728x90 AdSpace

13 February 2013

Kontroversi Kurikulum 2013

Kontroversi Kurikulum 2013--
KOMPAS.com - Ungkapan yang menyatakan ”ganti menteri, ganti kurikulum” tak sepenuhnya salah. Belum semua sekolah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006, kini kurikulum sudah berganti lagi dengan Kurikulum 2013. Sebelumnya juga sudah ada Kurikulum 1984 yang menekankan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Kurikulum 1994, dan Kurikulum 2004 yang dikenal dengan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Pertanyaan yang kemudian muncul, kurikulum sering berganti, tetapi mengapa cara mengajar guru di depan kelas tidak berubah? Guru tetap sebagai pusat pembelajaran (teacher centered learning), sedangkan siswa hanya pasif mendengarkan. Akhirnya, timbul kesan, perubahan kurikulum menjadi sia-sia karena tidak diikuti perubahan metode pengajaran.

”Berdasarkan pengalaman itulah, dalam penerapan Kurikulum 2013, guru mendapat pelatihan khusus,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Perubahan kurikulum pun, menurut Nuh, bukan sesuatu yang ditabukan dan dilarang. Justru kurikulum harus diubah sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.

Perubahan kurikulum dilakukan karena Kurikulum 2006 dianggap masih menimbulkan berbagai fenomena negatif, seperti beban siswa terlalu berat karena terlalu banyak pelajaran serta kurang bermuatan karakter sehingga memunculkan plagiarisme, kecurangan, perkelahian pelajar, dan berbagai persoalan lain.

Diramu dengan tantangan masa depan, seperti tantangan globalisasi, persoalan lingkungan hidup, perkembangan teknologi informasi, serta kompetensi individu yang mampu berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, serta kompetensi lain, jadilah Kurikulum 2013 yang akan diterapkan secara bertahap di SD, SMP, dan SMA.

Sebelum diterapkan, rancangan kurikulum ini diuji publik untuk mendapat masukan dan penyempurnaan. ”Semoga saja uji publik tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan betul-betul menyerap aspirasi yang berkembang di masyarakat,” kata Itje Chodidjah, pelatih guru di sejumlah sekolah.

Didiskusikan

Untuk menampung berbagai pikiran yang berkembang di masyarakat, harian Kompas beberapa waktu lalu juga menyelenggarakan diskusi terbatas dengan menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim, pelatih guru Henny Supolo Sitepu dari Yayasan Cahaya Guru, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia S Hamid Hasan, serta Guru Besar Matematika dan IPA Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto.

Dari hasil diskusi tersebut terungkap kekhawatiran, Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu bagus dalam tataran konsep dan bahasa kurikulum sangat indah, tetapi sangat buruk dalam penerapan. Ambil contoh Kurikulum 1984 yang mengharuskan siswa aktif ataupun Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi. Dengan kurikulum itu, aktivitas belajar semestinya berpusat pada siswa.

”Kenyataannya, pola mengajar guru tidak berubah. Guru tetap memberikan materi di depan kelas dan murid mendengarkan. Guru tidak bisa disalahkan karena guru tidak pernah diberikan pelatihan,” kata Henny Supolo.

Menghadapi persoalan ini, menurut Wakil Mendikbud Musliar Kasim, guru-guru akan dilatih sebelum Kurikulum 2013 diterapkan. Kemdikbud akan memilih sekitar 40.000 guru terbaik sebagai pelatih inti atau master trainer. Mereka selanjutnya melatih sekitar 350.000 guru selama enam bulan.

Penerapan kurikulum pun tidak dilakukan sekaligus, tetapi dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu pembelajaran. Pada tahun pertama, misalnya, kurikulum akan diterapkan di kelas I dan IV SD, kelas VII SMP, dan kelas X SMA. ”Jadi, dari sekitar 2,9 juta guru, tidak sekaligus semua guru dilatih,” kata Mendikbud Mohammad Nuh.

Meski demikian, pelatihan ini tetap dikritik banyak kalangan. Misalnya, tidak mudah mengubah kebiasaan guru yang selama ini menjadi ”sumber kebenaran” dengan memberikan materi di depan kelas menjadi pendorong siswa agar aktif, kreatif, dan memiliki semangat inovatif. Apalagi, latar belakang pendidikan guru di Indonesia masih sangat tidak memadai. Hanya 22,6 persen guru SD yang sarjana dan tidak sampai 28 persen guru SMP yang sarjana. Itu pun rata-rata umurnya sudah di atas 40 tahun yang tak terbiasa mendorong kreativitas siswa.

”Bagi kami, lebih baik penerapan Kurikulum 2013 ditunda,” kata Henny Supolo.

Persoalan yang mengemuka dalam Kurikulum 2013 adalah arah yang hendak dicapai melalui kurikulum ini. Dalam kompetensi lulusan, misalnya, diharapkan memiliki karakter mulia. ”Karakter mulia itu ukurannya apa? Harus lebih jelas dan tegas sehingga semua pihak bisa mengukur apakah kompetensi sudah tercapai atau belum,” kata Henny Supolo.

Pemerintah Dinilai Nekad

Meskipun pemerintah selalu menyatakan implementasi perubahan Kurikulum 2013 siap dilaksanakan Juli tahun ini, sejumlah kalangan menilai pemerintah terkesan nekad, karena persiapan yang dipaksakan dalam waktu yang singkat.

"DPR masih mempelajari rencana pemerintah yang tetap mengimplementasikan perubahan Kurikulum 2013 pada Juli nanti. Kami mengkaji anggaran kurikulum yang tidak terencana baik, yang tiba-tiba membengkak," kata Ferdiansyah, anggota Panitia Kerja (Panja) Kurikulum Komisi X DPR, Senin (11/2/2013) di Jakarta.

Menurut Ferdiansyah, Panja Kurikulum akan mencermati kebutuhan anggaran Kurikulum 2013. Pada APBN 2013, pemerintah mengalokasikan Rp 684,4 miliar. "Tapi baru-baru ini, Mendikbud bilang kebutuhan dana Rp 2,49 triliun. Tentu DPR harus tahu anggaran yang tiba-tiba membengkak itu diambil dari mana? Tidak bisa asal main geser saja, karena pemerintah yang nekad melaksanakan perubahan kurikulum dalam waktu yang singkat," ujar Ferdiansyah.

Menurut Ferdiansyah, hasil kajian Panja Kurikulum akan menjadi masukan bagi Komisi X untuk menentukan sikap soal rencana perubahan Kurikulum 2013. DPR meminta perubahan Kurikulum 2013 benar-benar memperhitungkan kemampuan dan kesiapan guru sebagai ujung tombak pelaksana kurikulum di lapangan.

Terkait implementasi Kurikulum 2013, kebingungan juga masih dihadapi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah di berbagai daerah. Dalam upaya mensosialisasikan perubahan Kurikulum 2013, kalangan guru di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, berinisiatif menggelar seminar soal kurikulum.

Sejauh ini, informasi perubahan Kurikulum 2013 yang disampaikan ke kalangan guru masih sebatas mengapa kurikulum harus berubah, apa yang diharapkan dari kurikulum itu, serta perubahan-perubahan yang esensial dari kurikulum tingkat satuan pendidikan ke kurikulm 2013 di semua jenjang sekolah.

Pertanyaan guru terkait perubahan Kurikulum 2013, juga soal nasib guru-guru yang mata pelajarannya dihilangkan. Di jenjang SMP, mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tidak lagi sebagai mata pelajaran. Penerapan di sekolah yang menerapkan TIK dinilai akan lebih optimal dibandingkan mengadakan mata pelajaran TIK.

"Guru-guru TIK tidak usah khawatir. Mereka tetap bisa diberdayakan sebagai guru di sekolah," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Penerapan Kuriklulum 2013 direncanakan di 30 persen SD kelas I dan IV, serta di semua kelas VII SMP dan kelas IX SMA/SMK. Pada Senin ini, Wakil Presiden Boediono akan mensosialisasikan Kurikulum 2013 dalam Rembuk Nasional 2013 yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan bidang pendidikan dari seluruh Indonesia yang digelar Kemendikbud.
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments
Item Reviewed: Kontroversi Kurikulum 2013 Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi