728x90 AdSpace

15 June 2013

Guru Mengurangi Perhatian pada Keluarga Demi Tuntutan Sertifikasi

Guru Mengurangi Perhatian pada Keluarga Demi Tuntutan Sertifikasi--
Pada 14 Maret 2013, Bank Dunia meluncurkan publikasi: ”Spending More or Spending Better: Improving Education Financing in Indonesia. Publikasi itu menunjukkan, para guru yang telah memperoleh sertifikasi dan yang belum ternyata menunjukkan prestasi yang relatif sama. Benarkah? Sertifikasi merupakan 'hadiah' pemerintah bagi pengabdian guru demi kemajuan bangsa. Penghargaan tersebut jika main hitung-hitungan, tak sebanding dengan tuntutan kerja sekarang yang semakin berat. Guru kerap mengesampingkan perhatian terhadap keluarga demi menuntaskan kerjanya. Tuntutan mengajar 24 jam seminggu masih harus ditambah dengan pekerjaan lain: mempersiapkan perangkat mengajar (dilakukan di rumah sebelum mengajar), memeriksa pekerjaan rumah siswa (dilakukan di rumah sepulang sekolah), belum lagi membuat soal untuk ulangan harian, ulangan tengah semester, dan akhir semester. Beban kerja itu harus ditambah dengan menanggung empati sekian banyak siswa yang duduk di kelas akhir karena akan mengikuti ujian nasional. Tekanan 'dari luar' agar prosentase kelulusan menggembirakan (tekanan politik) merupakan beban yang memecah konsentrasi guru.

Adanya tunjangan sertifikasi tidak serta-merta mendongkrak kualitas pendidikan secara instan, masih perlu proses, dan kita harus menunggu. Publikasi Bank Dunia juga tidak harus menjadi satu-satunya tolak ukur. Mereka punya hak membuat publikasi seperti itu karena kita pun harus mewaspadai bahwa negara lain takut bangsa kita akan maju.

Masalah lain, tunjangan sertifikasi juga tidak lancar dicairkan. Guru masih harus melengkapi ini itu agar tunjangannya cair. Bagaimana bisa maksimal bekerja? Memang betul perubahan apa pun yang dilakukan, kurikulum apa pun yang diberlakukan, dan kebijakan apa pun yang hendak diambil, jika tak menyentuh perbaikan proses belajar-mengajar di kelas, akan sia-sia. Sertifikasi merupakan salah satu stimulus agar guru terpacu memperbaiki kinerjanya dan hasilnya tidak secara instan terlihat. Menilik dari berat dan banyaknya tugas guru, tunjangan sertifikasi 1 kali gaji pokok masih belum sebanding dengan pengorbanan guru mengurangi perhatiannya terhadap keluarga!!!!!

Ada ungkapan sinis yang sering saya dengar: Murid pintar karena orangtuanya, murid bodoh, maka itu karena gurunya. Sungguh guru seolah tak ada harganya.

Sekian.
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments
Item Reviewed: Guru Mengurangi Perhatian pada Keluarga Demi Tuntutan Sertifikasi Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi