Menentukan Nilai-nilai dan Konflik dalam Novel

Artikel Terbaru:
loading...
loading...
Indikator Soal : Disajikan sebuah kutipan novel, siswa dapat menentukan bukti nilai agama dalam kutipan novel tersebut.
Soal :
Bacalah kutipan novel berikut dengan saksama kemudian kerjakan dua soal di bawahnya!

(1) Teman-teman Fajar bersorak gembira. (2) Daffa terkulai lemas karena layang-layangnya putus. (3) Senja pun tiba. (4) Ketika terdengar suara adzan, anak-anak mulai membubarkan diri untuk pergi ke masjid. (5) Berita kemenangan Fajar atas Daffa semakin menambah keyakinan anak-anak desa itu bahwa layang-layang milik Fajar memang sakti. (6) Fajar menjadi semakin tinggi hati.
Bukti nilai agama terdapat pada kalimat bertanda nomor ....
A. (1) C. (4)
B. (3) D. (6)

Kunci Jawaban : C

Pembahasan :
Nilai agama adalah nilai atau ketentuan yang terdapat dalam agama yang mesti dipatuhi oleh penganutnya. Dalam cerita tersebut dapat diketahui ketaatan anak-anak untuk menjalankan salat di masjid. Bukti: Ketika terdengar suara adzan, anak-anak mulai membubarkan diri untuk pergi ke masjid.


Indikator Soal : Disajikan kutipan novel, siswa dapat menentukan bukti nilai moral novel tersebut

SOAL :

Bacalah kutipan novel berikut dengan saksama!
(1) Layang-layang Adi tiba-tiba menukik dari atas menyambar layang-layang Badu. (2) Akibatnya, ada bagian kertas layang-layang Badu yang robek. (3) Dan... ketika diadu kembali, layangan Badu pun putus. (4) Badu memandang layang-layangnya seolah-olah tidak percaya. (5) Perasaan sedih dan malu menjadi satu. (6) Akhirnya Badu mengakui kekalahannya.
Bukti nilai moral terdapat pada kalimat bernomor ...
A. (3)
B. (4)
C. (5)
D. (6)

KUNCI JAWABAN : D
PEMBAHASAN :
Berhubungan dengan afeksi: mengakui kekalahan

“Hanafi, mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosamu. Sebagai ibu yang engkau durhaka dengan lillaahitaala sudah rela mengampuni akan dikau.” Hanafi tergeletak tertawa seolah mencemooh pula, “Hai ibu, mengucap ibu dengan tulusnya barangkali ibu akan mendapatkan ilham, lalu dapat berkata dengan benar. Pada hematku ibulah juga yang banyak bersalah atas diriku.”
(Salah Asuhan, Abdul Muis)
Berdasarkan kutipan novel di atas, yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari adalah . . . .
a. seorang ibu banyak berbuat salah pada anaknya
b. seorang ibu mengampuni kesalahan anaknya
c. seorang ibu selalu didurhakai anaknya
d. seorang ibu selalu membimbing anaknya

Perkataan itu terdengar oleh sekalian isi kantor. Semua pesuruh berdiri dari bangku kedudukannya, memandang Kosim tenang-tenang. Warna muka orang muda itumerah padam, matanya bersinar-sinar. Bukan main marahnya karena ia dihinakan. Ia pun berkata dengan gagap, “Saya bu…bukan bujang, juragan.”
“Aku kepalamu, tuanmu, tahu? Kepadaku engkau minta izin jika hendak ke mana-mana dari kantor ini.”
“Keras kepala, bin… engkau! Ini manteri kabupaten, Manteri Surya, mengerti? Awas…”
Kosim gemetar, kedua bibirnya bertaut dan matanya terbelalak berapi-api. Ia melangkah menuju meja manteri dan membulatkan tinjunya.
Seketika itu juga tangannya dipegang oleh Suminta cepat-cepat lalu ia ditariknya keluar.
“Sudah Juragan Kosim,” katanya perlahan-lahan. Pergilah, ah…mana gelas itu Juragan Manteri? Saya cuci, saya beli kopi sekali?”
Surya terdiam diri, dagunya gemelutuk karena berang. Sejurus antaranya ia pun memegang pena seakan-akan hendak bekerja. Akan tetapi, tak dapat, hatinya masih berang.
Nilai tradisi dalam kutipan novel tersebut adalah…
a. Siapapun harus meminta izin bila meninggalkan ruang kerja.
b. Seorang anak buah tidak harus hormat danpatuh kepada atasan.
c. Seorang atasan harus berani dan sering menegur bawahannya.
d. Menentang perintah atasan apabila tidak berkenan di hati.

Bacalah dengan saksama!
Di Kantor Pos
Oleh: Muhammad Ali
“Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”
“Mana bisa keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.
“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yang tertulis dalam pos wesel saya.”
“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”
“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”
“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai akhirnya dengan kemalu-maluan.”Maklum banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?”
“Betul, Saya akan mengembalikannya kepada Nyonya ….”
“Nona!” sela si pegawai cepat.
Nilai Moral yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah …
a. Lebih baik mengaku salah daripada berbohong.
b. Kita harus bersikap jujur.
c. Berhati-hatilah dalam bertindak.
d. Kekeliruan merupakan hal yang wajar.

Astaga, siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Namun, hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksiku. Aku tak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai sopir taksi.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah . . . .
a. Kehati-hatian seseorang terhadap keadaan sekelilingnya.
b. Ketakutan yang timbul akibat pengalaman masa lalu.
c. Jangan berprasangka buruk hanya karena melihat penampilannya.
d. Ketidakpercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya.

Perkataan itu terdengar oleh sekalian isi kantor. Semua pesuruh berdiri dari bangku kedudukannya, memandang Kosim tenang-tenang. Warna muka orang muda itumerah padam, matanya bersinar-sinar. Bukan main marahnya karena ia dihinakan. Ia pun berkata dengan gagap, “Saya bu…bukan bujang, juragan.”
“Aku kepalamu, tuanmu, tahu? Kepadaku engkau minta izin jika hendak ke mana-mana dari kantor ini.” “Keras kepala, bin… engkau! Ini manteri kabupaten, Manteri Surya, mengerti? Awas…”
Kosim gemetar, kedua bibirnya bertaut dan matanya terbelalak berapi-api. Ia melangkah menuju meja manteri dan membulatkan tinjunya.
Seketika itu juga tangannya dipegang oleh Suminta cepat-cepat lalu ia ditariknya keluar.
“Sudah Juragan Kosim,” katanya perlahan-lahan. Pergilah, ah…mana gelas itu Juragan Manteri? Saya cuci, saya beli kopi sekali?”
Surya terdiam diri, dagunya gemelutuk karena berang. Sejurus antaranya ia pun memegang pena seakan-akan hendak bekerja. Akan tetapi, tak dapat, hatinya masih berang.
Nilai tradisi dalam kutipan novel di atas adalah…
a. Siapapun harus meminta izin bila meninggalkan ruang kerja.
b. Seorang anak buah tidak harus hormat dan patuh kepada atasan.
c. Seorang atasan harus berani dan sering menegur bawahannya.
d. Menentang perintah atasan apabila tidak berkenan di hati.

Ketika sekolah beristirahat dan datang kesempatan sebaik-baiknya untuk minta porsekot gajinya, guru Isa menjadi ragu-ragu. Timbul kebimbangan dalam hatinya. Dia takut akan merasa malu jika permintaannya ditolak oleh guru kepala. Sementara itu, hatinya gundah pula memikirkan jika tidak membawa uang, Fatimah di rumah akan mengomel kepadanya.
Dalam kutipan novel tersebut konflik terjadi antara . . . .
a. guru Isa dengan guru kepala
b. guru Isa dengan dirinya sendiri
c. guru Isa dengan Fatimah
d. guru kepala dengan Fatimah

. . . .
“Apa-apaan sih, elo? Posternya kan jadi sobek!!!”
“Sorry, Rin! Gue bener-bener nggak sengaja!”
Rinta sama sekali nggak ngegubris pembelaan Anya. Ia masih memandangi poster Blur kesayangannya yang kini sudah terbagi dua karena robek. “Rin, sorry,ya. Gue . . . .”
“Aah! Udah, deh! Pulang, sana!” potong Rinta kesal, matanya sudah sembap, hampir nangis. Anya nggak mau memperburuk keadaan. Ia pun langsung keluar dari kamar Rinta dan bergegas pulang.
Tokoh yang mengalami konflik pada kutipan cerpen Malaikat Pelindung tersebut adalah . . . .
a. Rinta dan dirinya
b. Anya dan dirinya
c. Rinta dan Anya
d. Anya dan orang lain

Pemicu konflik pada kutipan cerpen soal di atas adalah . . . .
a. hal yang sepele
b. robeknya poster Anya
c. hanya karena Rinta egois
d. robeknya poster Rinta

Sudah beberapa sore Wati datang ke pondokanku. Sore ini ia datang juga. Aku mulai curiga padanya. Yang dibicarakannya sudah bukan pelajaran melulu. Dulu terhadap Marwan pun diawali dengan hal-hal seputar pelajaran. Dugaanku tidak meleset, dia datang tidak sebagai murid. Sebagai gurunya, aku sering mengelakkan pertemuan-pertemuan dengan dia. Tetapi memang Wati gadis yang agresif. Aku makin jengkel.
. . . .
Konflik yang terdapat dalam penggalan cerpen di atas adalah . . . .
a. konflik fisik antara Wati dan Marwan
b. konflik fisik antara tokoh aku dan Wati
c. konflik batin antara Wati dan Marwan
d. konflik batin tokoh aku terhadap Wati

Indikator Soal : menentukan konflik yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut

SOAL :
Konflik yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. Seorang ibu yang berjanji tidak akan meninggalkan anaknya lagi.
B. Penyesalan seorang ibu yang telah meninggalkan anaknya.
C. Seseorang yang tak tega melihat anak terlantar.
D. Gelandangan yang ditemukan tewas di kolong jembatan.

KUNCI JAWABAN : A
PEMBAHASAN :
Konflik pada diri seorang ibu yang berkeinginan merawat kembali anak yang telah ditelantarkan. Konflik dalam cerita tersebut terjadi pada tokoh ibu dan dirinya tentang keinginannya yang belum tercapai.

Indikator Soal : Disajikan sebuah kutipan cerpen, siswa dapat menentukan konflik dalam cerpen tersebut
Soal :
Konflik yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. Teman-teman Andi semua memberi hadiah pada Tommy.
B. Andi ingin meminta uang pada ibu, tapi tidak sampai hati mengungkapkannya.
C. Sejak ayahnya meninggal, Andi harus hidup berhemat.
D. Kepuasan Andi sudah memiliki hadiah untuk Tommy.

Kunci Jawaban : B
Pembahasan :
Konflik adalah ketegangan yang terjadi dalam diri tokoh dalam suatu cerita. Bentuknya bisa konflik fisik, konflik batin, konflik ide, konflik sosial, atau konflik budaya. Konflik yang terjadi berupa konflik batin pada diri sang tokoh (Andi). Hal ini tergambar pada kalimat .... Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin.

loading...
Artikel Lainnya:
.