5W1H Perampokan/ Pembunuhan Sadis Satu Keluarga di Pulomas, Jakarta

Artikel Terbaru:
Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.

Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:

Apa
Aksi perampokan sadis terjadi di Pulomas, Jakarta Timur. Dalam aksinya, pelaku memasukkan 11 korban yang ada di rumah tersebut ke dalam kamar mandi berukuran 1,5 meter.

Di mana
Dalam kejadian di rumah mewah berlantai dua yang beralamat di Jalan Pulomas Utara Nomor 7A, Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur ini, korban ditemukan di kamar mandi pembantu seluas 1,5 meter x 1,5 meter yang terkunci, berjumlah enam orang penghuni rumah sudah meninggal, sementara lima lainnya dalam keadaan kritis.
Untuk sementara, korban dibawa ke Rumah Sakit (RS) Kartika Pulomas, Jakarta Timur. RS itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari tempat kejadian perkara (TKP).

Kapan
Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan menyebut korban pembunuhan sadis di Pulomas, Jakarta Timur, sudah disekap di kamar mandi sejak Senin (26/12/2016) sore.
Kemudian, 11 korban tersebut baru bisa dikeluarkan pada Selasa (27/12/2016) pagi.
"Para korban disekap di dalam kamar mandi berukuran kecil dari kemarin sore sampai pagi tadi," ujar Iriawan di lokasi.

Siapa
Mereka yang meninggal ialah Dodi Triono (59), Diona Arika (16), Dianita Gemma (9), dan Amelia Calista Putri (9) yang merupakan teman anak korban, serta Yanto (Sugiyanto) dan Tasrok (40) yang merupakan sopir keluarga.
Adapun korban selamat yang saat ini di rawat di RS Kartika Pulomas bernama Zanette Kalila (13) ditemukan masih hidup bersama Emi (41), Santi (22), dan Fitriani serta Windy (23) yang merupakan pembantu rumah tangga. Emi dan Santi merupakan ibu dan anak yang baru dua minggu bekerja.

Dodi Triono (59) dikenal kerabat dan tetangga sebagai pengusaha properti di Jakarta setelah mengawali karir sebagai arsitektur. Meski menjadi pengusaha, rupanya Dodi Triono juga merupakan Ketua RT 12 RW 16, di komplek Pulomas Residence, tempat rumah keduanya berada. Jarak rumah yang menjadi lokasi kejadian dan rumah kedua Dodi Triono hanya sekitar 100 meter.
"Rumah yang ini sudah dibeli dan ditinggali sejak 5 tahun lalu. Dan baru dua tahunan ini bapak dan anak-anak pindah ke rumah yang jadi lokasi kejadian itu," ujar Edi Saputri (50), karyawan Dodi Triono, saat ditemui Tribunnews.com di rumah kedua Dodi Triono, komplek Pulomas Residence.

Pantauan Tribunnews.com, rumah Dodi Triono di komplek Pulomas Residence terlihat megah dengan balkon di lantai dua. Sebuah kolam kecil terdapat di bagian belakang rumah. Edi menceritakan, majikan dan anak-anaknya pindah ke rumah di Jalan Pulomas Utara no 7A karena rumah di komplek Pulomas Residence tengah dilakukan renovasi.
Namun, terkadang Dodi Triono kerap bolak-balik untuk sekadar memantau perkembangan renovasi rumahnya hingga pernah menginap.
"Rumah yang jadi lokasi kejadian juga ada kolamnya di bagian bawah tak jauh dari ruang tengah. Di rumah itu kolamnya lebih besar dibandingkan kolam renang di dalam rumah ini," jelasnya.

Edi mengenal Dodi Triono sebagai seorang pengusaha properti yang juga mempunyai hobi mengoleksi mobil sport Completly Built Up (CBU). Dodi Triono sempat mempunyai Ferrari, Lamborghini, BMW seri sport dan Toyota Vellfire.
"Sekarang mobil-mobil sport-nya sudah dijual. Sekarang mobilnya tinggal empat, Vellfire, BMW sport, Honda Brio seri sport. Bapak biasanya pakai Honda Jazz yang abu-abu, yang ada di depan rumah tempat kejadian," paparnya.

Secara terpisah, Ketua RW 16, Gani, juga mengakui hal yang sama, bahwa korban merupakan pengusaha properti dan menjadi Ketua RT. Buat Gani, Dodi Triono merupakan salah satu orang kaya di wilayahnya.
"Pak Dodi ini Ketua RT paling kaya se-Jakarta Timur. Beliau punya Lamborghini dan beberapa mobil lainnya," ujar Gani di depan lokasi kejadian.

Mengapa
Polisi masih menyelidiki motif dan siapa pelaku yang telah berbuat sadis ini. Pelaku yang diduga berjumlah empat orang masuk rumah sekitar jam 3 sore, Senin (26/12/2016). Secara kasat mata, motif pembunuhan belum bisa dipastikan karena tidak ada barang yang hilang.
Baca: 5W1H Tak Sampai 48 Jam, Pelaku Perampokan di Pulomas Berhasil Ditangkap

John Siregar, pengacara korban penyekapan hingga tewas di Jalan Pulomas Utara--Dodi Triyono-- menduga pelaku tindakan keji itu bukan orang dekat (keluarga). Bahkan, dia yakin pelaku pembunuhan bukan dua mantan istri Dodi yang telah diceraikan. Pasalnya, John tahu benar Dodi telah menunaikan kewajiban gono-gininya kepada dua mantan istrinya.
"Saya yang mengurus cerainya, gono-gininya sudah dibayar semua. Sampai belasan miliar dibayarkan," kata John Siregar di lokasi, Selasa (27/12/2016) malam.

Meski sudah tidak hidup satu rumah lagi, jelas John, para mantan istri Dodi masih dinafkahi setiap bulannya. Perlakuan baik juga muncul dari mantan mertuanya.
"Sama mertuanya saja baik banget, sudah pisah juga. Mana ada si orang sudah cerai sama mertua masih bisa baik," katanya.

Meski demikian, pengacara Dodi yakin pasti ada motif lain dalam pembunuhan ini. Sebab, semasa hidupnya, kliennya itu dikenal baik di lingkungan pergaulannya. Terlebih lagi, tidak ditemukan bahwa ada barang-barang berharga milik korban yang hilang. Dengan begitu, ia berkesimpulan bahwa kasus ini bukan perampokan.
"Pasti ada sesuatu yang tak beres ini. Enggak mungkin orang seperti Pak Dodi begitu mudahnya dihabisin. Okelah kalau Pak Dodi ya kan, tetapi kalau anak-anaknya kan kasihan. Ada teman anaknya itu, kasihan itu," ujar Jhon.
"Seluruh Indonesia juga tahu kalau maling itu ada barang kita yang hilang. Ini kan barang tak ada yang hilang."

Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda usai menjenguk Zanette menyinggung soal adanya dendam yang melatarbelakangi kejadian tersebut. Namun, Erlinda enggan menjelaskan lebih jauh mengenai informasi yang diperolehnya itu.

Bagaimana
Pembunuhan yang diduga dilakukan kawanan perampok, Selasa (28/12/2016) dini hari dinilai tindakan keji.
Banyak yang tak habis pikir dengan kekejaman yang dilakukan oleh pelaku. Komplotan sengaja menumpuk 11 orang di dalam sebuah kamar mandi berukuran 2 x 1 meter.
Lutfi (34) yang turut mengevakuasi korban menuturkan betapa menyeramkannya pemandangan yang ia saksikan saat pintu kamar mandi berhasil dibuka.
"Orang-orang ditumpuk sudah kayak barang saja. Sebagian tergencet dan meninggal. Darah bercucuran di lantai kamar mandi," jelasnya ditemui di lokasi.

Paman salah satu korban selamat, Tengku Kevin (26), bercerita terkait kronologi peristiwa tersebut usai menjenguk Zanette di Rumah Sakit (RS) Pulomas. Ia mengatakan, kondisi rumah saat itu sedang ramai.
"Kondisi Zanette masih syok, walaupun dia (Anet) Tunawicara, tapi kami mengerti akan cerita yang disampaikan olehnya," papar Tengku.

Seorang warga di kompleks Pulomas Residence yang enggan disebutkan namanya bercerita sempat berbicara dengan korban selamat kasus ini di RS Kartika Pulomas. Korban tersebut menyampaikan ada lebih 3 orang pelaku yang datang ke rumah kedua Dodi Triono pada Senin sore. Mereka membawa senjata api dan golok. Dodi pulang ke rumah keduanya itu justru setelah para pelaku sudah berada di dalam rumahnya.
"Tadi korban yang selamat cerita, jadi waktu Pak Dodi pulang ke rumah, Pak Dodi sempat mau kabur karena waktu datang sudah ada para pelaku, tapi pas mobilnya mau keluar pagar rumah langsung dicegat sama pelaku pakai senjata api," ujarnya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda menceritakan bagaimana korban yang masih hidup bisa bertahan hidup meski disekap semalaman itu. Cerita itu disampaikan Zanette Kalila (13), salah satu korban selamat, kepada Erlinda saat dijenguk pada Selasa (27/12/2016) malam.
"Kejadiannya kan Senin (26/12/2016) sore, baru ditemukan Selasa pagi. Bayangkan mereka ditumpuk di ruangan kecil begitu sudah kayak (ikan sarden). Tapi, ananda Anet (panggilan Zanette) ini selalu berpesan, harus kena air, biar bisa selamat," kata Erlinda kepada pewarta.

Erlinda mengungkapkan, beberapa kali Zanette berusaha menguatkan anggota keluarganya yang disekap dan ditumpuk di dalam kamar mandi saat mereka semua masih hidup. Namun, karena ruangan yang sempit dan sesaknya udara di sana, beberapa di antaranya tidak dapat selamat. Bahkan, kakak kandung Zanette, Diona Arika (16), sempat memberi tanda bahwa dia tidak kuat bertahan lagi.
"Sang kakak saking dia tidak bisa bernafas, hanya bisa teriak dan menggigit tangan adiknya, seolah-olah untuk mengucapkan kalau Anet harus kuat karena dia yang bisa selamat," tutur Erlinda. "Anet (panggilan Zanette) yang selamat ini diperlakukan tidak manusiawi. Dia diceburkan di dalam bak mandi, ditodongkan dengan senjata api. Traumanya sangat luar biasa."

Rosy Herawati, ibu dari Amelia Callista (10), salah satu korban pembunuhan di rumah milik Dodi Triono (59), Jalan Pulomas Utara Nomor 7A, Jakarta Timur, terakhir berkomunikasi melalui ponsel dengan Amel pada Senin (26/12/2016) siang. Saat itu, Amel mengirim pesan singkat bahwa Dianita Gemma (9), anak Dodi yang juga menjadi korban, menangis.
"Saya tanya, 'Kenapa Gemma menangis, Kak?' ke anak saya. 'Kakak lagi di mana, kakak sedang apa sekarang'," ujar Rosy di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Selasa (27/12/2016) petang.

Balasan pesan singkat Rosy itu menjadi komunikasi terakhirnya dengan Amel. Setelah itu, Amel tidak bisa dihubungi.
"Itu langsung tiba-tiba, lho. Pas habis bilang Gemma menangis, saya balas. Itu pukul 14.00, Senin siang, sudah terputus," kata dia.

Setelah terakhir berkomunikasi pada Senin siang, Rosy sudah tidak bisa menghubungi Amel. Dia juga tidak bisa menghubungi Dodi ataupun yang lainnya pada Selasa pagi tadi.
"Saya telepon Gemma (ponsel) mati, saya telepon anak saya, Amelia, (ponsel) pun mati. Sampai di kantor, sopir-sopir saya telepon, enggak angkat," ucap dia.

Rosy juga sempat berkomunikasi dengan putri sulungnya itu pada Minggu (25/12/2016) malam sekitar pukul 22.30 WIB. Amel menanyakan hal yang sedang dilakukan ibu dan adiknya.
"Dia kalau nginep di rumah Gemma selalu komunikasi. Malam kasih info, 'Aku lagi nonton, aku lagi ini dengan Gemma'," kenang Rosy.

