728x90 AdSpace

01 April 2012

Ketika Hati Berdesir-desir | Kutipan Bab XIII Novel Ayat-ayat Cinta

Kembali ke HOME

Lanjutan dari Bab XII

Tak terasa sudah memasuki pertengahan September. Suhu musim panas mulai turun. Paling tinggi 32 derajat celcius. Bulan Oktober nanti adalah bulan peralihan dari musim panas ke musim dingin. Si Musthafa Fathullah Said, teman Mesir satu kelas di pascasarjana yang juga sedang mengajukan proposal tesis memberitahukan, bahwa dua hari lagi aku harus ke kampus untuk ujian proposal tesis yang kuajukan. Aku terfokus pada ujian yang sangat menentukan itu. Jika proposalku ditolak maka aku harus menunggu setengah tahun lagi untuk mengajukan proposal baru.

As you sow, so will you reap! Demikian pepatah Inggris mengatakan. Seperti apa yang anda tanam, sebegitu itulah yang akan anda petik. Rasanya tidak sia-sia apa yang telah kukerjakan selama ini. Membuat jadwal ketat, bolak-balik ke National Library, ke perpustakaan IIIT di Zamalek, dan mengumpulkan bahan. Membaca literatur-literatur klasik berkaitan Ilmu Quran, berdiskusi dengan teman-teman pascasarjana. Kerja yang melelahkan. Mengantuk. Pusing. Mual. Kurang tidur. Semuanya terasa bagaikan simponi hidup yang indah setelah tim penilai yang terdiri para guru besar menerima proposal tesis yang aku ajukan. Aku jadi menulis tentang ‘Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi’. Aku memang pengagum ulama terbesar Turki abad 20 itu. Dia termasuk tokoh dunia Islam yang menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi layak disebut mujaddid umat Islam abad 20 disamping Hasan Al Banna.

Pembimbingku juga telah ditentukan yaitu Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far. Aku seperti mendapat durian runtuh sebab beliau memang profesor idolaku. Terkenal paling mudah ditemui dan paling senang dengan mahasiswa dari Asia Tenggara. Aku belum dikenal oleh beliau, tapi aku akan berusaha menjadi muridnya yang baik sehingga beliau akan mengenalku dengan baik sebagaimana Syaikh Utsman mengenalku.

Dan sebagai rasa syukur aku harus kembali memeras otak dan bekerja keras untuk menyelesaikan tesis ini. Pekerjaan yang tidak ringan, sebab aku juga harus menerjemah. Tanpa menerjemah dari mana sumber penghidupan akan aku dapatkan. Aku kembali menata peta hidup dua tahun ke depan. Aku teliti dan aku kalkulasi dengan seksama. Target-target dan cara pencapaiannya. Ada satu target yang masih mengganjal. Yaitu menikah. Aku mentargetkan saat menulis tesis aku harus menikah. Umurku sudah 26 tahun menginjak 27.

Aku mengkalkulasi kemampuan mencari dana setiap bulan. Sebelum menulis tesis aku sanggup merampungkan buku setebal 200-300 halaman setiap bulan. Itu berarti aku akan mendapat masukan sekitar 250 dollar perbulan. Dan aku hanya bisa menyisakan 100 dollar dan terkadang malah cuma 50 dollar. Setiap kali masuk toko buku aku tidak bisa menahan diri untuk membeli buku atau kitab. Ketika konsentrasiku terpusat pada menulis tesis maka kemampuanku menerjemah akan berkurang. Mungkin aku hanya akan mampu menerjemah 150-200 halaman saja perbulan. Uang yang aku terima dari bayaran menerjemah hanya cukup untuk memenuhi biaya sehari-hari. Bagaimana? Apakah akan tetap nekad menikah?

Tunggu dulu! Bang Aziz yang mengais nafkah dengan membuat tempe dan mendistribusikannya ke rumah-rumah mahasiswa itu berani menikah. Bang Aziz bercerita dengan pemasukan 150 dollar perbulan sudah berani menikah. Hidup sederhana dan menyewa rumah sederhana di kawasan Hayyu Thamin, atau jauh di Zahra sana. Apalagi jika mencari isteri mahasiswi yang kebetulan dapat beasiswa. Meskipun beasiswa tak seberapa tapi sangat membantu karena datangnya tetap.

Akhirnya kupikir dengan matang, bahwa umur tidak bisa dihargai dengan materi. Jika menemukan perempuan shalihah dan mau menerima diriku seutuhnya dan siap hidup berjuang bersama, dalam suka dan duka, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyempurnakan separo agama. Kutetapkan tahun ini bisa menikah, tapi tidak mencari. Lho bagaimana? Siapa tahu ada yang menawari. Kalau sampai selesai magister tidak ada yang menawari ya berarti memang nasibku tidak menikah di Cairo dengan mahasiswi Al Azhar. Mungkin nasibku adalah menikah di Indonesia, dengan seorang akhwat berjilbab yang ghirah keislamannya bagus, yang ada di UI, atau di UGM, atau di UNDIP, atau di UNS. Atau malah gadis dari pesantren yang masih sangat virgin. Atau, tak tahunya anak tetangga sendiri, teman gebyuran di sungai waktu kecil. Jadi tidak asing lagi, sejak kecil sudah sama-sama tahu.

Aku jadi teringat puisiku sendiri, yang kutulis jelek sekali di buku harian suatu malam di musim semi setahun yang lalu:
Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku

Seorang perempuan shalihah yang akan jadi bidadariku, yang akan aku cintai sepenuh hati dalam hidup dan mati, yang akan aku harapkan jadi teman perjuangan merenda masa depan, dan menapaki jalan Ilahi, itu siapa? Aku tak tahu. Ia masih berada dalam alam ghaib yang belum dibukakan oleh Tuhan untukku. Jika waktunya tiba semuanya akan terang. Hadiah agung dari Tuhan itu akan datang.

* * *

Di layar TV Channel 2 ada pengumuman nama-nama orang hilang, lengkap dengan data singkat, ciri-ciri dan fotonya. Nama yang terakhir di tampilkan adalah Noura binti Bahadur Gonzouri, lengkap dengan fotonya. Saat itu pukul setengah sepuluh malam. Kami satu rumah kaget.

Si Muka Dingin Bahadur rupanya masih mencari Noura untuk ia jual kepada serigala-serigala berwajah manusia. Kami satu rumah cemas jika urusannya akan sampai kepada polisi dan menyeret Syaikh Ahmad. Dingin Bahadur punya hubungan dengan seorang pembesar di bagian intelijen keamanan negara urusannya benar-benar bisa merepotkan. Saat itu juga aku menelpon Syaikh Ahmad. Beliau minta aku tenang saja dan tidak usah kuatir. Noura sedang berada di pintu gerbang kemerdekaan dan kebahagiaannya. Besok pagi setelah shalat shubuh beliau akan menjelaskan semuanya.

Usai shalat shubuh, Syaikh Ahmad menjelaskan kepadaku bahwa masalah Noura sedang ditangani diam-diam oleh Ridha Shahata, saudara sepupunya yang bertugas di bagian intelijen keamanan negara. Ridha Shahata menemukan informasi berharga bahwa Noura dilahirkan di sebuah rumah sakit elite di kawasan elite Heliopolis. Pada minggu yang sama Noura dilahirkan hanya ada lima bayi. Dan pada hari yang sama Noura lahir cuma ada dua bayi di sana. Yaitu dia dan bayi satunya bernama Nadia. Setelah dilacak. Nadia kini tinggal di Heliopolis, ayah dan ibunya dosen di Universitas Ains Syams. Yang sedikit aneh Nadia berkulit hitam sementara ayah dan ibunya berkulit putih. Kolonel Ridha Shahata sedang menyiapkan surat pemanggilan untuk tes DNA pada Si Muka Dingin Bahadur dan isterinya. Juga pada Nadia dan kedua orang tuanya. Sebab memang sangat mencurigakan dua bayi itu tertukar. Jika benar tertukar nanti akan dicari siapa saja perawat yang bertugas waktu itu. Tertukarnya sengaja atau tidak. Tes DNA itulah yang akan jadi bukti kuat kejelasan kasus Noura. Namun seandainya tidak terbukti ada pertukaran bayi, Noura akan tetap dilindungi. Kolonel Ridha Shahata juga telah menyiapkan bukti untuk menyeret Si Muka Dingin Bahadur ke penjara. Kolonel Ridha Shahata adalah intelijen yang sangat profesional, dia pernah menangkap seorang turis Spanyol yang ternyata adalah mata-mata Mossad.
Syaikh Ahmad meminta saya tenang. Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja. Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan untuknya jalan keluar. Aku lega.

Begitu sampai di rumah, aku mendapat telpon dari Nurul. Ia rupanya juga melihat tayangan nama orang hilang tadi malam. Ia cemas kalau Noura tertangkap dan urusannya melebar. Aku lalu menjelaskan apa yang dijelaskan Syaikh Ahmad kepadaku. Nurul merasa lega. Sebelum mengakhiri pembicaraannya dia bertanya apakah aku sudah ke tempatnya Ustadz Jalal. Kubilang sejak sakit aku belum ke mana-mana. Aku minta pada Nurul agar menyampaikan pada Ustadz Jalal permohonan maafku belum bisa ke sana. Dan aku titip pesan seandainya beliau ada waktu supaya menghubungi aku langsung. Biar aku tahu sebenarnya beliau mau minta tolong apa. Aku juga menjelaskan pada Nurul saat ini sudah konsentrasi menulis tesis. Alhamdulillah judul tesisnya sudah diterima. Nurul menyatakan rasa gembira dan senangnya.

* * *

Aku teringat ini hari Ahad. Sudah lama aku tidak tidak mengaji pada Syaikh Utsman. Aku benar-benar rindu pada beliau. Ramalan cuaca siang ini Cairo tidak terlalu panas. Hanya 30 derajat celcius. Aku berangkat setengah sebelas. Aku ingin shalat zhuhur di Shubra. Baru keluar sampai di halaman apartemen, aku dicegah oleh Maria dari atas, dari jendelanya. Dia minta agar aku tidak pergi dulu, di rumah dulu. Aku heran apa haknya melarang aku. Aku jelaskan padanya aku harus belajar qiraah sab’ah. Akhirnya dia menyuruh adiknya, Si Yousef untuk mengantar aku ke tempat aku ngaji. Aku merasa heran dengan diri sendiri, keluarga Tuan Boutros begitu baik dan besar perhatiannya kepada kami. Hari itu Yousef mengantar aku sampai di depan masjid Abu Bakar Shiddiq, Shubra. Ia juga berjanji akan menjemputku pukul setengah lima sore. Aku mengucapkan terima kasih padanya.

Syaikh Utsman dan teman-teman menyambutku dengan penuh kehangatan. Kami mempraktekkan qiraah Imam Warasy dengan membaca surat Al Mujaadilah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, Ash Shaf dan Al Jumu’ah. Selesai mengaji Syaikh Utsman mengajakku masuk ke kamar beliau yang khusus disedikan oleh takmir masjid. Beliau ingin berbicara masalah khusus.
“Anakku, kau sudah sehat betul?” tanya beliau lembut.
“Alhamdulillah, Syaikh,” jawabku dengan menundukkan kepala, aku tidak berani memandang beliau. Segan.
“Alhamdulillah. Terus bagaimana dengan kuliahmu?”
“Alhamdulillah. Judul tesis magister sudah diterima Syaikh. Sekarang sedang mengumpulkan bahan lebih lengkap untuk menulis.”
“Alhamdulillah. Kau menulis tentang apa?”
“Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”
“Bagus sekali. Said An-Nursi memang ulama luar biasa yang harus dikaji kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Lantas siapa pembimbingmu?”
“Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far.”
“Yang tinggal di dekat masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City itu?”
“Benar Syaikh.”
“Alhamdulillah. Kau insya Allah akan mendapat bimbingan dan kemudahan dari beliau. Beliau adalah salah seorang muridku angkatan pertama. Beliau mengambil sanad dan ijazah qiraah sab’ah dariku. Nanti akan aku telpon beliau agar memberikan bimbingan terbaik kepadamu. Dan agar kamu benar-benar menjadi pembela dan penyebar agama Allah di tanah airmu kelak.” Suara Syaikh Utsman bernada optimis dan bahagia. Diam-diam aku sangat kagum pada beliau yang sangat memperhatikan semua muridnya. Beliau memang tidak mau mengambil murid terlalu banyak. Tapi yang sedikit itu benar-benar beliau curahi perhatian yang luar biasa.
“Anakku. Aku mau bertanya masalah penting padamu. Apakah kau mau menikah?”

Pertanyaan Syaikh Utsman itu bagaikan guntur yang menyambar gendang telingaku. Aku kaget. Hatiku bergetar hebat. Jika yang bertanya orang semacam Rudi, Hamdi, dan Saiful aku akan menjawabnya dengan santai, bahkan aku bisa menjawabnya dengan guyon. Tapi ini yang bertanya adalah ulama terkemuka, gurunya para guru besar di Mesir.
“Maksud Syaikh bagaimana?”
“Apakah kau mau menikah dalam waktu dekat ini. Kalau mau, kebetulan ada orang shalih datang kepadaku. Ia memiliki keponakan yang shalihah yang baik agamanya dan minta dicarikan pasangan yang tepat untuk keponakannnya itu. Aku melihat kau adalah pasangan yang tepat untuknya.”
Keringat dinginku keluar.
“Tapi aku mahasiswa miskin Syaikh, tidak punya biaya.”
“Baginda nabi dulu menikah dalam keadaan miskin. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menikah dalam keadaan miskin. Aku sendiri menikah dalam keadaan miskin. Begini Anakku, kau pikirkanlah dengan matang. Lakukanlah shalat istikharah. Gadis shalihah ini benar-benar shalihah, dia mencari pemuda yang shalih bukan pemuda yang kaya. Sekarang pulanglah, pikirlah dengan matang. Jika kau mantap dengan jawabanmu siap menikah atau tidak secepatnya datanglah kau menemuiku. Jika kau mantap, maka akan aku pertemukan kau dengan walinya dahulu, jika tidak, maka aku akan mencarikan yang lain.” Kata-kata Syaikh Utsman yang berwibawa itu merasuk dan mendesir hebat dalam jiwaku.

Sampai di rumah hatiku masih terasa bergetar atas pertanyaan sakral yang diajukan Syaikh Utsman. Jiwaku masih terasa berdesir. Apa yang beliau tawarkan bukan sembarang tawaran. Yang beliau tawarkan adalah sebaik-baik rizki bagi seorang pemuda. Adakah rizki lebih agung dari seorang gadis shalihah yang jika dipandang menyejukkan jiwa bagi seorang pemuda? Aku belum bisa mempercayai apa yang aku alami hari ini. Baru saja target dan peta hidup dibuat, tawaran untuk menikah datang sedemikian cepat. Siap. Atau tidak. Aku harus minta penerang dari Allah Swt.

Silakan lanjutkan baca di novelnya, Ayat-ayat Cinta, Novel Pembangun Jiwa....Bab XIV

Image: Google
  • Facebook Comments
  • Blogger Comments
Item Reviewed: Ketika Hati Berdesir-desir | Kutipan Bab XIII Novel Ayat-ayat Cinta Rating: 5 Reviewed By: Yadi Karnadi