728x90 AdSpace

06 April 2016

UNBK Perlu Ditinjau Ulang, Mengapa?

UNBK Perlu Ditinjau Ulang, Mengapa?
Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Banyumas Yoga Sugama mengatakan, pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) bagi siswa sekolah lanjutan tingkat pertama maupun atas perlu dilakukan perbaikan.
"Pada prinsipnya, UNBK memang bagus namun tetap perlu ditinjau ulang karena sekolah-sekolah yang menggelar ujian itu belum siap 100 persen," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Menurut dia, jadwal pelaksanaan UNBK untuk siswa SLTA khususnya sekolah menengah atas (SMA) dan madrasah aliyah (MA) lebih lama dibandingkan jadwal ujian nasional yang menggunakan Ujian Nasional paper based test (UN-PBT).

UNBK dilaksanakan pada 4-7 April dan 11-12 April 2016 karena dalam sehari hanya ada satu mata pelajaran yang diujikan sedangkan UN PBT hanya 4-6 April 2016.

Kendati jadwal UNBK hanya satu mata pelajaran per hari yang diujikan, ia mengatakan bahwa hal itu berdampak pada kondisi psikis siswa karena pelaksanaan ujiannya terbagi menjadi tiga sesi.
"Dapat dibayangkan bagaimana kondisi psikis siswa yang mendapat giliran untuk melaksanakan UNBK pada sesi ketiga yang digelar pada pukul dua sampai empat sore. Ada dua yang mungkin bisa terjadi yakni siswa itu dapat benar-benar mempersiapkan diri atau siswa tersebut tidak bisa konsentrasi saat mengerjakan ujian karena sudah terlalu siang," katanya.

Selain itu, kata dia, UNBK yang dilaksanakan hingga enam hari juga bisa mengganggu konsentrasi siswa yang melaksanakannya karena mereka masih mempersiapkan ujian di saat teman-temannya yang mengikuti UNPBT telah selesai ujian.

Menurut dia, UNBK yang dilaksanakan hingga enam hari dan terbagi menjadi tiga sesi dalam sehari itu bentuk dari belum siapnya sarana pendukung ujian berupa ketersediaan komputer.

Ia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada sekolah yang memiliki perangkat komputer sebanyak jumlah siswa dalam satu angkatan sehingga UNBK dilakukan secara bergilir atau dibagi menjadi tiga sesi dalam sehari.
"Padahal, prinsip ujian nasional dilaksanakan secara serentak. Kalau dilakukan secara bergilir, berarti tidak serentak," kata politikus Partai Gerindra itu.

Akan tetapi, kata dia, sekolah juga tidak mungkin menyediakan perangkat komputer sebanyak jumlah siswa yang mengikuti UNBK dan tidak mungkin pula siswa menggunakan komputer pribadi saat ujian karena di dalamnya pasti telah ada rumus-rumus atau catatan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diujikan.

Terkait hal itu, Yoga mengatakan bahwa pelaksanaan UNBK perlu ditinjau ulang hingga sekolah benar-benar siap menggelarnya secara serentak.
"Namun, kalau sekolah hendak memenuhi jumlah komputer sebanyak jumlah siswa dalam satu angkatan, hendaknya jangan sampai membebani siswa. Akan tetapi, tidak ada salahnya kalau UNBK ini diujicobakan," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, orangtua salah seorang siswa kelas XII, Purwani mengaku kasihan terhadap anaknya yang masih disibukkan dengan persiapan UNBK di saat teman-temannya yang bersekolah di SMA lain telah selesai melaksanakan UNPBT.
"Saya juga kasihan kalau dia dapat giliran melaksanakan UNBK sesi ketiga yang digelar pada siang hingga sore hari. Memang sih, tidak setiap hari, digilir, kadang sesi pertama, besoknya sesi kedua, dan sesi ketiga," katanya.

Server UNBK Diduga Berasal dari Tokyo

Server ujian nasional berbasis komputer (UNBK) diduga tidak berada di Tanah Air. Hal itu diketahui saat panitia melakukan akses untuk mengunduh naskah soal yang harus melalui beberapa tahap server di antaranya Jakarta, Singapura, hingga Tokyo, Jepang.
"Kami mengunduh soal sudah beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian. Jadi perjalanannya itu seperti yang tampak di layar monitor, kita akses masuk ke Jakarta, Singapura, Tokyo, baru kembali lagi ke sini," kata seorang panitia ujian nasional yang enggan disebutkan namanya ke Okezone, belum lama ini.

Dia menduga akses yang melalui perjalanan beberapa tahap itu akibat server tidak berada di Jakarta. Kendati demikian, proses unduh naskah ujian itu berlangsung lancar karena sudah didukung infrastruktur jaringan yang memadai.

Sementara itu, pakar telematika, Heru Sutadi, mengaku belum mengetahui pasti keberadaan server ujian nasional berbasis komputer tersebut. Menurutnya, jika server diletakkan di luar negeri akan berpengaruh pada kecepatan aksesnya.
"Ya perlu dicek kebenarannya, tapi harusnya ditaruh di Indonesia saja. Atau mungkin mereka punya alasan keamanan atau apa sehingga ditaruh di luar negeri server-nya. Kalau di luar negeri memang akses akan lebih lambat," ujar Heru, Rabu (6/4/2016).

Direktur Eksekutif ICT Institute itu menambahkan, kabar keberadaan server yang menyangkut kerahasiaan data penting di luar negeri bukan kali pertama. Sebelumnya, santer beredar kabar server e-KTP juga berada di luar negeri.
"Kabarnya begitu tapi waktu itu katanya DPR sudah cek dan memastikan server e-KTP ada di luar negeri. e-KTP datanya wajib disimpan di server dalam negeri karena ini kan menyangkut data seluruh rakyat Indonesia. Justru di luar negeri tidak terjamin (keamanannya) dan rentan disalahgunakan," tukasnya.

Dia menegaskan, server-server yang berisi data penting dan menyangkut kerahasiaan negara wajib berada di Tanah Air. Server tersebut harus terjamin keamanannya.
"Bukan berarti di dalam (negeri) aman atau tidak, atau juga di luar lebih tidak aman. Server di mana pun harus terjamin keamanannya, tapi lebih baik lagi jika di dalam negeri dan aman," tandasnya.

Kemdikbud: Server UNBK Aman di Tanah Air

Dugaan server yang digunakan dalam ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tidak berada di Tanah Air mencuat. Pasalnya, ketika panitia mengakses sistem untuk mengunduh soal-soal ujian, dia harus melalui beberapa tahap server hingga ke Tokyo, Jepang.
"Kami mengunduh soal sudah beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian. Jadi perjalanannya itu seperti yang tampak di layar monitor, kita akses masuk ke Jakarta, Singapura, Tokyo, baru kembali lagi ke sini," kata seorang panitia ujian nasional yang enggan disebutkan namanya ke Okezone, belum lama ini.

Menurut pakar telematika, Heru Sutadi, informasi tersebut perlu dicek kebenarannya. Apalagi, server-server yang berisi data penting dan menyangkut kerahasiaan negara wajib berada di Tanah Air. Server tersebut harus terjamin keamanannya.
"Bukan berarti di dalam (negeri) aman atau tidak, atau juga di luar lebih tidak aman. Server di mana pun harus terjamin keamanannya, tapi lebih baik lagi jika di dalam negeri dan aman," tukasnya.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Balitbang Kemdikbud Prof. Nizam menyanggah informasi tersebut. Dia menjamin, server yang dipakai saat UNBK berada di Indonesia.
"Kami siapkan 19 server, tersebar di beberapa kota untuk melayani 13 ribu server yang ada di sekolah-sekolah," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (6/4/2016).

Dalam konferensi pers pelaksanaan ujian nasional 2016 hari kedua, Nizam mengakui, masih ada beberapa sekolah yang mengalami gangguan server. Namun, untuk kebocoran soal hingga hacker, Kemdikbud memastikan hal tersebut tidak terjadi sehingga jika ada jawaban beredar, maka itu bukan kunci UN.
"Masalah server kadang disebabkan lantaran server yang sudah disinkronisasi diulik lagi. Kemudian di medsos diberitakan ada hacker masuk ke server UNBK sehingga soal bobol. Itu bukan server Kemdikbud. Server penyimpan soal tertutup, dan bukan berbentuk file PDF," tukasnya.

UNBK 2016 sendiri dihelat di 4.381 sekolah se-Indonesia. Sekolah penyelenggara UNBK meningkat drastis, dari sekira 500 sekolah pada kali pertama penyelenggaraannya tahun lalu.

Sumber: okezone.com
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments
Item Reviewed: UNBK Perlu Ditinjau Ulang, Mengapa? Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi