menyebutkan, mayoritas peserta mengalami luka lecet di seluruh badan.
Beberapa di antaranya telah terinfeksi, nafsu makan turun, diare, infeksi saluran nafas, lemas, dan pandangan kabur.
"10 orang memerlukan perawatan untuk observasi lebih lanjut yakni rawat inap, sedang sisanya boleh pulang dengan diminta kontrol secara periodik.

Sumber: Tribunnews.com