Diketahuinya peristiwa pembunuhan sadis ini bermula dari kecurigaan Sheila Putri. Sheila merupakan teman dari Diona Arika (16). Sheila sudah mencoba menghubungi Diona sejak Senin sore. Namun, tidak ada respons dari Diona. Padahal, keduanya berjanji akan jalan-jalan bersama. Keesokan harinya, Sheila memutuskan untuk ke rumah Diona.
"Tadi pagi (Sheila) ke sini ternyata enggak ada jawaban dan pintu tidak terkunci. Sampai dia masuk ke dalam, ada rintihan di kamar mandi. Karena cewek, dia takut, berlari, langsung ke mencari bantuan ke sekuriti," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono.

Setelah mengadu ke sekuriti, akhirnya diputuskan untuk melapor ke polisi yang berada di Pos Kayu Putih.
Kemudian, polisi menemani Sheila untuk mengecek keadaan di rumah Diona.
"(Ternyata) korban ada di dalam kamar mandi yang hanya ada full set ukuran satu setengah meter diisi 11 orang. Setelah dibuka oleh anggota pos kayu putih, ada 11 orang. Enam orang dibawa ke rumah sakit dan lima orang yang meninggal di TKP," kata Argo.

Argo menceritakan bagaimana di balik pintu kayu jati kamar mandi berukuran 1,5 x 1,5 meter persegi di dekat ruang makan rumah mewah itu.
"Di dalam kamar mandi itu, yang ada hanya kloset satu. Tidak ada ventilasi."

Neli, tetangga korban Dodi Triyono yang disekap dalam kamar mandi berukuran 1,5 meter x 1,5 meter, tidak mengetahui kegaduhan di rumah Dodi. Padahal, rumah Neli berada di sisi sebelah kanan rumah Dodi.
"Saya mau ambil kunci di mobil tadi pagi ada satpam ramai. Saya tanya, kenapa?" tanya Neli saat hendak keluar dari rumah.

Dodi dan keluarga menempati rumah nomor 7A. Rumah tersebut berwarna putih dengan dua lantai. Neli akhirnya baru mengetahui bila sang tetangga menjadi korban penyanderaan. Ia lalu bersama sejumlah orang masuk ke kediaman Dodi yang tidak terkunci. Pagar rumah Dodi tidak terlihat rusak. Gembok pagar pun masih terpasang.
Neli lalu menuju kamar mandi pembantu yang disebut-sebut terdengar suara rintihan manusia. Sejumlah warga mencoba mendobrak pintu kamar mandi pembantu tersebut.
"Kamar mandinya di bawah tangga, memang sempit sekali. Biasanya itu dipakai pembantu," ujarnya.

Upaya membongkar kamar mandi tidak mudah. Sedikitnya satu jam dilakukan upaya pembongkaran pintu kamar mandi.
"Sempat dicoba buka dengan linggis, tapi tidak bisa. Mungkin akhirnya digergaji, saya tidak lihat sampai selesai dibuka, saya ngeri," kata Neli yang akhirnya memilih mundur lantaran takut.

Sukino, Komandan Satpam di kawasan perumahan Pulomas menyebut, sejak Senin (26/12/2016), kediaman Dodi terlihat lengang.
"Kelihatan kosong saja dari kemarin," kata Sukino.
Sukino yang ikut membongkar pintu kamar mandi tempat penyekapan, sempat memantau kamera pengintai (CCTV) di rumah itu. Di bagian depan rumah saja, ada empat kamera yang terpasang.
"Ada empat, di luar ada dua, di dalam ada dua," katanya.

Ketika proses penyelamatan usai, laki-laki yang sudah bekerja sebagai satpam sejak 1988 sempat mencari alat perekamnya. Namun, ternyata sudah raib.
"Diangkat (diambil) perekamnya," katanya.
Dia menduga, hanya perekam itu satu-satunya barang yang tidak ada lagi di rumah tersebut. Pasalnya, tiga mobil milik Dodi masih terparkir, kuncinya pun masih ada.

Sumber: Tribunnews.com
Artikel Terbaru Mapel Lainnya: