728x90 AdSpace

25 May 2013

Nama Buah ini Dijadikan Kata Sandi oleh Para Koruptor

Nama Buah ini Dijadikan Kata Sandi oleh Para Koruptor--
Dalam operasionalnya, para koruptor gemar memakai bahasa-bahasa sandi agar kelakuan mereka tidak mudah tercium publik atau aparat penegak hukum. Kata-kata sandi ini terpecahkan saat penyelidikan hingga sidang kasus-kasus koruptor digelar.
Para koruptor itu ternyata senang membuat kode dengan buah-buahan, mungkin karena mereka ingin hidup 'sehat' dengan melahap 'buah-buahan' itu. Tidak heran beberapa kata sandi mengambil nama buah-buahan. Berikut ini sandi yang digunakan para koruptor dari berbagai kasus:

1. Apel
Istilah 'apel malang' dan 'apel washington' muncul dalam kasus dugaan korupsi Wisma Atlet SEA Games yang menjerat mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin, Mindo Rosalina Manullang dan tersangka Angelina Sondakh. Istilah 'apel malang' dan 'apel wahington' terungkap dalam transkrip percakapan BlackBerry Messenger antara Rosa dan Angelina Sondakh.

Dalam persidangan Rosa, kedua istilah itu kembali terucap. Mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group, Yulianis, saat bersaksi di Pengadilan Tipikor (10/8/2011) lalu juga menjelaskan istilah 'apel malang'.

Dalam percakapan BBM dengan Rosa, Angelina Sondakh menyebutkan istilah itu. "Soalnya, aku diminta 'ketua besar', lagi kepengin 'apel malang," ujar Angelina dalam percakapan dengan Rosa. Angelina juga menyebut Koster -- diduga I Wayan Koster -- meminta 'apel Malang' juga.

Menurut Yulianis, istilah apel-apel ini dipopulerkan oleh Nazaruddin. "Apel malang bisa diartikan uang lokal, dan apel washington uang dollar," kata Nazar dalam transkrip percakapan BBM-nya.

2. Semangka
Istilah ini juga muncul dari transkrip BBM yang didapatkan penyidik KPK antara terpidana kasus suap Wisma Atlet, Mindo Rosalina Manullang dengan tersangka Angelina Sondakh pada 2010 lalu.

"Ada seperti apel malang, apel washington, pelumas, semangka," kata Rosa.

Rosa mengatakan artinya ketika ditanya oleh salah satu hakim persidangan yang dipimpin hakim Dharmawati Ningsih di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2012).

"Semangka?" tanya hakim.

"Rupiah," jawab Rosa.

3. Durian
Duit Rp 1,5 miliar yang diduga sebagai uang terima kasih terhadap pejabat Kemenakertrans dibungkus dalam sebuah kardus durian. Entah kebetulan atau tidak, nama durian sebelumnya pernah muncul sebagai buah yang identik dengan suap.

Saat menangkap Sesditjen Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi (P2TK) Kemenakertrans I Nyoman Suisanaya, KPK menemukan barang bukti kardus bekas durian berisi uang Rp 1,5 miliar di ruangan lantai 2 gedung Kemenakertrans, Jl Kalibata, Jaksel, Kamis (25/8/2011).

Kardus itu dibawa oleh seorang pegawai Kemenakertrans berinisial S siang harinya dari sebuah bank. Uang tersebut berasal dari rekening milik pengusaha Dharnawati.

"S beli durian, lalu isinya dikeluarkan. Karena terlalu banyak, uangnya dimasukkan dalam kardus bekas durian itu," kata juru bicara KPK Johan Budi SP di Gedung KPK.

Nah, bukan kali ini saja durian jadi barang yang identik dengan uang terima kasih. Saat kasus Cicak vs Buaya mencuat tahun 2009, penggunaan istilah durian untuk uang suap sempat membuat heboh.

Dalam rekaman percakapan penyadapan antara Anggodo Widjojo dan Ong Yuliana Gunawan, nama mantan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga disebut-sebut menerima kiriman durian dari Yuliana. Ada yang menduga durian itu adalah uang terima kasih untuk Ritonga karena membantu Anggodo.

Namun jaksa agung saat itu, Hendarman Supandji membantahnya. Menurut dia, durian yang dikirimkan Ong Yuliana Gunawan kepada Abdul Hakim Ritonga, bukan kata sandi untuk menyebut uang, namun benar-benar buah durian yang kulitnya tajam namun buahnya manis.

"Itu durian beneran Pak," jawab Hendarman menjawab pertanyaan legislator Komisi Hukum DPR. "Beliau (Ritonga) senang durian. Saya kira semua laki-laki juga suka durian," belanya.

detik.com
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments
Item Reviewed: Nama Buah ini Dijadikan Kata Sandi oleh Para Koruptor Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi