728x90 AdSpace

08 December 2015

5W1H Kesaksian Sudirman, Maroef, dan Novanto di Sidang MKD

Berita yang baik adalah berita yang lengkap informasinya, setidaknya menjawab pertanyaan 5W1H: What, where, when, who, why, how (ingat: kalau dilafalkan seperti bahasa Cina: wat wer wen, hu wai hau). Dalam B.Indonesia, lebih enak mengingatnya dengan membuat akronim: Adik Simba (Apa, DI mana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana). Apa yang diberitakan, di mana, kapan, dan mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana peristiwa itu terjadi.

Selain itu masih ada kata tanya yang lain (kata tanya turunan), misalnya berapa (diturunkan dari How, yaitu How much/ how many), dari mana (diturunkan dari Where, yaitu From where).

Berikut contoh berita yang disusun kembali berdasarkan 5W1H:
Apa, Di mana, dan Kapan
Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) telah memperdengarkan rekaman dugaan pelanggaran kode etik Ketua DPR, Setya Novanto dan memanggil pelapor Sudirman Said dan dua dari tiga pelaku dalam rekaman.
Dalam sidang perdana, Rabu (2/12/2015), MKD menghadirkan Menteri ESDM Sudirman Said sebagai terlapor. Di sidang kedua, Kamis (3/12/2015), MKD menghadirkan Presdir Freeport Maroef Syamsudin. Di sidang ketiga, Senin (7/12/2015), MKD menghadirkan Setya Novanto.
Saat sidang pertama dan kedua, MKD melakukan secara terbuka. Namun, saat sidang ketiga justru dilakukan tertutup. Kabarnya itu atas permintaan terlapor Setya Novanto yang kemudian ditindaklanjuti dengan voting para anggota MKD.

Apa, Siapa, dan Bagaimana
Dalam sidang perdana, Sudriman Said menyatakan, Setya Novanto mengondisikan permintaan saham dengan mencatut nama presiden dan wapres kepada PT Freeport Indonesia.
Selain itu, Setya juga disebut menekan Presdir PT Freeport Indonesia terkait saham.
Hal itu diungkap Sudirman berdasarkan rekaman dan transkrip pembicaraan antara Setya Novanto (SN), pengusaha M Riza Chalid (MR), dan bos PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoedin (MS).
"Kalau didengar (rekaman) secara utuh, meskipun yang mengatakan angka (saham) Riza, tapi yang mengondisikan, merespons, dan memberikan penekanan adalah Pak SN (Novanto)," jawab Sudirman, Rabu (2/12/2015).

Dalam sidang kedua, Maroef Sjamsuddin yang dicecar pertanyaan selama hampir 12 jam oleh anggota MKD, mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengerti bahwa rekaman tersebut akan dibawa ke MKD.
"Saya tidak tahu kalau dibawa ke MKD. Saya hanya berikan rekaman saja kepada Pak Sudirman Said. Tapi kalau dia ingin berikan ke MKD, saya tidak mengerti," papar Presiden Direktur PT Freeport Indonesia itu dalam persidangan MKD, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (3/12/2015)
Maroef menceritakan bahwa pada awal Oktober dirinya hanya memberikan copy rekaman kepada Sudirman Said karena dia meminta rekaman tersebut yang pada awalnya sudah diberikan dalam bentuk ringkasan.
Anggota MKD, Zainut Tauhid sebelumnya mempertanyakan kepada Maroef hal tersebut, mengingat Sudirman Said pada persidangan mengaku bahwa pelaporan rekaman sudah seizin dari Maroef Sjamsuddin.
"Oh jadi Anda (Maroef) tidak tahu ya? Soalnya kemarin pak Sudirman mengaku bahwa dia sudah izin ke Bapak, baik tidak apa-apa kalau ternyata berbeda," kata Zainut.
Zainut juga sempat mempertanyakan kepada Maroef mengenai legalitas mantan Wakil Kepala BIN tersebut dengan melakukan rekaman terhadap pembicaraan ketiganya.
Sementara Maroef menyatakan bahwa dia merekam hanya untuk pribadinya.
"Ini untuk kepentingan pribadi saya. Bukan untuk dipublikasikan, pada awalnya," jawab Maroef.

Dalam sidang ketiga, Setya Novanto menyatakan keberatan dan menolak tuduhan telah menjanjikan penyelesaian kontrak PT Freeport Indonesia.
"Dan (saya) tidak pernah meminta PT Freeport memberikan saham yang disebutnya akan diberikan kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla," tegas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu, Senin (7/12/2015).
Setya Novanto mengaku selalu mengutamakan kepentingan nasional secara transparan dan tidak pernah bertindak yang merugikan kepentingan bangsa dan negara.
"Saya, Setya Novanto tidak pernah menjanjikan suatu keputusan kepada pimpinan PT Freeport Indonesia (Maroef Sjamsoeddin)," ujarnya.
"Saya tidak pernah meminta saham dalam bentuk apapun kepada pimpinan PT Freeport. Saya dengan tegas menyatakan tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti yang dituduhkan oleh saudara pengadu Sudirman Said," Setya menambahkan.
Fakta itu juga, menurut Setya Novanto jelas-jelas telah diakui sendiri oleh Presiden Direktur PT Freeport Maroef Sjamsoeddin dalam kesaksiannya di muka persidangan MKD.
"Fakta bahwa, saya tidak pernah meminta saham PT Freeport Indonesia kepada saudara Maroef Sjamsoeddin jelas-jelas telah diakui sendiri oleh Maroef Sjamsoeddin dalam kesaksiannya di muka sidang MKD," tegasnya.
Setya Novanto juga menampik tuduhan telah memanggil Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin.
"Saya, Setya Novanto tidak pernah memanggil Pimpinan PT Freeport, melainkan saya yang diminta saudara Maroef Sjamsoeddin untuk bertemu pertama kalinya di kantor saya, di Gedung Nusantara III DPR RI," tampiknya.

Apa, Siapa, dan Kapan
Satu lagi, pelaku percakapan dalam rekaman, M. Riza Chalid, belum dipanggil.
"Kalau menurut informasi tadi pagi, Pak Riza Chalid sudah berada di luar negeri," kata Kepala Bagian Humas dan TU Ditjen Imigrasi, Heru Santosa Ananta Yudha, saat dihubungi Tribun, Jakarta, Selasa (8/12/2015). (Sumber)


Sumber:
http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/12/03/nih-transkip-lengkap-rekaman-pembicaraan-setya-novanto-riza-chalid-dan-maroef-sjamsoeddin?page=1
http://www.tribunnews.com/nasional/2015/12/07/setya-novanto-saya-tak-pernah-minta-saham-ke-freeport
http://www.tribunnews.com/nasional/2015/12/03/maroef-saya-tidak-tahu-sudirman-said-akan-melapor-ke-mkd
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments
Item Reviewed: 5W1H Kesaksian Sudirman, Maroef, dan Novanto di Sidang MKD Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi